Gibbs-White Tuntut Liga Champions, Nottingham Forest di Persimpangan
Baca dalam 60 detik
- Morgan Gibbs-White dikabarkan mempertimbangkan hengkang dari Nottingham Forest akhir musim ini demi bermain di Liga Champions.
- Forest tengah berjuang di papan bawah Premier League dengan hanya lima poin dari lima laga, sementara Gibbs-White justru dipanggil Timnas Inggris.
- Klub-klub besar Premier League, termasuk Tottenham Hotspur, dikabarkan siap menampungnya jika Forest gagal ke Eropa.

Nottingham Forest menghadapi dilema besar: mempertahankan gelandang bintang Morgan Gibbs-White atau kehilangan pemain terbaiknya demi ambisi Liga Champions. Menurut laporan Football Insider, Gibbs-White tengah mempertimbangkan untuk mendorong kepindahan pada akhir musim 2026/27, dengan syarat utama bermain di kompetisi elit Eropa saat usianya masih produktif.
Keputusan itu muncul di tengah performa tim asuhan Oliver Glasner yang belum stabil. Dari lima pertandingan, Forest baru mengumpulkan lima poin, termasuk kekalahan menyakitkan di kandang dari tim promosi Coventry City. Kekecewaan terlihat jelas dalam pernyataan Glasner usai laga. "Sangat mengecewakan dan membuat frustrasi. Para pemain sudah berusaha maksimal, tetapi ada beban berat di pundak mereka," ujarnya. Tekanan mental terlihat ketika The City Ground terdiam setelah gol Coventry, dan upaya menyamakan kedudukan lewat Igor Jesus dianulir VAR.
Di sisi lain, performa Gibbs-White justru menanjak. Pemain berusia 26 tahun itu kembali dipanggil ke skuad Inggris oleh Thomas Tuchel, panggilan pertamanya sejak September 2025. Ia berpeluang besar tampil sebagai starter dalam empat laga Nations League melawan Ceko, Kroasia, dan Spanyol. Panggilan ini dianggap sebagai pengakuan atas konsistensinya di level klub, meski Forest secara kolektif belum menunjukkan performa meyakinkan.
Ketertarikan klub-klub besar bukan isapan jempol. Tottenham Hotspur, yang sempat memicu klausul pelepasan dalam kontrak sebelumnya, dikabarkan masih memantau situasi. Namun, jika Gibbs-White menginginkan Liga Champions, Tottenham juga bukan jawaban pasti. Spurs belum meraih kemenangan dalam lima laga dan diprediksi kembali berjuang di papan tengah, bukan empat besar. Jika kondisi itu tak berubah, pintu ke N17 bisa tertutup, membuka peluang bagi klub lain yang lebih siap bersaing di Eropa.
Bagi Forest, mempertahankan Gibbs-White menjadi prioritas mutlak. Manajemen dikabarkan siap menawarkan kontrak baru dan berencana mendatangkan pemain pada jendela transfer Januari untuk memperkuat skuad. Namun, tawaran finansial saja mungkin tidak cukup jika ambisi pemain adalah trofi dan panggung Liga Champions. Klub-klub Premier League lain yang memiliki proyeksi lebih cerah bisa menjadi magnet kuat.
Dari kacamata Indonesia, saga transfer ini mencerminkan dinamika sepak bola modern yang kian kompetitif. Pemain muda berbakat cenderung memilih klub dengan jaminan kompetisi Eropa untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan nilai jual. Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, kepindahan Gibbs-White ke klub besar bisa menjadi tontonan menarik, sekaligus pengingat bahwa loyalitas sering kali harus mengalah pada ambisi profesional.
Ke depan, masa depan Gibbs-White akan sangat bergantung pada pencapaian Forest musim ini. Jika The Reds gagal finis di zona Eropa, kecil kemungkinan ia bertahan. Sebaliknya, jika mampu menembus kompetisi antarklub Eropa, peluang mempertahankannya terbuka lebar. Akankah Marinakis mampu meyakinkan bintangnya untuk tetap setia, atau justru harus merelakan kepergiannya demi keseimbangan finansial? Waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan semakin besar menjelang jendela transfer musim panas.



