50 Tahun Tanpa Perempuan di F1: Jamie Chadwick Sebut Kunci Utamanya Ada di Akar Rumput
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Inggris Jamie Chadwick menilai regenerasi pembalap perempuan di Formula 1 harus dimulai dari jalur karting sejak usia dini.
- Tepat 50 tahun sejak Lella Lombardi menjadi perempuan terakhir yang turun di GP Austria 1976, belum ada lagi yang menyusul.
- Chadwick optimistis dalam lima tahun ke depan akan lahir generasi pembalap perempuan dengan kualitas terbaik, meski tantangan kompetisi makin ketat.

LONDON — Jamie Chadwick, pembalap perempuan terdepan asal Inggris, menegaskan bahwa masa depan perempuan di Formula 1 (F1) tidak akan ditentukan oleh program elit semata, melainkan oleh bagaimana mereka diperkenalkan pada dunia balap sejak usia belia. Menurutnya, jika semakin banyak anak perempuan yang memulai karier dari level terbawah—karting—maka peluang untuk menembus panggung tertinggi balap dunia akan semakin terbuka lebar.
Pernyataan itu disampaikan Chadwick di tengah peringatan setengah abad sejak terakhir kali seorang perempuan turun di Grand Prix. Lella Lombardi, pembalap asal Italia, menjadi nama terakhir yang tercatat dalam sejarah saat tampil di GP Austria pada 15 Agustus 1976. Ia finis di posisi ke-12, dan hingga kini belum ada lagi perempuan yang berhasil mengikuti jejaknya di ajang balap paling prestisius tersebut.
Chadwick, yang kini berusia 28 tahun dan tengah meniti karier di ajang ketahanan dunia, menilai bahwa salah satu keunggulan terbesar pembalap pria adalah mereka memulai lebih awal—bahkan sejak usia empat tahun. Sementara itu, anak perempuan kerap tidak mendapat dorongan yang sama dari lingkungan sekitarnya. "Saya punya kakak laki-laki yang membantu, tapi saya satu-satunya perempuan di sirkuit karting. Saat usia delapan hingga dua belas tahun, lingkungan seperti itu tidak selalu terasa ramah," kenangnya.
Untuk menjawab tantangan itu, Chadwick menggagas sebuah inisiatif berupa kejuaraan khusus yang dirancang bagi anak perempuan. Tujuannya bukan hanya menumbuhkan kecintaan pada kecepatan, tetapi juga membangun komunitas yang suportif. "Saya ingin menciptakan wadah di mana anak-anak perempuan bisa datang bersama teman-temannya, menikmati balapan, dan masuk ke dunia ini secara alami. Dan kami melihat respons yang luar biasa," ujarnya.
Menurut Chadwick, langkah ini menjadi fondasi penting bagi berbagai program lain yang sudah berjalan, seperti F1 Academy atau W Series yang kini sudah tidak aktif. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. "Lihat saja persentase mereka yang berhasil mencapai puncak—sangat, sangat kecil. Ketika jumlah pembalap perempuan di awal saja sudah sedikit, peluangnya sudah menumpuk melawan kita," katanya.
Ia memperkirakan rasio pembalap pria dan perempuan saat ini masih sekitar 80:20, dan untuk mencapai keseimbangan 50:50 diperlukan waktu yang panjang. Meski demikian, Chadwick optimistis dengan masa depan. "Saya yakin dalam lima tahun ke depan kita akan melihat kualitas pembalap perempuan terbaik yang pernah ada. Tidak ada keraguan tentang itu," tegasnya.
Namun, Chadwick juga mengakui bahwa tantangan tidak hanya datang dari minimnya jumlah perempuan, tetapi juga dari meningkatnya kualitas pembalap secara keseluruhan. "Karena olahraga ini terus berkembang, kita juga melihat kualitas tertinggi dari semua pembalap. Pembalap pria juga sangat kuat. Di situlah tantangannya," tuturnya.
Bagi Indonesia, wacana ini relevan dengan perkembangan balap nasional yang mulai melirik pembalap perempuan. Beberapa nama seperti Ayla Agusta dan Darma Mangkuluhur telah mencoba peruntungan di ajang Asia, meski dukungan dari sisi pembinaan usia dini masih terbatas. Jika ingin meniru jejak Chadwick, Indonesia perlu membangun ekosistem karting yang inklusif sejak dini, bukan hanya mengandalkan bakat individu.
Pertanyaannya, apakah industri balap nasional siap berinvestasi jangka panjang untuk menciptakan generasi pembalap perempuan yang kompetitif? Atau akankah kita terus menunggu lahirnya 'Lella Lombardi' baru dari Asia Tenggara?



