Trevoh Chalobah Tinggalkan Chelsea demi Como: Peran Kunci Cesc Fabregas di Balik Transfer €30 Juta
Baca dalam 60 detik
- Bek Inggris berusia 27 tahun itu resmi bergabung dengan Como dengan nilai transfer €30 juta plus bonus, menandatangani kontrak hingga 2031.
- Panggilan pribadi dari Cesc Fabregas menjadi faktor penentu kepindahannya, mengalahkan tawaran dari klub lain.
- Kepergian Chalobah menutup babak 18 tahun di Chelsea, dengan pesan emosional untuk para pemain muda akademi.

Setelah 18 tahun mengabdi di Chelsea, Trevoh Chalobah resmi memulai babak baru kariernya di Serie A bersama Como. Bek berusia 27 tahun itu diboyong klub promosi asal Italia dengan nilai transfer mencapai €30 juta plus bonus, dan menandatangani kontrak berdurasi hingga Juni 2031. Kepindahan ini tidak lepas dari peran besar Cesc Fabregas, pelatih Como yang juga mantan rekan setimnya di Chelsea, yang secara langsung meyakinkannya untuk bergabung.
Chalobah mengungkapkan bahwa komunikasi intensif dengan Fabregas menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusannya. “Panggilan dengan Cesc sangat baik, dia menunjukkan betapa dia menginginkan saya,” ujarnya dalam wawancara dengan situs resmi Como. “Saya mengenal Cesc, dia pernah di Chelsea, dan saya berlatih dengannya saat masih muda. Sekarang bermain di bawah arahannya akan luar biasa. Saya pasti akan memberikan segalanya.”
Kepindahan ini menandai akhir dari perjalanan panjang Chalobah di Stamford Bridge, yang dimulai sejak ia bergabung dengan akademi Chelsea pada usia delapan tahun. Selama berseragam The Blues, ia mencatatkan lebih dari 150 penampilan kompetitif, termasuk memenangkan UEFA Super Cup 2021, FIFA Club World Cup, dan Conference League. Pengalaman pinjaman di Ipswich Town, Huddersfield Town, dan Lorient turut membentuk ketangguhannya sebagai bek serbabisa.
Bagi Como, kedatangan Chalobah bukan sekadar tambahan amunisi, melainkan sinyal ambisi besar klub yang baru kembali ke Serie A setelah 21 tahun. Dengan pengalaman internasionalnya—termasuk medali perunggu bersama Inggris di Piala Dunia 2026—Chalobah diharapkan menjadi pemimpin di lini belakang dan membawa mentalitas pemenang ke skuat asuhan Fabregas. Proyek Como yang sedang naik daun ini memang tengah gencar mendatangkan pemain-pemain berpengalaman untuk membangun fondasi yang kokoh di kasta tertinggi Italia.
Di sisi lain, kepergian Chalobah meninggalkan kesan mendalam bagi para penggemar Chelsea. Melalui media sosial, ia menulis pesan perpisahan yang emosional: “Seorang anak berusia 8 tahun masuk melalui pintu itu. Seorang pria keluar. Mimpi terwujud. Tujuan tercapai. Untuk setiap pemain akademi Chelsea: teruslah percaya. Waktumu akan tiba. Jangan pernah menyerah.” Pesan ini mencerminkan perjalanan panjang yang penuh liku, dari sekadar mimpi menjadi kenyataan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, transfer ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan tren klub-klub Eropa yang semakin agresif merekrut pemain berpengalaman untuk membangun proyek jangka panjang. Como, yang dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, menjadi contoh nyata bagaimana investasi asing dapat mengangkat pamor klub kecil menjadi kompetitif di liga top Eropa. Kehadiran Chalobah diharapkan tidak hanya memperkuat tim, tetapi juga meningkatkan daya tarik Como di mata penggemar global, termasuk di Indonesia.
Dengan kontrak panjang hingga 2031, Como jelas tidak hanya membeli pemain untuk kebutuhan jangka pendek, melainkan menanam investasi untuk masa depan. Chalobah, yang masih berada di usia produktif, diharapkan menjadi pilar utama dalam skuat yang sedang dibangun Fabregas. Pertanyaannya, mampukah ia membawa Como bertahan di Serie A dan bersaing di papan tengah? Atau justru menjadi batu loncatan untuk kembali ke klub besar? Waktu yang akan menjawab.



