Syuting di Penjara Changi: Tasha Low Rela Pisah dari Ponsel Demi Totalitas Peran
Baca dalam 60 detik
- Aktris Singapura Tasha Low menjalani pengalaman syuting yang tidak biasa di balik tembok Penjara Changi untuk drama terbaru Mediacorp, Yes Captain!.
- Seluruh kru dan pemain harus menyerahkan ponsel dan syuting tanpa jam, menciptakan isolasi total yang justru memperkuat pendalaman karakter.
- Setelah hampir setahun tanpa libur, Tasha menargetkan rehat dan waktu bersama keluarga, sambil membuka peluang peran yang lebih kompleks di masa depan.

Drama terbaru Mediacorp, Yes Captain!, yang tayang perdana pada 9 Agustus lalu, menghadirkan pengalaman syuting yang tidak biasa bagi para pemainnya. Tasha Low, yang berperan sebagai petugas penjara pemula, mengungkapkan bahwa proses produksi di dalam Penjara Changi yang sesungguhnya menuntut pengorbanan besar: seluruh kru dan pemain harus menyerahkan ponsel mereka dan syuting tanpa bantuan jam. Kondisi ini, menurut Tasha, membuat mereka "hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar" selama pengambilan gambar berlangsung.
Bagi Tasha, yang selama ini dikenal lewat peran-peran manis di drama Mandarin seperti Hope Afloat dan Emerald Hill, Yes Captain! menjadi tonggak baru dalam kariernya. Ini kali pertama ia memerankan seorang petugas penjara, sebuah tantangan yang jauh dari zona nyamannya. Meski demikian, aktris berusia 32 tahun itu mengaku antusias saat mengetahui syuting akan dilakukan di lokasi asli, bukan di studio.
Dalam konferensi pers yang digelar di Penjara Changi pekan lalu, Tasha bercanda bahwa ia senang dengan penampilannya yang "keren" dalam seragam petugas. Seragam yang longgar dan nyaman, menurutnya, justru memberinya kebebasan bergerak tanpa khawatir terjadi kesalahan kostum. Namun, di balik kesan santai itu, proses syuting ternyata jauh dari kata mudah. Selain harus melepas ponsel, para pemain juga harus beradaptasi dengan suhu ruangan yang panas dan ventilasi yang buruk. Alih-alih mengeluh, Tasha justru menilai kondisi tersebut membantu para pemain untuk lebih mendalami peran masing-masing.
Fenomena syuting di lokasi asli seperti penjara sebenarnya bukan hal baru di industri hiburan. Namun, kebijakan isolasi total yang diterapkan di Changi Prison memberikan dimensi berbeda pada proses kreatif. Para aktor tidak hanya dituntut berakting, tetapi juga benar-benar merasakan atmosfer keterasingan yang dialami para narapidana. Pendekatan ini, menurut pengamat industri, dapat meningkatkan kualitas akting karena pemain tidak terganggu oleh distraksi eksternal. Di sisi lain, kebijakan ini juga menjadi tantangan logistik yang signifikan bagi tim produksi.
Bagi penonton Indonesia, kisah Tasha Low ini mungkin terasa relevan dengan tren produksi film dan serial tanah air yang semakin berani mengeksplorasi lokasi syuting ekstrem, seperti penjara atau area terpencil. Meskipun belum ada produksi sebesar Mediacorp yang melibatkan isolasi total, beberapa judul lokal seperti serial dokumenter tentang kehidupan narapidana pernah mencoba pendekatan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa industri hiburan Asia Tenggara sedang bergerak menuju standar produksi yang lebih imersif dan menuntut totalitas dari para pemainnya.
Di luar kesibukan syuting, Tasha mengaku hampir tidak punya waktu untuk beristirahat. Ia masih terlibat dalam produksi drama Mandarin lain dan belum menikmati liburan sejak Juni tahun lalu. Meski bersyukur atas tawaran pekerjaan yang terus mengalir, jadwal yang padat membuatnya jarang bertemu keluarga, bahkan kucing kesayangannya. "Memiliki pekerjaan adalah berkah, dan saya sangat bersyukur," ujarnya. Namun, ia juga mengakui sudah hampir dua bulan tidak bisa meluangkan waktu bersama ibunya, dan berharap bisa mengajaknya makan di luar begitu jadwal syuting mulai longgar.
Ke depan, Tasha berharap bisa melebarkan sayap ke peran-peran yang lebih menantang, termasuk karakter gelap atau bahkan penjahat. Keinginan ini menunjukkan ambisi artistik yang kuat di tengah kesibukannya yang padat. Pertanyaannya, apakah industri hiburan Singapura dan regional siap memberikan ruang bagi aktor seperti Tasha untuk keluar dari citra "gadis manis" yang selama ini melekat? Atau justru penonton yang akan lebih antusias melihat sisi gelap yang selama ini tersembunyi? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam proyek-proyek berikutnya.



