David Sullivan Hadiri Laga West Ham Meski Dilarang: Ketegangan di London Stadium
Baca dalam 60 detik
- Mantan ketua bersama West Ham, David Sullivan, tetap hadir di laga Carabao Cup melawan Portsmouth meski ada rekomendasi agar menjauh dari stadion.
- Kehadirannya memicu kekhawatiran terkait protes suporter, namun situasi di dalam stadion terpantau kondusif hingga kick-off.
- Kasus ini menyoroti tantangan tata kelola klub sepak bola ketika pemegang saham utama terlibat kontroversi di luar lapangan.

David Sullivan, mantan ketua bersama West Ham United, tetap hadir di London Stadium untuk menyaksikan laga Carabao Cup melawan Portsmouth, Selasa (27/8) malam WIB. Keputusan itu diambil meski pengelola stadion telah merekomendasikan agar ia tidak datang ke pertandingan kandang demi menghindari potensi gejolak dari suporter.
Sullivan mengundurkan diri dari jabatannya pada Juni lalu setelah tujuh perempuan melayangkan tuduhan pelecehan seksual dan perilaku predatoris terhadap dirinya. Tuduhan itu dibantah keras oleh Sullivan. Meski demikian, investigasi bersama BBC Panorama dan The Times mengungkap bahwa ia telah dilarang berinteraksi dengan tim wanita dan tim muda West Ham selama tiga tahun terakhir karena masalah perlindungan anak di bawah umur.
Laga melawan Portsmouth menjadi ujian pertama bagi atmosfer stadion sejak kabar tersebut mencuat. West Ham sendiri harus memulai musim ini dari babak awal Piala EFL untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, setelah terdegradasi dari Premier League musim lalu. Kondisi ini menambah sensitivitas situasi, di mana suporter tengah diliputi kekecewaan terhadap arah klub.
Juru bicara London Stadium pada Senin (26/8) menyatakan telah "merekomendasikan" agar Sullivan tidak hadir, dengan alasan kekhawatiran akan protes fan. Namun, pantauan di sekitar stadion sebelum dan sesaat setelah kick-off tidak menunjukkan insiden berarti. Belum ada pernyataan resmi dari pihak klub mengenai langkah lanjutan terkait rekomendasi tersebut.
Di tengah kontroversi, Sullivan masih memegang 38,8% saham West Ham, menjadikannya pemegang saham tunggal terbesar. Status ini memberinya pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan klub, meski ia tidak lagi memiliki peran eksekutif. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola klub ketika pemilik mayoritas terlibat dalam perkara pribadi yang memicu sorotan publik.
Kasus ini menggarisbawahi dilema yang kerap dihadapi klub sepak bola di Inggris ketika figur sentralnya tersandung isu etika. Di satu sisi, klub harus menjaga citra dan kenyamanan suporter; di sisi lain, pemegang saham besar memiliki hak untuk menghadiri pertandingan sebagai bagian dari kepemilikan. Keputusan West Ham untuk tidak secara tegas melarang Sullivan hadir, meski ada rekomendasi dari pengelola stadion, menunjukkan tarik-menarik antara kepentingan komersial dan tuntutan moral.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola klub. Di tengah maraknya investasi asing di klub-klub Eropa, termasuk yang mungkin diminati investor Indonesia, kasus seperti ini mengingatkan bahwa reputasi pemilik sama pentingnya dengan performa di lapangan. Klub-klub di Indonesia pun mulai menghadapi tuntutan serupa dari suporter yang semakin kritis terhadap pengelolaan klub.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah Sullivan akan terus menghadiri pertandingan kandang West Ham, dan bagaimana klub menyeimbangkan hak pemegang saham dengan kekhawatiran suporter. Jika protes mulai muncul di laga-laga berikutnya, manajemen West Ham mungkin terpaksa mengambil sikap lebih tegas. Namun, hingga kini, belum ada sinyal bahwa klub akan mengubah kebijakannya.



