Joe Jonas Ungkap Kesalahan Parfum di Depan Cinta Pertama, Kini Jadi Duta Kenneth Cole
Baca dalam 60 detik
- Joe Jonas membagikan pengalaman memalukan saat remaja ketika ia memakai parfum berlebihan untuk menarik perhatian cinta pertamanya.
- Kini ia belajar bahwa pemilihan parfum harus disesuaikan dengan kepribadian dan kesempatan, bukan sekadar mengikuti satu aroma seumur hidup.
- Sebagai duta global Kenneth Cole, Jonas melihat perbedaan tekanan industri hiburan modern dengan era awal kariernya, terutama soal kecepatan informasi dan kontrol narasi.

Penyanyi Joe Jonas mengungkapkan sebuah momen canggung masa remajanya ketika ia berusaha memikat hati cinta pertamanya dengan memakai parfum secara berlebihan. Pria berusia 37 tahun itu mengaku bahwa tindakannya justru menimbulkan efek sebaliknya, membuat aromanya tercium hingga beberapa baris di belakangnya.
Dalam wawancara dengan PEOPLE, Jonas mengenang kejadian tersebut terjadi pada tahun terakhirnya di sekolah sebelum ia beralih ke pendidikan rumah. Ia menghadiri pertunjukan teater musikal tempat saudaranya tampil dan duduk di samping gadis yang ia sukai. “Saya memakai parfum terlalu banyak. Anda mungkin bisa mencium aromanya dari lima baris jauhnya,” ujarnya.
Insiden itu menjadi pelajaran berharga bagi Jonas yang kini dikenal sebagai salah satu personel Jonas Brothers. Ia menyadari bahwa pemakaian parfum tidak harus selalu menggunakan varian yang sama. “Saya selalu berpikir satu aroma untuk selamanya. Ternyata kita bisa memilih,” tambahnya.
Kolaborasi Jonas dengan Kenneth Cole sebagai duta merek global menjadi babak baru dalam kariernya. Ia mengaku senang bisa belajar lebih dalam tentang dunia wewangian, terutama dalam kampanye terbaru merek tersebut. “Menyenangkan bisa memastikan aromanya luar biasa, dan memang demikian,” katanya.
“Saya tidak iri pada siapa pun yang menjalani industri ini sekarang. Ada lebih banyak pengawasan. Segalanya terjadi lebih cepat, tapi kita juga punya kesempatan untuk menjelaskan diri lebih cepat,” ujar Jonas kepada The Hollywood Reporter.
Jonas membandingkan dinamika industri hiburan saat ia memulai karier dengan kondisi sekarang. Dulu, menurutnya, para artis hanya bisa berharap agar tidak menjadi bahan pemberitaan negatif. Kini, mereka dapat segera mengklarifikasi melalui platform seperti TikTok. “Setidaknya kita bisa langsung mengatakan, ‘Hei, saya tidak bilang begitu’,” tuturnya.
Bagi penggemar di Indonesia, kisah Jonas ini mungkin terasa akrab. Banyak dari kita pernah mengalami momen canggung saat mencoba tampil maksimal di depan orang yang disukai. Namun, bagi Jonas, pengalaman itu juga menyoroti bagaimana tekanan publik terhadap selebritas telah berubah drastis dalam dua dekade terakhir.
Di Indonesia, industri hiburan juga menghadapi tantangan serupa. Media sosial mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga memberi ruang bagi artis untuk merespons isu secara langsung. Hal ini menciptakan lanskap yang lebih dinamis, di mana penggemar dapat berinteraksi langsung dengan idola mereka, namun juga meningkatkan risiko salah paham.
Ke depan, Jonas berharap dapat terus mengembangkan karier musiknya sekaligus memperluas perannya di dunia mode dan kecantikan. Sementara itu, para penggemar menantikan apakah Jonas Brothers akan kembali merilis album baru atau menggelar tur dunia yang mungkin menyertakan Indonesia sebagai salah satu tujuannya.



