Gelombang Penolakan Meluas: FAI Tarik Dukungan untuk Infantino, IFA Ikut Tekanan Uefa
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) resmi mencabut surat dukungan untuk Gianni Infantino menyusul kontroversi rencana penjualan saham komersial FIFA.
- Langkah FAI menambah daftar federasi yang berpaling dari Infantino, sejalan dengan sikap kritis Uefa yang menuduhnya merusak kepercayaan.
- Dukungan terhadap Infantino untuk periode keempat semakin terancam, dengan Welsh FA dan FA Inggris telah lebih dulu menarik dukungan.

Tekanan terhadap Gianni Infantino semakin nyata setelah Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) secara resmi mencabut dukungannya terhadap presiden FIFA tersebut. Keputusan ini diambil di tengah badai kritik yang dipicu oleh upaya kontroversial untuk menjual sebagian operasi komersial FIFA kepada perusahaan investasi swasta, sebuah langkah yang kemudian dibatalkan namun meninggalkan luka kepercayaan yang dalam.
FAI, yang sebelumnya menyatakan dukungan pada awal tahun, kini mengirimkan surat resmi ke FIFA untuk membatalkan sikap tersebut. Dalam pernyataannya, FAI menggarisbawahi kekhawatiran serius terkait tata kelola, transparansi, dan kurangnya konsultasi yang bermakna. "Asosiasi berterima kasih atas dukungan FIFA selama ini, tetapi peristiwa terakhir telah menimbulkan kekhawatiran signifikan," demikian bunyi pernyataan resmi FAI. Mereka juga menekankan komitmen untuk menjunjung praktik terbaik, mengingat tantangan tata kelola yang pernah dihadapi FAI di masa lalu.
Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Irlandia Utara (IFA) mengambil sikap berbeda. Meski belum secara formal menarik dukungan, IFA menyatakan mendukung penuh posisi Uefa. Juru bicara IFA menegaskan bahwa mereka menyadari perkembangan dan kekhawatiran yang lebih luas dalam komunitas sepak bola, dan akan terus terlibat secara konstruktif melalui struktur tata kelola yang ada. Sikap ini menunjukkan adanya perpecahan halus di antara federasi-federasi di Kepulauan Inggris, dengan Welsh FA dan FA Inggris telah lebih dulu menarik dukungan pekan lalu.
Langkah FAI dan sikap IFA ini merupakan pukulan telak bagi Infantino, yang tengah bersiap mencalonkan diri untuk periode keempat. Surat terbuka yang ditandatangani Uefa, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia pada Senin lalu menuduh Infantino merusak kepercayaan "melalui penipuan". Tuduhan ini merujuk pada upaya penjualan saham komersial yang disebut-sebut dilakukan tanpa konsultasi yang memadai dengan anggota FIFA.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Meski PSSI belum mengeluarkan pernyataan resmi, pengamat sepak bola menilai bahwa sikap federasi-federasi Eropa ini dapat menjadi preseden bagi negara-negara Asia untuk lebih vokal dalam mengawasi kepemimpinan FIFA. "Ini momentum bagi federasi-federasi di Asia, termasuk Indonesia, untuk menuntut akuntabilitas yang lebih besar," ujar seorang analis sepak bola yang enggan disebut namanya.
Kontroversi ini juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan organisasi olahraga global. Bagi publik Indonesia, yang kerap menyaksikan polemik serupa di tingkat domestik, kasus ini menjadi pengingat bahwa tata kelola yang buruk dapat merusak kredibilitas. Pertanyaannya, apakah gelombang penolakan ini akan meluas ke federasi-federasi lain, termasuk di kawasan Asia? Jika ya, Infantino bisa menghadapi tantangan serius dalam upaya mempertahankan kursinya. Namun, jika dukungan masih solid di sebagian besar anggota, ia mungkin tetap melenggang. Yang jelas, kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino telah retak, dan proses pemulihan tidak akan mudah.



