Prabowo Kerahkan Operasi Pencegahan Karhutla: 43 Helikopter dan Modifikasi Cuaca Disiagakan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memobilisasi 43 helikopter dan 10 pesawat untuk water bombing guna memadamkan kebakaran hutan yang telah melalap 107.000 hektare lahan.
- Enam provinsi dengan lahan gambut luas menjadi prioritas penanganan, sementara BMKG menyiapkan teknologi modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan.
- Malaysia dan Singapura mulai merasakan dampak kabut asap, dengan Sarawak mencatat indeks polusi mendekati level sangat tidak sehat.

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan langkah terkoordinasi untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, seiring kekeringan dan fenomena El Nino yang meningkatkan risiko kebakaran. Perintah ini disampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Senin (10/8), yang menegaskan bahwa seluruh sumber daya, termasuk helikopter dan pesawat untuk water bombing, telah disiagakan untuk mempercepat pemadaman.
Luas area yang terbakar telah mencapai sekitar 107.000 hektare, hampir satu setengah kali ukuran Singapura. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Djahari Chaniago, dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa pemerintah telah membentuk gugus tugas lintas kementerian untuk menangani kebakaran. Operasi udara dan darat ditingkatkan secara paralel, dengan fokus utama mencegah kabut asap lintas batas yang dapat mengganggu negara tetangga.
Titik api terkonsentrasi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sementara kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, menjadi salah satu yang terbesar. Di kawasan Gunung Bromo, api yang sempat melalap 550 hektare telah berhasil dipadamkan, namun muncul titik api baru di sekitar kaldera seluas 20 hektare. Upaya pemadaman melibatkan Kementerian Kehutanan, pemerintah provinsi, TNI, dan Polri, seperti dilaporkan Antara.
Untuk memperkuat penanganan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diminta menyiapkan operasi modifikasi cuaca. Teknologi ini dirancang untuk memicu hujan buatan di enam provinsi berisiko tinggi: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayah tersebut memiliki lahan gambut luas yang sangat mudah terbakar saat musim kemarau, bahkan api dapat membakar di bawah permukaan tanah dalam waktu lama.
Dampak kebakaran mulai dirasakan negara tetangga. Di Malaysia, kabut asap memburuk di Sarawak dengan 11 wilayah mencatat Indeks Polusi Udara (API) tidak sehat, dan Serian mencatat API 189, mendekati level sangat tidak sehat. Pemerintah Sarawak mengimbau warganya untuk waspada dan menghentikan aktivitas luar ruangan jika API mencapai 200. Sementara itu, Singapura melalui Badan Lingkungan Nasional (NEA) memperingatkan bahwa kondisi kering dalam sepekan ke depan dapat meningkatkan risiko kabut asap jika kebakaran berlanjut.
Bagi Indonesia, kebakaran hutan bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga ancaman ekonomi dan diplomatik. Kabut asap lintas batas dapat memicu protes dari negara tetangga dan merusak citra Indonesia di kancah internasional. Selain itu, kerugian ekonomi akibat kebakaran lahan gambut, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati dan emisi karbon, sangat besar. Langkah pemerintah yang melibatkan teknologi modifikasi cuaca menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ini, namun efektivitasnya masih perlu dievaluasi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah upaya ini cukup untuk mencegah kabut asap parah seperti yang terjadi pada 2015, yang menyebabkan kerugian miliaran dolar dan krisis kesehatan di Asia Tenggara. Dengan El Nino yang diprediksi berlanjut, pemerintah perlu memastikan kesiapan jangka panjang, termasuk pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan. Jika tidak, siklus kebakaran dan kabut asap akan terus berulang setiap musim kemarau.



