Nikon Z5IIC: Kamera Full-Frame Tanpa Viewfinder yang Picu Debat Identitas
Baca dalam 60 detik
- Nikon resmi meluncurkan Z5IIC, kamera full-frame tanpa viewfinder dengan harga body US$1.399,95.
- Ketiadaan viewfinder dan spesifikasi campuran adu fitur RAW internal dengan slot SD tunggal memicu pertanyaan tentang target pasar.
- Pasar Jepang dan kreator konten pemula menjadi penentu apakah strategi ini berhasil atau sekadar varian yang membingungkan.

Nikon memulai tahun 2026 dengan langkah berani melalui peluncuran Z5IIC, kamera mirrorless full-frame yang secara efektif merupakan Z5II tanpa viewfinder elektronik (EVF). Langkah ini menempatkan Nikon pada posisi yang tidak biasa: menawarkan sensor 24,5 MP dan prosesor Expeed 7 terbaru dalam bodi yang lebih ramping, namun dengan harga body US$1.399,95 (sekitar Rp22 juta) yang tergolong agresif untuk kelas full-frame.
Keputusan menghilangkan viewfinder bukan tanpa alasan. Data internal industri menunjukkan bahwa sebagian besar kreator konten modern mengandalkan layar belakang untuk 95% pengambilan gambar. Namun, desain ini justru menimbulkan pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya target konsumen Nikon? Huruf 'C' pada Z5IIC ternyata bukan berarti 'compact' melainkan 'casual', sebuah label yang terasa janggal mengingat kemampuan perekaman video RAW internal yang biasanya menjadi domain kamera profesional.
Kombinasi fitur yang tidak lazim ini menciptakan apa yang banyak pengamat sebut sebagai krisis identitas. Di satu sisi, Z5IIC menawarkan Scene Modes yang ramah pemula—fitur pertama di jajaran full-frame Nikon Z. Di sisi lain, perekaman video RAW internal membutuhkan kapasitas penyimpanan besar, tetapi kamera ini hanya menyediakan satu slot kartu SD, bukan CFexpress. Spesifikasi video pun terbatas pada 4K/60p dengan crop, kalah bersaing dengan Panasonic Lumix S9 yang menawarkan 6K open-gate.
Dari sisi ergonomi, Z5IIC memang lebih ringan dari Z5II, tetapi tetap berbobot 620 gram—jauh lebih berat dibanding Panasonic Lumix S9 (486 gram) dan Sony A7C II (514 gram) yang justru menyertakan EVF. Layar sentuhnya juga mengalami penurunan kualitas menjadi 1,04 juta titik, langkah mundur yang disayangkan mengingat tidak adanya viewfinder sebagai alternatif. Beberapa pengamat berharap Nikon meminjam layar 4 inci dari ZR, namun harapan itu tidak terwujud.
"Kamera ini akan hidup atau mati oleh performanya di pasar domestik Jepang," ujar seorang analis kamera, mengingat sejarah Nikon Z30—kamera tanpa viewfinder yang sukses di Jepang meski dianggap kurang menggigit di pasar global.
Pasar Jepang memang dikenal toleran terhadap kamera tanpa viewfinder yang mengutamakan kepraktisan. Namun, Z5IIC tidak sekompak Z30. Dengan dimensi yang masih besar, daya tariknya sebagai kamera 'casual' dipertanyakan. Di pasar Indonesia, segmen kamera full-frame tanpa viewfinder masih sangat niche. Konsumen Tanah Air umumnya mencari kamera dengan viewfinder untuk kebutuhan profesional maupun hobi serius, sementara kreator konten lebih memilih smartphone atau kamera APS-C yang lebih ringan dan murah. Harga Rp22 juta untuk body saja—tanpa lensa—menempatkan Z5IIC bersaing langsung dengan Sony A7C II yang sudah memiliki EVF, atau bahkan Nikon Z5II sendiri yang lebih lengkap.
Meski demikian, di balik identitasnya yang kabur, Z5IIC tetap menawarkan spesifikasi mumpuni: autofokus dengan deteksi subjek untuk 10 jenis objek, stabilisasi gambar hingga 7,5 stop, burst shooting 14 fps (mechanical shutter), dan Imaging Recipes yang sedang tren. Bagi pengguna yang sudah berinvestasi di ekosistem Nikon Z, kamera ini bisa menjadi second body yang ringan untuk video. Namun, pertanyaan besarnya: apakah Nikon mampu meyakinkan pasar bahwa Z5IIC bukan sekadar Z5II yang 'dikurangi'? Jawabannya akan terlihat dari strategi pemasaran dan penetapan harga di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam beberapa bulan mendatang.



