Badai Dolphin Melumpuhkan Penerbangan China, Ribuan Penumpang Terdampar
Baca dalam 60 detik
- Topan Dolphin memicu pembatalan hampir seribu penerbangan di Shanghai meski intensitasnya melemah.
- Peringatan banjir bandang ekstrem dikeluarkan untuk Zhejiang, sementara Beijing bersiap menghadapi hujan lebat.
- Gangguan transportasi ini menambah tekanan pada rantai pasok regional yang berdampak pada ekonomi Indonesia.

Topan Dolphin, yang sempat mengamuk di pesisir timur China, masih menyisakan kekacauan besar meski kekuatannya mulai mereda. Otoritas penerbangan Shanghai mencatat 943 penerbangan dari dua bandara utamanya dibatalkan pada Senin (11/8), sementara layanan kereta lokal dan transportasi umum di pusat keuangan itu ikut dilumpuhkan. Padahal, Badan Meteorologi Nasional China (NMC) telah menurunkan status peringatan topan ke level terendah pada pagi harinya.
Topan yang melakukan dua kali pendaratan di Provinsi Zhejiang pada Minggu (10/8) itu memicu peringatan banjir bandang paling parah di bagian timur dan selatan provinsi tersebut. Stasiun televisi pemerintah CCTV melaporkan, otoritas setempat mengeluarkan peringatan merah untuk potensi tanah longsor dan genangan. Meski demikian, sejumlah kota mulai memulihkan layanan publik; Hangzhou, ibu kota provinsi, telah mengoperasikan kembali kereta bawah tanahnya sejak Senin pagi.
Bandara Internasional Ningbo di Zhejiang berencana memulihkan operasional penerbangan mulai tengah hari, namun pihak pengelola mengingatkan bahwa sejumlah jadwal masih berpotensi tertunda atau dibatalkan karena dampak topan "belum sepenuhnya hilang". Sementara itu, Beijing bersiap menghadapi cuaca ekstrem pekan ini; lima distrik di ibu kota telah mengeluarkan peringatan merah untuk hujan lebat, dengan risiko tanah longsor dan banjir.
Topan Dolphin telah memicu peringatan level tertinggi sejak akhir pekan, menyebabkan lebih dari 1.000 penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu warga dievakuasi. Kejadian ini hanya berselang dua pekan setelah Topan Noul menghantam Provinsi Guangdong di selatan China, yang disebut sebagai badai terkuat tahun ini. Intensitas musim topan yang tinggi ini menggarisbawahi pola cuaca ekstrem yang semakin sering melanda kawasan Asia Timur.
Bagi Indonesia, gangguan transportasi di China memiliki implikasi nyata. Sebagai mitra dagang utama, keterlambatan pengiriman barang dari pelabuhan-pelabuhan China Timur dapat berdampak pada rantai pasok produk elektronik, tekstil, dan bahan baku industri di Tanah Air. Para importir Indonesia perlu mencermati potensi penundaan pengiriman dalam beberapa pekan ke depan, terutama yang bergantung pada rute pelayaran dari Shanghai dan Ningbo.
Para analis memperkirakan bahwa frekuensi topan kuat di Pasifik Barat akan terus meningkat seiring pemanasan suhu laut. Hal ini menuntut kesiapsiagaan lebih baik, tidak hanya bagi China, tetapi juga negara-negara Asia Tenggara yang berada di jalur topan. "Kita harus belajar dari pengalaman China dalam manajemen evakuasi dan pemulihan cepat infrastruktur," ujar seorang pengamat kebencanaan dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana China menyeimbangkan pemulihan ekonomi dengan risiko bencana yang kian sering. Dengan musim topan yang masih berlangsung hingga September, potensi gangguan lanjutan tetap terbuka. Bagi Indonesia, hal ini menjadi pengingat untuk memperkuat ketahanan logistik domestik dan diversifikasi rute perdagangan agar tidak terlalu bergantung pada satu titik rawan bencana.



