Kursi Kosong Timnas Italia Makin Panas: CONI Blokir Penunjukan Diana Bianchedi
Baca dalam 60 detik
- Komite Olimpiade Italia (CONI) memeriksa potensi konflik kepentingan atas penunjukan Diana Bianchedi sebagai kepala delegasi timnas, yang juga menjabat wakil presiden CONI.
- Kabar ini menambah daftar panjang kegagalan restrukturisasi FIGC di bawah Giovanni Malagò, setelah Paolo Maldini dan Leonardo mundur hanya dalam tiga minggu.
- Jika Bianchedi batal, pencarian pengganti Gianluigi Buffon akan semakin rumit dan bisa mengganggu persiapan Italia menuju Piala Dunia 2026.

Kabar buruk kembali menghampiri upaya perombakan besar-besaran Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Komite Olimpiade Italia (CONI) secara resmi mengumumkan penyelidikan atas penunjukan Diana Bianchedi sebagai kepala delegasi tim nasional, dengan alasan adanya potensi 'ketidakcocokan' atau konflik kepentingan. Langkah ini menjadi ujian pertama bagi presiden FIGC yang baru, Giovanni Malagò, yang berjanji membawa angin segar bagi Nazionale.
Bianchedi, mantan atlet anggar peraih medali emas Olimpiade, sebenarnya baru saja diumumkan oleh Malagò dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport pada Kamis pagi. Ia ditunjuk untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Gianluigi Buffon sejak Maret lalu. Namun, CONI, yang membawahi seluruh cabang olahraga di Italia, langsung bereaksi dengan menyatakan akan mengevaluasi 'peluang, alasan, dan ketidakcocokan' dari nominasi tersebut.
Masalah utamanya sederhana: Bianchedi saat ini masih menjabat sebagai wakil presiden CONI di bawah pimpinan Luciano Buonfiglio. Merangkap dua jabatan strategis dalam satu waktu dinilai tidak etis dan berpotensi menimbulkan benturan kepentingan. CONI khawatir Bianchedi tidak akan bisa fokus menjalankan tugasnya di timnas jika harus tetap mengurus organisasi yang juga membawahi FIGC.
Kekacauan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Malagò sempat menunjuk Paolo Maldini sebagai direktur teknis Club Italia dan Leonardo sebagai penasihat khusus. Namun, keduanya memilih mundur hanya dalam waktu tiga minggu karena ketidaksepakatan dalam mencari pelatih kepala. Kegagalan demi kegagalan ini menunjukkan betapa rumitnya upaya merombak struktur timnas Italia yang tengah terpuruk.
Bagi pengamat sepak bola, kasus Bianchedi menjadi simbol betapa sulitnya melakukan reformasi di tengah birokrasi olahraga Italia yang berbelit. CONI dan FIGC seharusnya berjalan beriringan, tetapi justru sering kali berbenturan. Keputusan CONI untuk memblokir penunjukan ini bisa menjadi preseden buruk bagi upaya Malagò untuk membersihkan organisasi.
Menurut analis olahraga Italia, konflik kepentingan seperti ini seharusnya bisa diantisipasi sejak awal. Penunjukan Bianchedi tampak terburu-buru dan tidak mempertimbangkan struktur organisasi yang ada.
Di Indonesia, kisruh ini bisa menjadi pelajaran berharga. Federasi sepak bola nasional, PSSI, juga pernah menghadapi masalah serupa ketika menunjuk pejabat yang merangkap jabatan di lembaga lain. Penting bagi federasi untuk memastikan bahwa setiap penunjukan tidak menimbulkan konflik kepentingan, demi menjaga kredibilitas dan kelancaran organisasi.
Jika Bianchedi akhirnya batal, pertanyaan besarnya adalah: siapa yang akan menggantikan Buffon? Dan apakah kekacauan ini akan memengaruhi persiapan Italia menuju Piala Dunia 2026? Dengan waktu yang semakin sempit, keputusan CONI akan sangat menentukan arah masa depan timnas Italia.



