Komentar 'Melon' Albanese soal PM Jepang Memicu Gelombang Kritik: Diplomasi atau Lelucon Tak Senonoh?
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dilaporkan membuat lelucon bernuansa seksual tentang hadiah melon dari PM Jepang Sanae Takaichi dalam sebuah siniar.
- Oposisi Australia menuntut permintaan maaf resmi, sementara Duta Besar Jepang untuk Australia menyebut laporan tersebut tidak akurat dan menekankan suasana santai pertemuan kedua pemimpin.
- Insiden ini berpotensi menguji hubungan diplomatik Australia-Jepang yang selama ini erat, terutama di tengah dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik.

Hubungan bilateral Australia-Jepang yang selama ini solid mendadak diuji oleh sebuah lelucon yang dianggap tidak pantas. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dilaporkan membuat komentar bernada seksual saat membahas hadiah melon dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dalam sebuah siniar yang tayang awal Juli lalu. Pernyataan itu memicu kecaman dari politikus oposisi dan menimbulkan pertanyaan tentang etika diplomasi di era media sosial.
Dalam siniar yang dipublikasikan pada 3 Juli, Albanese menyebut Takaichi membawa "beberapa melon" sambil memberi isyarat dengan tangannya. Di Jepang, melon premium memang kerap dihadiahkan sebagai simbol penghormatan. Namun, konteks percakapan berubah ketika pembawa acara berkelakar bahwa Takaichi "tampil seperti Pamela Anderson", merujuk pada aktris yang dikenal dengan postur tubuhnya. Albanese kemudian menimpali, "dia membawa dua, dan keduanya indah."
Komentar tersebut langsung menuai reaksi. Surat kabar The Australian melaporkan bahwa pernyataan itu "secara luas diartikan sebagai referensi pada anatomi Takaichi." Anggota parlemen oposisi menuntut Albanese meminta maaf secara resmi kepada PM Jepang itu. Saat diinterogasi di parlemen pada Selasa lalu, Albanese menolak permintaan maaf dengan tegas, mengatakan, "Saya menolak asumsi dalam pertanyaan itu."
Di sisi lain, Duta Besar Jepang untuk Australia, Kazuhiro Suzuki, angkat bicara. Menurut laporan Australian Broadcasting Corp. (ABC), Suzuki menyatakan bahwa pemerintah Jepang "mengetahui pemberitaan media" tentang siniar tersebut. Namun, ia menegaskan, "Kami telah diberi tahu oleh pihak Australia bahwa PM Albanese tidak membuat komentar seperti yang diberitakan." Suzuki juga menambahkan bahwa makan malam yang diadakan Albanese selama kunjungan Takaichi "berlangsung dalam suasana yang sangat santai" dan Jepang percaya hal itu "membantu membangun hubungan kepercayaan pribadi antara kedua pemimpin."
Insiden ini menyoroti betapa rapuhnya komunikasi antar pemimpin di ruang publik. Bagi Indonesia, yang juga menjalin hubungan erat dengan kedua negara, kejadian ini menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak hanya soal kebijakan, tetapi juga soal menjaga kesopanan dan menghormati budaya mitra. Jepang, dengan budaya sopan santun yang tinggi, tentu sensitif terhadap lelucon semacam itu. Sementara Australia, yang dikenal dengan gaya santainya, perlu berhati-hati agar tidak menyinggung mitra strategisnya.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah insiden ini akan berdampak pada kerja sama bilateral yang selama ini berjalan mulus, terutama dalam bidang keamanan dan perdagangan. Australia dan Jepang adalah mitra penting dalam poros Indo-Pasifik, dan hubungan personal antara pemimpin sering kali menjadi perekat. Namun, jika tidak ditangani dengan bijak, lelucon yang dianggap sepele bisa meninggalkan luka yang dalam. Apakah Albanese akan mengubah sikapnya dan memberikan klarifikasi lebih lanjut? Atau akankah insiden ini mereda seiring waktu? Yang jelas, diplomasi modern menuntut ketelitian dalam setiap kata, terutama ketika menyangkut budaya dan harga diri bangsa lain.



