Mantan Bos Keidanren dan Eks Ketua Toyota, Hiroshi Okuda, Tutup Usia di 93 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Hiroshi Okuda, arsitek di balik kesuksesan Toyota Prius sebagai mobil hybrid massal pertama di dunia, meninggal dunia pada usia 93 tahun.
- Kariernya yang cemerlang mencakup posisi puncak di Toyota, kepemimpinan Keidanren, serta peran strategis dalam kebijakan ekonomi Jepang era Koizumi.
- Kepergian Okuda menandai berakhirnya era kepemimpinan visioner yang tidak hanya membentuk industri otomotif global, tetapi juga arah kebijakan ekonomi Jepang.

Hiroshi Okuda, tokoh bisnis Jepang yang pernah memimpin federasi bisnis terbesar di negara itu dan menjabat sebagai presiden serta ketua Toyota Motor Corporation, dilaporkan meninggal dunia. Kabar duka ini disampaikan oleh sumber yang mengetahui langsung, menyebutkan bahwa pria kelahiran Prefektur Mie itu menghembuskan napas terakhir pada usia 93 tahun. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kematiannya belum diungkapkan secara resmi.
Okuda dikenal luas sebagai arsitek di balik kebangkitan Toyota di era 1990-an. Ketika ia mengambil alih kursi presiden pada 1995, perusahaan otomotif asal Jepang itu tengah menghadapi persaingan ketat dari rival-rival global. Di bawah komandonya, Toyota tidak hanya memperkuat posisinya di pasar domestik, tetapi juga melakukan ekspansi agresif ke pasar internasional. Salah satu warisan terbesarnya adalah peluncuran Toyota Prius pada 1997, yang tercatat sebagai mobil hybrid massal pertama di dunia. Langkah berani ini memberikan Toyota keunggulan kompetitif di segmen kendaraan ramah lingkungan yang kini menjadi tren global.
Kiprah Okuda tidak berhenti di gerbang pabrik Toyota. Pada 1999, ia diangkat sebagai ketua perusahaan, posisi yang dipegangnya hingga 2006. Di sela-sela itu, antara 2002 dan 2006, ia dipercaya memimpin Keidanren, federasi bisnis terbesar di Jepang yang memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan ekonomi negara tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Keidanren aktif mendorong reformasi struktural dan liberalisasi pasar, sejalan dengan agenda perdana menteri saat itu, Junichiro Koizumi.
Karier Okuda juga merambah sektor publik. Ia pernah menjabat sebagai gubernur Japan Bank for International Cooperation (JBIC), lembaga keuangan milik pemerintah yang berperan dalam pembiayaan proyek infrastruktur di luar negeri. Selain itu, ia menjadi anggota sektor swasta dalam Dewan Kebijakan Ekonomi dan Fiskal di bawah Kabinet Koizumi pada awal 2000-an. Posisi-posisi ini menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak hanya terbatas pada dunia korporasi, tetapi juga merambah ke ranah kebijakan strategis negara.
Kepergian Okuda meninggalkan jejak yang mendalam, tidak hanya bagi industri otomotif Jepang, tetapi juga bagi lanskap bisnis global. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berani mengambil risiko dan memiliki visi jangka panjang. Keberhasilannya membawa Toyota menjadi pemimpin dalam teknologi hybrid menjadi studi kasus yang sering dikutip dalam literatur manajemen. Di Indonesia, warisan Okuda terasa melalui dominasi Toyota di pasar otomotif nasional, terutama dengan model-model hybrid yang kini semakin populer di tengah dorongan pemerintah untuk mengurangi emisi karbon.
Bagi Indonesia, pelajaran dari kepemimpinan Okuda relevan dalam konteks transisi energi. Ketika negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, berupaya beralih ke kendaraan listrik, pengalaman Toyota dengan Prius menunjukkan pentingnya inovasi yang berani dan dukungan kebijakan yang konsisten. Okuda membuktikan bahwa teknologi baru dapat diterima pasar jika disajikan dengan tepat, sebuah pelajaran yang mungkin masih relevan bagi para pembuat kebijakan dan pelaku industri di Tanah Air.
Dengan wafatnya Okuda, Jepang kehilangan salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di era modern. Pertanyaannya kini, siapa yang akan meneruskan warisan inovasi dan kepemimpinan visioner seperti yang ia contohkan? Di tengah persaingan global yang semakin ketat, terutama dalam industri kendaraan listrik, apakah Jepang masih mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin teknologi otomotif? Hanya waktu yang akan menjawab, namun jejak yang ditinggalkan Okuda akan terus menjadi inspirasi bagi generasi pemimpin berikutnya.



