Lulu’s Lounge Kembali ke Singapura dengan Wajah Baru di Chinatown
Baca dalam 60 detik
- Lulu’s Lounge, ikon nightlife Singapura, resmi beroperasi di shophouse bersejarah Chinatown setelah vakum sejak 2017.
- Konsep bar dan restoran ini memadukan nuansa Shanghai 1930-an dengan program koktail klasik dan panggung hiburan live tanpa biaya masuk.
- Kehadirannya menandai tren kebangkitan venue hiburan premium di Asia Tenggara pasca-pandemi, berpotensi menginspirasi pelaku industri F&B di Indonesia.

Setelah absen selama beberapa tahun, Lulu’s Lounge—salah satu destinasi nightlife paling ikonik di Singapura—kini kembali hadir dengan alamat baru di kawasan Chinatown. Berlokasi di dalam Terra Southbridge Hotel, 208 South Bridge Road, lounge ini menempati shophouse warisan yang dirancang ulang dengan nuansa Shanghai era 1930-an. Bagi para penggemar hiburan malam di Asia Tenggara, kembalinya Lulu’s bukan sekadar nostalgia, melainkan sinyal bahwa industri perhotelan dan hiburan premium di kawasan ini sedang memasuki babak baru.
Desain interior yang digarap oleh Threaded Creatives dan Bernard Johnson—duo yang juga menangani venue pertama Lulu’s di Pan Pacific Singapore pada 2017—menghadirkan sentuhan berbeda. Alih-alih sekadar mereplikasi konsep lama, ruang baru ini menonjolkan identitas khas Chinatown dengan palet warna giok yang kaya, permukaan berlapis lacquer dan cermin, serta booth beludru yang mewah. Keputusan untuk tidak mengulang masa lalu justru menjadi nilai jual utama, memberikan pengalaman yang segar namun tetap mempertahankan semangat teatrikal yang menjadi ciri khas Lulu’s.
Program koktail menjadi daya tarik utama yang dipertahankan. Menu ini dikembangkan bersama Studio Ryecroft, yang didirikan oleh Bobby Carey dan Tom Hogan—dua nama yang sebelumnya terlibat dalam program bar di Manhattan, Regent Singapore, dan ATLAS. Pendekatan yang diambil adalah klasik, dengan sentuhan bahan-bahan khas Tiongkok. Misalnya, Jasmine Tea Martini yang menggunakan vermouth infused teh untuk memberikan aroma floral, atau Osmanthus and Baijiu Sour yang menyeimbangkan rasa manis dengan sentuhan gurih. Bahan-bahan seperti Buddha’s hand, long pepper, salted lemon, dan dark soy syrup sengaja dipilih untuk memperkaya profil rasa. Tersedia pula menu non-alkohol bagi mereka yang tidak mengonsumsi alkohol.
Selain koktail, Lulu’s juga menawarkan menu dim sum dan hidangan kecil ala Shanghai yang dirancang untuk dinikmati sepanjang malam. Beberapa hidangan yang patut dicoba antara lain Oscietra Caviar Siu Mai dengan topping caviar dan yuzu creme fraiche, Hong Kong Prawn Toast dengan brioche goreng renyah dan aioli cabai-lime, serta Crispy-Skin Chicken yang diawetkan selama 24 jam sebelum dimasak. Untuk hidangan berbagi, tersedia Crispy Aromatic Duck Pancakes dengan saus plum fermentasi dan Mala Grilled Fish Skewers yang terinspirasi masakan Sichuan.
Hiburan live tetap menjadi jantung dari Lulu’s. Tanpa biaya masuk kecuali untuk acara khusus, pengunjung dapat menikmati penampilan trio jazz yang membawakan lagu-lagu klasik dan kontemporer diiringi baby grand piano. Pada Rabu dan Jumat, DJ kenamaan Zouk, Jeremy Boon dan Aldrin, akan memutar musik untuk menemani malam dansa. Selain itu, terdapat tiga malam bertema: Oui Oui Cherie pada Kamis untuk ladies’ night dengan koktail dan kabaret, Cafe Bizarre pada Sabtu dengan pertunjukan burlesque dan drag, serta Encore pada Minggu yang menawarkan jazz live dan dim sum. Lulu’s buka dari Rabu hingga Minggu, tutup pada Senin dan Selasa.
Bagi pasar Indonesia, kembalinya Lulu’s Lounge memberikan gambaran tentang bagaimana venue premium dapat bertahan dan berevolusi. Tren serupa mulai terlihat di Jakarta dan Bali, di mana konsep bar dengan elemen heritage dan hiburan live semakin diminati. Kehadiran Lulu’s juga menjadi tolok ukur bagi para pelaku industri F&B di tanah air untuk berani berinovasi tanpa kehilangan identitas. Pertanyaannya, apakah akan ada yang mampu meniru kesuksesan model bisnis seperti ini di tengah persaingan yang semakin ketat? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Lulu’s telah membuktikan bahwa nostalgia bisa dikemas ulang menjadi sesuatu yang relevan dan menguntungkan.



