Ketua Majelis Nasional Laos Xaysomphone Phomvihane Wafat di Usia 70 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Xaysomphone Phomvihane, tokoh sentral politik Laos, meninggal Sabtu (8/8) akibat penyakit pembuluh darah inflamasi akut.
- Kepergiannya memicu masa berkabung nasional lima hari, mencerminkan perannya sebagai pilar stabilitas partai dan negara.
- Kepemimpinan transisi Laos kini diuji, dengan harapan menjaga kesinambungan reformasi dan pembangunan di bawah kepemimpinan partai.

Vientiane, 9 Agustus 2026 โ Xaysomphone Phomvihane, Presiden Majelis Nasional Laos sekaligus anggota Politbiro Komite Sentral Partai Revolusioner Rakyat Laos, meninggal dunia pada Sabtu (8/8) pukul 11.18 waktu setempat. Penyebabnya adalah penyakit pembuluh darah inflamasi yang parah, sebagaimana diumumkan resmi oleh Komite Sentral Partai. Kabar duka ini langsung mengguncang panggung politik Laos, mengingat posisi sentralnya dalam struktur kekuasaan negara komunis tersebut.
Pengumuman yang ditandatangani bersama oleh Komite Sentral Partai, Majelis Nasional, pemerintah, Lao Front for National Development, dan keluarga Phomvihane menyebut kepergiannya sebagai kehilangan besar bagi partai, negara, dan seluruh etnis di Laos. Xaysomphone, yang lahir pada 1956, bukanlah figur baru di panggung politik Laos. Ia telah malang melintang di berbagai posisi kepemimpinan, baik di tingkat lokal maupun sektor-sektor strategis, sebelum dipercaya memimpin Majelis Nasional. Kariernya yang panjang mencerminkan kedekatannya dengan pusat kekuasaan, terutama sebagai salah satu arsitek kebijakan partai dalam beberapa dekade terakhir.
Kematian Xaysomphone terjadi di tengah dinamika politik Laos yang tengah bersiap menghadapi transisi kepemimpinan. Sebagai presiden Majelis Nasional, ia memegang peran kunci dalam legislasi dan pengawasan pemerintahan. Kekosongan yang ditinggalkannya berpotensi memicu perebutan pengaruh di internal partai, meski pengumuman resmi menegaskan pentingnya persatuan. Panggilan untuk mengubah duka menjadi kekuatan, dengan tetap bersatu di sekitar Komite Sentral, menjadi sinyal bahwa partai berupaya menjaga stabilitas di tengah masa transisi ini.
Bagi Indonesia, peristiwa ini memiliki relevansi dalam konteks hubungan bilateral dan dinamika geopolitik Asia Tenggara. Laos dan Indonesia sama-sama anggota ASEAN, dan stabilitas politik di salah satu negara anggota selalu berdampak pada keseimbangan kawasan. Indonesia, yang kerap memposisikan diri sebagai saudara tua di ASEAN, akan mencermati bagaimana transisi kepemimpinan di Laos berlangsung, terutama dalam menjaga konsistensi kebijakan luar negeri Laos yang cenderung pro-Beijing. Pergeseran di pucuk pimpinan Laos bisa memengaruhi keseimbangan pengaruh antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN lainnya, termasuk Indonesia.
Masa berkabung nasional yang berlangsung lima hari, mulai 9 hingga 13 Agustus, akan menjadi ujian bagi soliditas partai. Upacara penghormatan terakhir direncanakan di National Convention Hall, dengan pemakaman kenegaraan di Thatluang esplanade pada 13 Agustus. Rangkaian acara ini tidak hanya seremonial, tetapi juga menjadi panggung bagi elite partai untuk menunjukkan kekompakan di hadapan publik. Pertanyaannya, akankah transisi kepemimpinan di Laos berjalan mulus tanpa gejolak internal yang berarti? Atau justru momentum ini menjadi ajang konsolidasi kekuatan baru yang akan menentukan arah politik Laos ke depan? Yang jelas, kepergian Xaysomphone menutup satu babak kepemimpinan, namun membuka lembaran baru yang penuh ketidakpastian bagi negeri seribu gajah itu.



