Bungkus Permen White Rabbit Mendunia: Estetika China yang Tak Lekang Zaman
Baca dalam 60 detik
- Kemasan permen legendaris China, White Rabbit, menjadi viral di media sosial Barat dengan jutaan interaksi, memicu diskusi tentang daya tarik desain vintage.
- Para akademisi menilai fenomena ini didorong oleh bahasa visual yang universal dan algoritma platform yang memperluas jangkauan konten diaspora China.
- Viralitas ini menjadi pengingat bagi merek heritage untuk mempertahankan autentisitas desain, meski tantangan pasar jangka panjang tetap bergantung pada kualitas produk.

Sebuah bungkus permen susu berusia lebih dari enam dekade asal China mendadak menjadi primadona di jagat media sosial Barat. Unggahan di platform X pada 5 Agustus lalu yang menyebut desainnya sebagai "mahakarya desain grafis" telah mengumpulkan sekitar enam juta tayangan dan 260 ribu suka, memicu gelombang kreativitas warganet mulai dari tato, kaos, hingga kolase digital.
Permen White Rabbit, yang lahir pada 1959 di tengah kelangkaan material, memang telah menjadi ikon di China. Namun, kemasannya yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun kini justru menjadi sorotan global. Desainnya yang menampilkan kelinci putih duduk di atas latar merah dengan ornamen biru-putih, yang pernah meraih penghargaan nasional pada 1983, dinilai memiliki daya tarik visual yang melampaui batas budaya.
Fenomena ini tidak hanya berhenti di satu platform. Gelombang apresiasi turut merambah TikTok dan Instagram, bahkan menghidupkan kembali minat pada kemasan-kemasan vintage China lainnya. Penulis unggahan viral tersebut, yang dikenal dengan nama weeabob, bahkan berkomentar dengan nada jenaka, "Saya tidak masalah jika tweet terpopuler saya ternyata tentang permen China yang indah ini."
Para pengamat budaya memandang fenomena ini sebagai bagian dari tren yang lebih besar, yakni meningkatnya ketertarikan generasi muda global terhadap estetika China yang otentik. Zhang Di, profesor di Universitas Renmin yang meneliti difusi konten lintas budaya, menilai bahasa visual bungkus permen ini—warna primer yang berani, komposisi sederhana, dan motif hewan—tidak memerlukan pengetahuan budaya khusus untuk dipahami, sehingga mudah diterima secara universal.
Zhang juga menyoroti peran algoritma rekomendasi yang mendorong konten dari komunitas diaspora China ke khalayak yang lebih luas. "Itu memberikan perhatian pada desain produk yang berakar pada memori komunitas tertentu, jauh melampaui batas aslinya," ujarnya. Sementara itu, Shi Anbin dari Universitas Tsinghua mengaitkan kegemaran ini dengan gerakan #BecomingChinese atau #Chinamaxxing, di mana anak muda luar negeri mulai mengadopsi praktik tradisional China, mulai dari minum air hangat hingga memakai sandal kasual.
Wu Weihua, profesor di Universitas Komunikasi China yang fokus pada budaya digital dan generasi muda, menambahkan bahwa apresiasi terhadap desain vintage ini mencerminkan keinginan Generasi Z akan kedalaman budaya di tengah dominasi konten buatan kecerdasan buatan. "Desain vintage dengan kedalaman budaya dapat menyentuh emosi di era yang dipenuhi konten AI," katanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini membuka pelajaran berharga bagi merek-merek lokal yang memiliki warisan desain kuat. Di tengah gempuran produk impor dan tren desain global, mempertahankan identitas visual yang khas justru bisa menjadi pembeda. Namun, Zhang Di mengingatkan bahwa sensasi online tidak menjamin kesuksesan pasar jangka panjang. "Fundamental produk—rasa, kualitas, kenyamanan, dan adaptabilitas—yang pada akhirnya mempertahankan pelanggan," tegasnya.
Shi Anbin memberikan contoh nyata: soda Arctic Ocean asal Beijing sempat meredup setelah joint venture dengan PepsiCo pada 1990-an, tetapi bangkit kembali setelah kembali ke kemasan botol kaca vintage-nya pada 2011. Baginya, merek heritage sebaiknya tetap setia pada desain klasik dan membiarkan keaslian menjadi daya tarik utama.
Pertanyaannya, apakah popularitas sesaat ini akan menjadi batu loncatan bagi White Rabbit untuk menancapkan pengaruh lebih luas di pasar global, atau hanya akan menjadi kenangan manis yang berlalu? Jawabannya bergantung pada bagaimana merek ini memanfaatkan perhatian yang ada untuk memahami pasar dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.



