Roma Kembali Terpuruk di Inggris: Dibantai Brighton 0-3 di Laga Uji Coba
Baca dalam 60 detik
- AS Roma menutup tur pramusim Inggris dengan kekalahan telak 0-3 dari Brighton, menambah daftar hasil buruk di laga uji coba.
- Gol Georginio Rutter dan dua gol Yasin Ayari mengekspos kerapuhan lini belakang Roma yang masih dalam proses adaptasi di bawah pelatih baru.
- Kekalahan ini menjadi sinyal waspada bagi Roma menjelang Serie A, sementara Brighton menunjukkan kesiapan kompetitif mereka di Premier League.

AS Roma mengakhiri tur pramusim di Inggris dengan cara yang memalukan. Pada Sabtu sore (26/7) waktu setempat, tim asuhan Gian Piero Gasperini dihancurkan Brighton & Hove Albion dengan skor telak 0-3 di Stadion Falmer. Dua gol dari Yasin Ayari dan satu dari Georginio Rutter menjadi mimpi buruk bagi lini belakang Giallorossi yang masih mencari bentuk permainan terbaiknya.
Kekalahan ini menambah deretan hasil buruk Roma selama berada di Inggris. Sebelumnya, mereka sempat dipermalukan Cardiff City dengan skor 1-4, meski kemudian menang meyakinkan 4-1 atas Newport County. Catatan ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi Gasperini, yang baru saja mengambil alih kursi pelatih dari Daniele De Rossi. Publik Roma mulai bertanya-tanya, apakah filosofi permainan Gasperini yang dikenal agresif mampu beradaptasi dengan cepat di Serie A?
Pertandingan melawan Brighton sejatinya menjadi ujian yang lebih berat dibanding dua laga sebelumnya. Sebagai sesama tim Premier League, Brighton tampil solid di bawah arahan Fabian Hurzeler. Roma sebenarnya menurunkan skuad utama dengan trio lini depan Donyell Malen, Paulo Dybala, dan Matias Soulรฉ. Namun, mereka kesulitan menembus pertahanan tuan rumah yang disiplin. Peluang terbaik Roma di babak pertama datang dari tembakan Malen yang masih melambung tipis di atas mistar gawang.
Gol pembuka Brighton lahir pada menit ke-30 melalui aksi individu Rutter. Penyerang asal Prancis itu melepaskan tembakan melengkung dari tepi kotak penalti yang tak mampu dijangkau kiper Mile Svilar. Tujuh menit kemudian, Ayari menggandakan keunggulan setelah memanfaatkan kemelut di depan gawang Roma. Lini belakang Roma yang terdiri dari Gianluca Mancini, Evan Ndicka, dan Mario Hermoso terlihat kewalahan menghadapi kecepatan serangan balik Brighton.
Di babak kedua, Roma semakin tertinggal. Hanya tiga menit setelah jeda, kombinasi Rutter dan Ayari kembali merobek jala Svilar. Gol ketiga ini seakan memupus harapan Roma untuk memperkecil kedudukan. Pelatih Gasperini kemudian melakukan banyak pergantian pemain, termasuk memasukkan Santiago Castro dan Konstantinos Koulierakis, namun tak banyak mengubah jalannya pertandingan. Brighton nyaman menguasai bola dan mengatur ritme permainan hingga peluit panjang berbunyi.
Bagi pengamat sepak bola Italia, kekalahan ini menjadi sinyal bahwa Roma belum siap bersaing di level tertinggi. Gasperini dikenal dengan gaya permainan menekan dan intensitas tinggi, tetapi penerapannya di Roma masih belum terlihat. Para pemain baru seperti Malen dan El-Aynaoui masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan taktik sang pelatih. Sementara itu, Brighton justru tampil meyakinkan dan siap menghadapi musim Premier League yang kompetitif.
Kekalahan ini juga menjadi perhatian bagi para penggemar Roma di Indonesia, yang selalu antusias mengikuti perkembangan klub ibu kota Italia tersebut. Banyak yang berharap Gasperini bisa membawa perubahan positif, namun hasil pramusim ini membuat mereka khawatir. Pertanyaan besarnya, apakah Roma akan segera bangkit atau justru terpuruk lebih dalam saat Serie A dimulai? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, pekerjaan rumah Gasperini masih sangat banyak.



