Aeon Akui Langgar Aturan Internal: Karyawan Diizinkan Masuk Mal Pasca-Gempa, Tujuh Tewas dalam Ledakan
Baca dalam 60 detik
- Peritel Jepang Aeon mengakui staf diizinkan kembali ke mal yang rusak akibat gempa, melanggar protokol keselamatan, dan berujung pada tewasnya tujuh pekerja dalam ledakan.
- Insiden di Aeon Mall Kumamoto mengungkap celah prosedur evakuasi yang tidak mengatur kasus barang pribadi atau karyawan yang terjebak, sehingga keputusan diserahkan pada petugas lapangan.
- Aeon berjanji merevisi aturan agar karyawan dapat menyimpan barang berharga saat bekerja, namun kasus ini memicu pertanyaan tentang kepatuhan standar keselamatan di ritel global, termasuk di Indonesia.

Perusahaan ritel raksasa Jepang, Aeon Co., mengakui bahwa karyawannya diizinkan masuk kembali ke pusat perbelanjaan yang rusak akibat gempa bumi di Prefektur Kumamoto, meskipun aturan internal melarang evakuasi untuk kembali ke gedung. Keputusan tersebut berujung pada tewasnya tujuh pekerja dalam ledakan yang terjadi sekitar satu jam dua puluh menit setelah gempa dahsyat melanda wilayah itu pada 28 Juli lalu.
Menurut keterangan resmi Aeon, petugas di lokasi Aeon Mall Kumamoto di Kashima mengizinkan karyawan masuk kembali setelah mereka meminta untuk mengambil barang berharga seperti kunci mobil dan ponsel, serta menutup kasir. Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mencapai tingkat intensitas maksimum 7 pada skala seismik Jepang di beberapa area, membuat sejumlah karyawan yang menggunakan mobil untuk bekerja tidak dapat pulang ke rumah.
Kejadian ini menyoroti kelemahan dalam prosedur keselamatan Aeon. Perusahaan mengakui bahwa aturan dan simulasi yang ada tidak mencakup situasi pasca-evakuasi yang melibatkan barang pribadi atau karyawan yang tidak bisa meninggalkan lokasi karena kendaraan. Ketidakhadiran prosedur yang jelas menyebabkan keputusan diserahkan sepenuhnya kepada personel di lapangan, sebuah celah yang berakibat fatal.
Presiden Aeon, Akio Yoshida, dalam konferensi pers pada 29 Juli menegaskan bahwa aturan internal memang melarang evakuasi untuk masuk kembali ke gedung. Namun, pengakuan ini baru muncul setelah ledakan yang terjadi sekitar pukul 17.50 waktu setempat, menewaskan tujuh pekerja yang sedang bertugas. Insiden ini menjadi sorotan tajam di Jepang, mengingat standar keselamatan yang ketat biasanya diterapkan di negara tersebut.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pelajaran berharga. Dengan tingginya risiko gempa di berbagai wilayah, pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di tanah air perlu mengevaluasi prosedur evakuasi mereka. Seringkali, aturan keselamatan hanya berfokus pada proses evakuasi awal, tetapi mengabaikan skenario setelahnya, seperti kebutuhan karyawan untuk mengambil barang pribadi atau menangani situasi darurat di dalam gedung. Keputusan yang diambil secara ad hoc di lapangan, seperti yang terjadi di Aeon, bisa berakibat fatal jika tidak ada panduan yang jelas.
Para ahli keselamatan kerja menilai bahwa insiden ini menggarisbawahi pentingnya prosedur yang komprehensif, termasuk simulasi yang mencakup berbagai skenario pasca-bencana. โTidak cukup hanya memiliki aturan evakuasi; perusahaan harus memikirkan bagaimana menangani kebutuhan karyawan setelah mereka keluar, terutama jika mereka tidak bisa pulang atau harus menyelesaikan tugas tertentu,โ ujar seorang analis keselamatan yang enggan disebutkan namanya.
Aeon berjanji akan merevisi aturannya untuk memungkinkan karyawan menyimpan barang berharga selama bekerja, sehingga mereka tidak perlu masuk kembali ke gedung yang berisiko. Namun, pertanyaan yang lebih besar muncul: apakah perusahaan ritel lain, baik di Jepang maupun di negara-negara rawan gempa seperti Indonesia, akan mengambil langkah serupa? Atau akankah insiden ini menjadi kasus yang terlupakan begitu saja?
Ke depan, regulator di Indonesia, seperti Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dapat mendorong perusahaan untuk memperketat protokol keselamatan pasca-bencana. Insiden Aeon menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap aturan tidak cukup jika prosedurnya tidak lengkap. Apakah dunia usaha akan belajar dari tragedi ini sebelum terjadi kasus serupa di dalam negeri?



