Liverpool di Bawah Iraola: Dua Kali Kehilangan Keunggulan, Kebugaran Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Liverpool kembali kehilangan keunggulan dua gol dalam laga uji coba, kali ini kalah 3-2 dari Monaco di Anfield.
- Manajer Andoni Iraola mengakui timnya belum mampu mempertahankan intensitas permainan yang diinginkan selama 90 menit penuh.
- Dengan laga pembuka Premier League melawan Newcastle kurang dari dua pekan lagi, kekhawatiran soal kebugaran dan konsistensi mulai mengemuka.

Laga uji coba kedua beruntun menjadi mimpi buruk bagi Liverpool. Setelah kalah 4-2 dari Leeds di Chicago, The Reds kembali kehilangan keunggulan dua gol dan takluk 3-2 dari Monaco di Anfield, Minggu (11/8). Hasil ini memunculkan pertanyaan serius tentang kesiapan tim asuhan Andoni Iraola menjelang Premier League 2025/26.
Iraola, yang baru menjalani bulan pertamanya di Liverpool, tidak menutup-nutupi kekurangan timnya. "Kami punya pekerjaan rumah," ujarnya seusai laga. Ia menilai anak asuhnya tampil baik pada 30 menit pertama, tetapi gagal mempertahankan level permainan yang ia tuntut. "Mereka tidak punya lebih dari itu, dalam hal level yang dibutuhkan untuk bermain seperti ini," tambahnya.
Pernyataan ini kontras dengan optimisme awal pramusim. Pada laga pertama melawan Leeds, Iraola mengaku "banyak belajar" dari kekalahan tersebut. Namun, pola yang sama terulang: Liverpool tampil impresif di awal, lalu kehilangan arah setelah pergantian pemain. Melawan Leeds, mereka kebobolan empat gol dalam 25 menit; melawan Monaco, tiga gol tanpa balas dalam 44 menit.
Iraola menekankan bahwa kebugaran menjadi faktor utama. Beberapa pemain masih dalam proses pemulihan setelah jeda panjang pasca Piala Dunia, sementara Conor Bradley, Hugo Ekitike, dan Giovanni Leoni harus menepi karena cedera. Pelatih asal Spanyol itu juga membawa Pablo de la Torre, mantan pelatih kebugaran Bournemouth, untuk memperbaiki kondisi fisik skuad.
Namun, gaya bermain yang diusung Iraola memang menuntut kebugaran ekstrem. Di Bournemouth, ia menerapkan pressing tinggi dan serangan langsung yang agresif. Data menunjukkan timnya menempati peringkat pertama dalam serangan langsung dan ketiga dalam high turnovers di Premier League musim lalu. Pemain anyar Milos Kerkez menggambarkan instruksi Iraola: "Bermain satu lawan satu di seluruh lapangan, pressing tinggi, dan selalu berada di sisi depan."
Intensitas latihan pun menjadi sorotan. Seorang pemain mengaku merasa mual setelah sesi latihan pertama, sementara tim yang kalah dalam latihan harus lari sprint melintasi lapangan. Ini menunjukkan betapa kerasnya standar yang diterapkan Iraola, yang dikenal dengan julukan "quicker, quicker" selama sesi latihan terbuka di Chicago.
"Saya ingin bilang tidak, pada hari pertama kami akan sempurna, semua orang siap, tapi mungkin tidak akan seperti itu. Kami harus melakukannya secepat mungkin." โ Andoni Iraola
Kapten Virgil van Dijk menyambut baik potensi tambahan pemain, terutama dengan kabar kedatangan Ronald Araujo dari Barcelona. "Kualitas apa pun yang bisa kami tambahkan pasti diterima," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dua pekan ke depan akan menentukan.
Bagi pengamat, kekhawatiran ini mungkin berlebihan. Iraola butuh 10 pertandingan untuk meraih kemenangan pertamanya di Bournemouth, dan ia akhirnya berhasil membangun tim yang solid. Namun, Liverpool bukan Bournemouth; ekspektasi jauh lebih tinggi. Kegagalan mempertahankan keunggulan dua kali beruntun bisa menjadi sinyal bahaya, atau sekadar proses adaptasi yang wajar.
Pertanyaannya kini: apakah Iraola akan diberi waktu untuk membangun fondasi, atau tekanan hasil akan mengubah rencana jangka panjangnya? Laga pembuka melawan Newcastle pada 23 Agustus akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika Liverpool kembali kehilangan keunggulan, kritik akan semakin deras. Namun, jika mereka tampil konsisten, semua kekhawatiran ini hanya akan menjadi catatan kaki dalam perjalanan panjang musim ini.



