Piala Dunia U-20 Wanita Terancam Boikot: Selandia Baru dan Prancis Tetap Tampil, UEFA Kukuh Lawan Infantino
Baca dalam 60 detik
- Selandia Baru dan Prancis memastikan keikutsertaan mereka di Piala Dunia U-20 Wanita di Polandia bulan depan, di tengah ancaman boikot UEFA terhadap FIFA.
- Konflik dipicu rencana Infantino menjual 20% hak komersial Piala Dunia senilai $4,2 miliar, yang kemudian dibatalkan, namun memicu krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA.
- Jika boikot meluas, turnamen wanita usia muda menjadi korban pertama, dengan Piala Dunia U-17 Wanita di Maroko dan kualifikasi Piala Dunia 2027 terancam.

Di tengah badai politik yang melanda FIFA, Selandia Baru dan Prancis justru mengonfirmasi keikutsertaan mereka pada Piala Dunia U-20 Wanita yang akan digelar di Polandia bulan depan. Keputusan ini menjadi penanda pertama turnamen FIFA berlangsung di bawah bayang-bayang konflik antara UEFA dan presiden FIFA, Gianni Infantino, yang memicu kekhawatiran akan pecahnya boikot besar-besaran.
Ketegangan ini bermula dari rencana Infantino yang sempat menggulirkan ide menjual 20 persen hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta untuk menggalang dana sekitar US$4,2 miliar. Meski rencana itu akhirnya dibatalkan, 55 asosiasi anggota UEFA secara bulat menyatakan dukungan terhadap boikot event FIFA. Mereka menilai langkah tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap tata kelola sepak bola global, dan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino pun runtuh.
Dalam situasi yang tidak menentu ini, juru bicara Federasi Sepak Bola Selandia Baru menegaskan kepada Reuters bahwa timnya tetap berangkat ke Polandia karena turnamen ini dianggap krusial bagi perkembangan sepak bola wanita. Prancis menjadi negara pertama yang secara resmi mengumumkan partisipasinya, sementara Inggris dan Kanada masih bungkam, dan Amerika Serikat diperkirakan tetap hadir meski enggan berkomentar.
UEFA justru semakin mengeras. Dalam pernyataannya pekan lalu, mereka menegaskan bahwa syarat-syarat yang diajukan untuk membatalkan boikot tidak dipenuhi, dan posisi mereka yang menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino tetap berlaku. Sebuah sumber yang dekat dengan konfederasi mengakui bahwa pembicaraan tentang turnamen alternatif mungkin diperlukan, namun diharapkan tidak sampai terjadi.
Dampak dari konflik ini paling terasa pada sepak bola wanita. Piala Dunia U-17 Wanita yang dijadwalkan di Maroko pada Oktober, serta kualifikasi Piala Dunia 2027 di Brasil yang melibatkan Inggris, menjadi taruhan. Jika boikot meluas, turnamen-turnamen ini bisa menjadi korban pertama, mengancam perkembangan pesepakbola muda putri di seluruh dunia.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pelajaran penting tentang tata kelola sepak bola. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dapat menarik hikmah dari krisis kepercayaan yang melanda FIFA, terutama dalam hal transparansi dan akuntabilitas. Keputusan UEFA yang berani melawan arus menunjukkan bahwa federasi nasional memiliki daya tawar jika bersatu, sebuah pelajaran yang relevan bagi upaya reformasi sepak bola Indonesia.
Polandia sebagai tuan rumah menegaskan bahwa persiapan turnamen berjalan sesuai rencana, dan mereka belum menerima informasi tentang pengunduran diri tim mana pun. Namun, ketidakpastian masih menyelimuti, dan pertanyaan besar menggantung: akankah boikot UEFA benar-benar terjadi, ataukah kompromi di menit-menit terakhir akan menyelamatkan turnamen? Yang jelas, sepak bola wanita akan menjadi barometer pertama dari arah konflik ini.



