Meta Rilis Ray-Ban Gen 3: Harga Naik, Peningkatan Modis, Layakkah Upgrade?
Baca dalam 60 detik
- Meta resmi meluncurkan Ray-Ban Meta Gen 3 dengan banderol mulai $449, lebih mahal $70 dari generasi sebelumnya.
- Peningkatan utama terletak pada daya tahan baterai hingga 9 jam, tambahan mikrofon, dan tombol aksi serbaguna, namun sebagian besar fitur perangkat lunak juga tersedia di Gen 2.
- Bagi konsumen Indonesia, selisih harga dan keterbatasan fitur eksklusif membuat Gen 2 bekas atau model lain berpotensi menjadi opsi lebih rasional.

Meta secara resmi memperkenalkan Ray-Ban Meta Gen 3 dalam ajang Meta Connect 2026, membawa sejumlah pembaruan yang sebagian besar bersifat inkremental. Perangkat ini tetap menjadi andalan perusahaan di segmen kacamata pintar, meski tidak lagi menjadi satu-satunya produk anyar karena Meta juga meluncurkan model tanpa kamera untuk pertama kalinya. Harga jual mulai $449 atau sekitar Rp7,2 juta (asumsi kurs Rp16.000) menjadikannya $70 lebih mahal dibanding Ray-Ban Meta Gen 2.
Peningkatan paling mencolok terletak pada daya tahan baterai. Ray-Ban Meta Gen 3 diklaim mampu bertahan hingga 9 jam dalam sekali pengisian, satu jam lebih lama dari Gen 2, dan hingga 50 jam dengan casing pengisi daya, dua jam lebih lama dari 48 jam milik generasi sebelumnya. Meski demikian, selisih ini terbilang tipis jika dibandingkan dengan Ray-Ban Meta Audio yang menjanjikan 12 jam penggunaan. Bagi pengguna sehari-hari, perbedaan satu jam mungkin tidak terlalu terasa, tetapi tetap menjadi nilai tambah bagi mereka yang sering beraktivitas di luar ruangan tanpa akses pengisian daya.
Dari sisi audio, Meta menambahkan satu mikrofon ekstra sehingga total menjadi enam mikrofon. Perusahaan mengklaim tata letak mikrofon yang didesain ulang mampu meredam kebisingan latar belakang lebih baik saat panggilan atau interaksi dengan AI. Fitur ini juga membuka dukungan untuk audio spasial Dolby Atmos, baik untuk mendengarkan maupun merekam, yang rencananya baru tersedia pada akhir 2026. Namun, efektivitas peningkatan ini masih perlu diuji secara langsung untuk memastikan apakah perbedaannya signifikan dibanding Gen 2.
Meta juga membawa tombol aksi yang sebelumnya diperkenalkan pada Ray-Ban Meta Optics dan Meta Glasses ke Gen 3. Tombol ini dapat digunakan untuk memanggil Meta AI, mengambil gambar, atau sebagai pintasan berbagai fitur lain. Sementara itu, Gen 2 hanya memiliki tombol pengambilan gambar yang terbatas untuk fitur kamera. Perubahan ini memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna dalam mengakses fitur tanpa harus mengeluarkan ponsel.
Dari segi desain, Gen 3 menawarkan dua gaya rangka baru: Aviator dengan lensa klasik dan bingkai tebal dalam berbagai warna transparan dan tortoiseshell, serta Zena dengan bentuk cat-eye yang lebih ramping. Hanya rangka Wayfarer yang dipertahankan dari Gen 2. Secara dimensi, Gen 3 sedikit lebih kecil dengan lebar engsel 129 mm (Gen 2: 131 mm) dan tangkai 149 mm (Gen 2: 150 mm), meski bobotnya sedikit bertambah menjadi 51,5 gram. Perubahan ini mungkin tidak terlalu terasa kecuali dibandingkan secara langsung, tetapi menunjukkan arah Meta menuju kacamata yang lebih ringkas.
Yang perlu dicatat, sebagian besar fitur perangkat lunak yang diumumkan bersama Gen 3 juga akan tersedia untuk Gen 2 melalui pembaruan. Ini termasuk fitur peningkatan pendengaran yang telah disetujui FDA, interaksi dengan agen AI Muse, dan fitur dynamic photo capture yang memungkinkan pengambilan beberapa foto sekaligus untuk memilih framing terbaik. Artinya, pengguna Gen 2 tidak sepenuhnya tertinggal dalam hal fungsionalitas.
"Peningkatan pada Gen 3 lebih banyak mengandalkan perangkat lunak daripada perombakan perangkat keras," tulis Engadget dalam ulasannya, menggarisbawahi bahwa pembaruan signifikan justru datang dari sisi software.
Bagi konsumen di Indonesia, kehadiran Ray-Ban Meta Gen 3 menawarkan akses ke ekosistem Meta yang terus berkembang, tetapi dengan harga yang lebih tinggi dan fitur yang sebagian besar juga bisa dinikmati di Gen 2, keputusan untuk upgrade menjadi tidak mudah. Pasar kacamata pintar di Indonesia sendiri masih tergolong niche, dengan penetrasi yang terbatas pada segmen atas. Faktor seperti ketersediaan resmi, layanan purna jual, dan kompatibilitas dengan regulasi lokal menjadi pertimbangan tambahan. Jika tidak memerlukan lensa resep, membeli Gen 2 bekas bisa menjadi alternatif yang lebih hemat.
Ke depan, Meta tampaknya akan terus mendorong inovasi melalui pembaruan perangkat lunak dan ekosistem AI-nya. Pertanyaannya, apakah konsumen bersedia membayar premi lebih tinggi untuk peningkatan yang bersifat marjinal, atau justru menunggu generasi berikutnya yang menawarkan lompatan teknologi lebih signifikan? Waktu yang akan menjawab, tetapi untuk saat ini, Ray-Ban Meta Gen 3 lebih tepat diposisikan sebagai penyempurnaan daripada revolusi.


