Insiden Mobil Terbang Beyoncé: Peringatan Ibu dan Risiko Panggung Megah
Baca dalam 60 detik
- Tina Knowles meminta Beyoncé mengurangi aksi terbang dan atraksi berisiko setelah insiden mobil convertible nyaris membuat penyanyi itu terjatuh di Houston.
- Insiden Juni 2025 di NRG Stadium menjadi sorotan setelah video viral, sementara rangkaian gangguan teknis lain juga terjadi selama tur Cowboy Carter.
- Keselamatan artis dan penonton di konser berskala besar kembali dipertanyakan, termasuk implikasi bagi industri pertunjukan di Indonesia.

Beyoncé nyaris terjatuh dari mobil convertible yang melayang di atas panggung NRG Stadium, Houston, Texas, pada Juni 2025. Insiden itu memicu kekhawatiran ibunya, Tina Knowles, yang meminta sang putri mengurangi aksi terbang dan atraksi berisiko dalam tur Cowboy Carter.
Menurut Tina kepada kolom Bizarre The Sun, ia harus menerobos kerumunan saat menyaksikan mobil merah itu miring tajam di udara. Beyoncé, yang tampak mengenakan harness dan berpegangan pada kabel, tetap melanjutkan lagu 16 Carriages sebelum akhirnya menghentikan pertunjukan. “Dia memegang dirinya agar tidak jatuh. Sangat berbahaya,” ujar Tina, seraya menambahkan bahwa ia meminta Beyoncé menghentikan aksi terbang dan berputar. Namun, permintaan itu ditepis sang putri yang bersikeras harus menyelesaikan pertunjukan.
Rekaman insiden itu menyebar cepat di TikTok. Dalam video, Beyoncé terdengar berkata “Stop, stop, stop” ke mikrofonnya, musik pun dihentikan. Mobil kemudian diturunkan dan ia kembali ke posisi semula. Setelah sempat meninggalkan panggung sejenak, Beyoncé kembali dan menuntaskan lagu, lalu menyapa penonton dengan kalimat, “Jika aku jatuh, aku tahu kalian akan menangkapku.”
Gangguan teknis tidak berhenti di Houston. Beberapa pekan sebelumnya di SoFi Stadium, California, Beyoncé terlihat kebingungan mencari posisinya sebelum segmen Cozy. Lengan robotik yang membawa bingkai emas tidak berada di tempat semestinya, memaksanya menyelesaikan penampilan sambil menghindari properti yang bergerak. Belum lagi momen ketika putrinya, Blue Ivy, yang menjadi penari, harus turun tangan melepas anting yang hampir tersangkut di rambut Beyoncé saat lagu Crazy in Love.
Rangkaian kejadian ini menyoroti tekanan fisik dan mental yang dihadapi bintang pop dalam tur berskala besar. Panggung yang semakin kompleks dengan properti bergerak, rigging, dan koreografi berisiko tinggi memang menghasilkan tontonan spektakuler, tetapi juga memperbesar peluang kegagalan peralatan. Dalam industri hiburan global, standar keselamatan artis dan kru menjadi perhatian serius, terutama setelah beberapa insiden serupa menimpa penyanyi lain.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin. Konser-konser besar di Tanah Air, seperti yang digelar di Gelora Bung Karno atau Indonesia Arena, mulai mengadopsi teknologi panggung canggih. Namun, regulasi keselamatan dan sertifikasi operator properti panggung masih menjadi pekerjaan rumah. Promotor dalam negeri perlu belajar dari insiden Beyoncé: atraksi berisiko tinggi membutuhkan protokol darurat yang teruji, bukan sekadar mengandalkan profesionalisme artis.
“Dia memegang dirinya agar tidak jatuh. Sangat berbahaya. Aku bilang, ‘Bisakah kamu berhenti terbang dan berputar-putar?’” — Tina Knowles
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Beyoncé akan mengurangi aksi berbahaya, tetapi apakah industri musik global akan menetapkan standar keselamatan yang lebih ketat untuk tur-tur megah. Penonton boleh menikmati spektakel, tetapi nyawa artis dan kru tidak boleh menjadi taruhannya.



