Replika Kantong Kulit Era Dinasti Tang Dipamerkan di Jepang: Jejak Mode Bangsawan Abad ke-7
Baca dalam 60 detik
- Institut Arkeologi Kashihara, Nara, berhasil merekonstruksi kantong kulit berlapis lak yang diimpor dari Tiongkok pada abad ke-7, memberikan wawasan baru tentang mode pria bangsawan era Fujiwara-kyo.
- Temuan ini memperkuat bukti hubungan dagang dan budaya antara Jepang kuno dan Dinasti Tang, dengan kantong tersebut diyakini sebagai aksesori resmi pejabat pemerintah Tiongkok.
- Rekonstruksi ini tidak hanya bernilai arkeologis, tetapi juga berpotensi menjadi cikal bakal suvenir budaya yang dapat menginspirasi industri kreatif, termasuk di Indonesia.

Institut Arkeologi Kashihara di Prefektur Nara, Jepang, baru saja merampungkan rekonstruksi sebuah kantong kulit berlapis lak yang diduga kuat merupakan barang impor dari Dinasti Tang, Tiongkok, pada abad ke-7. Artefak yang dijuluki "Asuka-Fujiwara pouch" ini diyakini milik seorang bangsawan tingkat rendah yang hidup di Fujiwara-kyo, ibu kota kekaisaran Jepang antara tahun 694 hingga 710. Replika tersebut akan dipamerkan untuk publik mulai 8 Agustus hingga 6 September mendatang di museum institut, menawarkan jendela langka ke dalam gaya busana pria pada era yang kini diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia.
Kantong berukuran 19 sentimeter kali 16 sentimeter dengan ketebalan 8,5 sentimeter ini dihiasi perlengkapan perunggu berlapis emas. Para peneliti meyakini benda ini adalah "hanno", sejenis kantong yang dikenakan di pinggang oleh pejabat pemerintah di Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Penemuan aslinya terjadi saat penggalian yang dilakukan institut antara 1999 hingga 2001 di kompleks gundukan pemakaman Mitsuzuka Kofun di kota Katsuragi, dekat jalan kuno Takenouchi Kaido. Artefak tersebut ditemukan bersama sisa-sisa manusia di dalam peti kayu sepanjang 1,25 meter.
Meski lokasi pemakaman berada di luar Fujiwara-kyo, posisinya yang strategis di sepanjang jalan pemerintahan kuno serta bukti-bukti lain mengindikasikan bahwa orang yang dimakamkan di sana adalah seorang bangsawan berpangkat rendah. Untuk merekonstruksi kantong ini, para peneliti menggunakan computed tomography (CT) untuk menganalisis struktur aslinya, lalu bekerja sama dengan Yamamoto Bag Workshop, pengrajin tradisional ransel sekolah Jepang yang dikenal dengan sebutan "randoseru". Replika dibuat menggunakan kulit rusa yang dilapisi lak hitam, dengan perlengkapan logam dan tali yang dibuat khusus.
Menurut Kosaku Okabayashi, penasihat akademis institut, artefak ini menjadi bukti nyata pertukaran budaya antara Jepang dan Tiongkok kuno. "Kami berharap pengunjung dapat melihat artefak luar biasa ini yang menggambarkan hubungan antara Asuka-Fujiwara dan Dinasti Tang," ujarnya. Pameran ini juga menampilkan kantong asli yang ditemukan, yang dipajang secara permanen di museum. Tiket masuk dewasa dibanderol 400 yen (sekitar Rp40.000), dengan museum tutup setiap hari Senin.
Bagi Indonesia, temuan ini menyoroti pentingnya pelestarian warisan budaya dan potensi ekonominya. Di tengah maraknya industri kreatif berbasis budaya, rekonstruksi artefak semacam ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan suvenir bernilai sejarah di Indonesia, seperti replika prasasti atau keris. Lebih jauh, kolaborasi antara arkeolog dan pengrajin tradisional seperti yang dilakukan Jepang menunjukkan bagaimana riset akademis dapat berujung pada produk komersial yang tetap menghormati nilai historis.
Langkah institut yang melibatkan pengrajin lokal dalam rekonstruksi ini juga membuka peluang komersialisasi. Yamamoto Bag Workshop dikabarkan mempertimbangkan produksi versi suvenir dari kantong tersebut. Jika terealisasi, ini bisa menjadi model pengembangan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya yang berkelanjutan. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu meniru jejak Jepang dalam mengangkat artefak bersejarah menjadi produk yang diminati pasar global tanpa kehilangan esensi sejarahnya?



