Strictly Come Dancing Beralih ke Bintang Media Sosial demi Raih Penonton Muda
Baca dalam 60 detik
- BBC kini memprioritaskan figur dengan pengikut digital besar untuk menggaet audiens baru di tengah menurunnya rating TV tradisional.
- Pergeseran ini dipicu oleh perubahan lanskap hiburan, di mana bintang dari TikTok dan YouTube dianggap lebih relevan daripada nama-nama lama.
- Langkah ini menjadi sinyal bagi industri televisi global, termasuk Indonesia, untuk beradaptasi dengan tren konten digital.

BBC secara terang-terangan mengubah strategi kasting untuk acara dansa legendarisnya, Strictly Come Dancing, dengan memprioritaskan figur-figur yang memiliki basis pengikut besar di media sosial. Keputusan ini diambil di tengah kritik penggemar setia yang menilai jajaran peserta tahun ini kurang dikenal, namun pihak BBC menilai langkah ini adalah cara paling efektif untuk menjaring penonton baru di era digital.
Seorang sumber internal yang berbicara kepada The Sun mengungkapkan bahwa kebijakan ini memang disengaja. Menurutnya, meskipun penonton tradisional mungkin tidak mengenal para peserta baru, yang lebih penting adalah kemampuan mereka untuk menarik jutaan pengikutnya ke layar kaca. "Pengikut mereka sangat banyak dan antusias. Dengan berbagi konten tentang Strictly, mereka secara masif meningkatkan profil acara ini," ujarnya.
Lebih lanjut, sumber tersebut menjelaskan bahwa penonton lama justru akan merasakan "perjalanan Strictly" yang lebih mendalam ketika mengenal peserta yang awalnya asing. "Mereka akhirnya menjalani perjalanan yang lebih berkesan dibandingkan dengan bintang yang sudah dikenal luas," tambahnya. Ini adalah pengakuan tersirat bahwa formula lama yang mengandalkan nama besar dari sinetron atau boyband sudah tidak lagi relevan.
Daftar peserta musim ini memang didominasi oleh nama-nama yang mungkin tidak asing di dunia maya, seperti Lacey Turner, Dani Dyer, Delta Goodrem, Chris Appleton, dan lainnya. Namun, sumber tersebut menegaskan bahwa BBC sebenarnya kesulitan mendapatkan bintang papan atas karena lanskap hiburan telah berubah drastis. "Dulu, mendapatkan bintang dari sinetron atau drama besar adalah pencapaian luar biasa. Sekarang, hal itu sudah tidak terlalu berarti," ungkapnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Inggris. Di Indonesia, industri televisi juga menghadapi tantangan serupa. Rating acara-acara lama terus menurun sementara platform digital seperti TikTok dan YouTube justru melahirkan selebritas baru dengan jutaan pengikut. Stasiun TV di Indonesia pun mulai melirik para kreator konten ini untuk mengisi program mereka, meskipun belum seagresif BBC. Perubahan ini menunjukkan bahwa batas antara televisi dan media sosial semakin kabur, dan adaptasi adalah kunci untuk bertahan.
Sumber tersebut juga menyoroti pergeseran besar yang sedang terjadi. "Ada perubahan zaman yang sedang berlangsung, dan Strictly tidak ingin melawan arus. Ia tidak mampu," katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi tekanan yang dihadapi oleh program-program lama untuk tetap relevan di tengah gempuran platform streaming dan media sosial.
Ke depannya, pertanyaannya adalah apakah strategi ini akan berhasil mempertahankan basis penggemar lama sambil menarik penonton baru. Apakah penggemar setia akan menerima perubahan ini, atau justru semakin menjauh? Yang jelas, keputusan BBC ini menjadi studi kasus menarik bagi industri televisi global, termasuk Indonesia, tentang bagaimana cara bertahan di era di mana perhatian audiens terpecah ke banyak layar.



