Faezah Shaharuddin: Desainer Singapura yang Mengangkat Budaya Melayu ke Panggung Internasional
Baca dalam 60 detik
- Studio Kallang, didirikan Faezah Shaharuddin pada 2020, telah menembus pasar desain global dengan koleksi furnitur bernuansa budaya Melayu seperti Onde, Agar, dan Biskut.
- Karya-karyanya, yang diproduksi oleh pengrajin Indonesia, menggabungkan material tropis seperti jati dengan narasi personal, menantang dominasi estetika Eropa dalam desain kontemporer.
- Dengan harga mulai US$1.800 untuk cermin Onde, Faezah membuktikan bahwa referensi budaya lokal dapat bernilai tinggi di mata kolektor internasional, membuka peluang bagi desainer Asia Tenggara lainnya.

Faezah Shaharuddin, desainer asal Singapura yang berbasis di New York, berhasil membawa kekayaan budaya Melayu ke pentas desain furnitur dunia melalui Studio Kallang, dengan koleksi-koleksi yang dinamai Onde, Agar, dan Biskut—nama-nama yang akrab di telinga masyarakat Asia Tenggara sebagai kue dan camilan tradisional.
Perjalanan Faezah dimulai dari masa kecilnya yang dihabiskan di gudang kayu dan bengkel furnitur di berbagai negara Asia Tenggara, mengikuti ibunya, Sharifah Maznah, yang mendirikan bisnis furnitur vintage Second Charm pada 2001. Pengalaman tersebut, menurut Faezah, membentuk "dunia visualnya" dan menjadi fondasi bagi pendekatan desainnya yang khas. Ia tumbuh dalam keluarga yang kental dengan diskusi tentang sejarah, sastra, dan budaya, berkat latar belakang orang tuanya yang akademis—ibunya bergelar PhD dalam kajian Asia Tenggara, sementara ayahnya memimpin Departemen Studi Melayu di National University of Singapore.
Meski akrab dengan dunia furnitur, Faezah tidak langsung menekuni profesi ini. Ia memilih studi desain komunikasi visual di University of Washington, Seattle. Namun, saat kembali ke Singapura di masa pandemi, ia melihat kembali bengkel-bengkel dan material yang dulu ia anggap biasa dengan perspektif baru. "Furniture, as a product, just happens to be my medium," ujarnya, menegaskan bahwa baginya, furnitur hanyalah sarana untuk mengekspresikan memori budaya.
Studio Kallang, yang didirikan pada 2020, menjadi wadah eksplorasi ide-ide tersebut. Koleksi pertamanya, nakas bernama Mamun—dari kata Arab yang berarti "teman tepercaya"—menunjukkan naluri awalnya untuk memberikan narasi pada objek sehari-hari. Kini, Studio Kallang telah menembus pasar desain internasional, dengan karya-karya yang dipamerkan di Milan Design Week dan dijual melalui galeri-galeri bergengsi seperti Galerie Philia, Adorno, The Oblist, dan 1stDibs. Harga karyanya bervariasi, mulai dari US$1.800 untuk cermin Onde bulat hingga lebih dari US$6.800 untuk rak Onde.
Yang menarik, Faezah tidak sekadar mengejar keuntungan. Ia menolak untuk mempercepat pertumbuhan bisnisnya demi peluang yang ada, memilih untuk membiarkan setiap koleksi berkembang secara alami. "We just work very hard and take whatever comes," katanya. Pendekatan ini mencerminkan hubungan erat antara Studio Kallang dan Gamar, bisnis furnitur komersial keluarga yang dulu bernama Second Charm. Gamar, dengan pengalaman puluhan tahun dan sekitar 40 pengrajin di Indonesia, menjadi tulang punggung produksi. Sementara Studio Kallang, di sisi lain, berfokus pada eksplorasi artistik dan narasi budaya.
Faezah mengakui adanya "garis dekolonial" dalam karyanya. Ia tidak menolak tradisi desain Eropa, tetapi mempertanyakan mengapa tradisi tersebut selalu dianggap sebagai standar kemewahan kontemporer, sementara Asia Tenggara memiliki kekayaan visual yang tak kalah. Tinggal di New York, kota dengan perjumpaan budaya yang intens, justru memperkuat keyakinannya untuk tetap setia pada akar budayanya. "I wanted to use things that are authentic to my experience and my culture and have them be valued exactly the same," tegasnya.
Bagi Indonesia, kisah Faezah menjadi relevan karena banyak karyanya diproduksi oleh pengrajin lokal, menunjukkan bahwa kolaborasi dengan desainer internasional dapat mengangkat kualitas dan nilai karya Indonesia di mata dunia. Ini juga menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya lokal, seperti motif dan material tropis, memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah keberhasilan Faezah akan membuka pintu bagi lebih banyak desainer Asia Tenggara untuk mengeksplorasi identitas budaya mereka sendiri. Dengan semakin terhubungnya dunia desain, mungkin sudah saatnya standar kecantikan tidak lagi berpusat pada estetika Eropa, melainkan merayakan keberagaman yang ada.



