Uber Freight Diserang Peretas: Hampir 1 Juta File Diklaim Bocor, Bisnis Tetap Normal
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan logistik Uber Freight tengah menyelidiki insiden keamanan siber setelah kelompok peretas Helix mengklaim memiliki hampir satu juta file data perusahaan.
- Serangan ini merupakan bagian dari gelombang pemerasan yang menargetkan puluhan perusahaan besar AS, termasuk raksasa investasi seperti Blackstone dan Apollo Global Management.
- Uber menegaskan operasional bisnis tidak terganggu dan sistemnya aman, namun otentisitas data yang bocor belum dapat dikonfirmasi.

Uber Freight, anak perusahaan raksasa transportasi Uber yang bergerak di bidang logistik, tengah melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden keamanan siber yang melibatkan akses tidak sah ke sebagian sistem dan repositori data perusahaan. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh juru bicara perusahaan, Sam Hallock, pada Selasa (11/8), menanggapi klaim peretasan yang beredar di dunia maya.
Meski insiden ini berpotensi mengancam data jutaan pengguna, Hallock menegaskan bahwa tidak ada dampak terhadap operasional bisnis Uber Freight. "Tidak ada dampak pada operasi bisnis Uber Freight, yang berjalan normal tanpa gangguan. Sistem kami aman dan beroperasi penuh," ujarnya dalam pernyataan resmi. Namun, pernyataan ini tidak serta-merta meredakan kekhawatiran, mengingat kelompok peretas bernama Helix telah mempublikasikan klaim berani di situs mereka pada 6 Agustus lalu, menyebut telah menguasai hampir satu juta file milik Uber Freight.
Insiden ini bukan kasus terisolasi. Uber menjadi salah satu dari puluhan perusahaan dan lembaga keuangan terkemuka Amerika Serikat yang menjadi sasaran gelombang percobaan pemerasan dalam beberapa pekan terakhir. Data intelijen internet yang ditinjau Reuters menunjukkan bahwa kelompok Helix, yang juga dikenal dengan beberapa nama lain, telah menargetkan sederet nama besar seperti Blackstone, Bridgewater Associates, Apollo Global Management, Bain Capital, KKR, TPG, CME Group, Clearlake Capital, dan Moody's. Bahkan, Levi Strauss pada Jumat lalu juga mengakui dalam pengajuan regulasi bahwa pihak ketiga yang tidak sah telah mengakses sistem mereka.
Menanggapi situasi ini, Hallock mengungkapkan bahwa insiden telah "diidentifikasi, dikendalikan, dan dipulihkan", serta perusahaan telah "segera melibatkan penegak hukum federal". Namun, ia enggan berkomentar mengenai keaslian data yang dipublikasikan para peretas, kapan perusahaan mengetahui pelanggaran tersebut, atau apakah ada interaksi dengan kelompok peretas. Sikap bungkam ini justru menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengamat keamanan siber.
Google Threat Intelligence, dalam analisisnya pada 6 Agustus, mengidentifikasi Helix sebagai salah satu nama yang terkait dengan gugus aktivitas peretasan profil tinggi yang menargetkan berbagai perusahaan besar. Serangan ini menunjukkan eskalasi ancaman siber yang tidak hanya menyasar sektor teknologi, tetapi juga merambah ke industri keuangan, manajemen aset, dan ritel. Pola yang digunakan cenderung sama: akses tidak sah, eksfiltrasi data, dan ancaman pemerasan.
- Hampir 1 juta file Uber Freight diklaim dikuasai kelompok peretas Helix.
- Insiden diidentifikasi, dikendalikan, dan dipulihkan; sistem dinyatakan aman.
- Serangan menargetkan puluhan perusahaan besar AS, termasuk Blackstone, Apollo, dan Moody's.
- Levi Strauss juga mengakui akses tidak sah ke sistemnya pada pekan yang sama.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat penting akan kerentanan rantai pasok digital yang semakin terintegrasi secara global. Uber Freight, meskipun beroperasi terutama di Amerika Utara, memiliki koneksi dengan ekosistem logistik internasional. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang menjadi mitra atau pengguna layanan Uber Freight perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak tidak langsung, seperti kebocoran data rantai pasok yang dapat dimanfaatkan untuk serangan lanjutan. Otoritas siber di kawasan, termasuk BSSN, dapat menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat ketahanan sektor logistik nasional.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana data yang bocor dapat disalahgunakan. Apakah ini hanya gertakan untuk memeras, atau ada motif yang lebih dalam seperti spionase industri? Yang jelas, gelombang serangan ini menunjukkan bahwa tidak ada perusahaan yang kebal terhadap ancaman siber, dan investasi dalam keamanan siber bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Bagi Uber, langkah selanjutnya dalam menangani krisis ini akan menjadi ujian kredibilitas di mata publik dan mitra bisnisnya.



