Stray Kids Bungkam soal Grammy, K-Pop Kembali Dihantui Pertanyaan Kategori Baru
Baca dalam 60 detik
- Stray Kids menolak mengonfirmasi rencana mengikuti Grammy Awards 2027 saat peluncuran EP kesepuluh, menyusul langkah BTS yang memboikot ajang tersebut.
- Kategori baru Best Asian Pop Music Performance memicu perdebatan: apakah ini pengakuan atau pemisahan bagi musisi Asia, dan kini menjadi sorotan utama industri musik Korea.
- Keputusan grup asuhan JYP Entertainment ini akan menentukan arah strategi K-Pop di panggung penghargaan global, sekaligus menjadi ujian bagi kredibilitas Grammy di mata penggemar Asia.

SEOUL โ Stray Kids memilih bungkam saat ditanya soal rencana mereka mengikuti Grammy Awards ke-69 yang akan digelar Februari 2027. Dalam konferensi pers di Seoul, Kamis (6/8), grup besutan JYP Entertainment ini berulang kali mengalihkan pembicaraan ke soal musik, bukan penghargaan, ketika disinggung soal kategori baru yang diciptakan Recording Academy, Best Asian Pop Music Performance.
Seungmin, salah satu vokalis, menegaskan bahwa album tidak pernah dibuat untuk mengejar trofi. "Kami tidak pernah menyusun album dengan target penghargaan tertentu. Yang kami kejar adalah suara dan cerita yang ingin kami sampaikan," ujarnya. Hyunjin menambahkan, tujuan terbesar mereka adalah membuktikan bisa melakukan "ini dan itu", serta membahagiakan penggemar.
Keengganan Stray Kids menjawab justru menambah panas perbincangan yang sudah memuncak sejak BTS mengumumkan mundur dari Grammy pada 29 Juli. Boyband berlabel HYBE itu beralasan ingin musik dinikmati tanpa sekat regional atau bahasa. Keputusan BTS ini menjadi tamparan bagi Grammy yang baru saja meluncurkan kategori khusus Asia, sebuah langkah yang dinilai sebagian kalangan sebagai pengakuan, namun tak sedikit yang menyebutnya sebagai bentuk segregasi.
Di Indonesia, respons penggemar K-Pop terbelah. Sebagian mengapresiasi langkah BTS yang dianggap idealis, sebagian lain menilai kategori baru itu justru membuka peluang lebih besar bagi grup seperti Stray Kids untuk mendapatkan pengakuan internasional. "Ini dilema: apakah mereka mau dianggap 'spesial' atau 'setara'?" kata seorang pengamat musik dari Jakarta yang enggan disebutkan namanya.
JYP Entertainment, agensi Stray Kids, juga menolak berkomentar saat dihubungi The Korea Herald. Padahal, tenggat pendaftaran daring Grammy dibuka sejak 7 Juli dan akan ditutup 21 Agustus. Nominasi baru diumumkan 16 November, sementara acara puncak berlangsung 7 Februari 2027. Artinya, keputusan harus segera diambil jika ingin berpartisipasi.
Kritikus musik Lim Hee-yun menilai jika Stray Kids akhirnya ikut, lagu dari EP terbaru "This & That" kemungkinan besar tidak akan dijadikan andalan. "Tanggal rilis album terlalu dekat dengan tenggat pendaftaran, sehingga tidak ada cukup waktu untuk membangun dampak. Lagu lama yang rilis dalam periode kualifikasi punya peluang lebih besar," jelasnya.
Keputusan BTS untuk memboikot Grammy sebenarnya bukan tanpa preseden. Sebelumnya, sejumlah musisi Asia sempat mengkritik cara Recording Academy memperlakukan karya mereka, yang kerap ditempatkan dalam kategori terpisah. Namun, langkah BTS kali ini dianggap lebih vokal dan strategis, mengingat pengaruh mereka yang besar di industri musik global.
Bagi Stray Kids, situasi ini menjadi panggung yang rumit. Di satu sisi, mengikuti Grammy bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap solidaritas yang dibangun BTS. Di sisi lain, menolak berarti melewatkan peluang emas untuk memperluas jangkauan pasar, terutama di Amerika Serikat yang selama ini menjadi target utama ekspansi K-Pop.
Di tengah ketidakpastian ini, para penggemar di Indonesia dan Asia Tenggara menanti keputusan Stray Kids dengan napas tertahan. Apakah mereka akan mengikuti jejak BTS atau justru mengambil jalur berbeda? Yang jelas, pilihan mereka akan menjadi sinyal penting bagi arah industri K-Pop dalam menyikapi penghargaan bergengsi ala Barat. Satu hal yang pasti: perdebatan tentang kategori Asia ini tidak akan mereda dalam waktu dekat.



