Topan Dolphin Terjang Okinawa, China Siaga Penuh: Pelabuhan dan Penerbangan Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Topan Dolphin melanda Okinawa, Jepang, dengan kecepatan angin hingga 216 km/jam, melukai enam orang dan memutus aliran listrik bagi ribuan bangunan.
- China menaikkan status siaga ke level oranye dan menghentikan operasional pelabuhan serta ratusan rute feri di Zhejiang dan Fujian untuk mengantisipasi dampak topan.
- Puluhan penerbangan internasional di Taiwan dibatalkan, sementara ketegangan politik meningkat setelah Beijing mengeluarkan perintah kontrol lalu lintas kapal di Selat Taiwan.

Topan Dolphin menghantam Prefektur Okinawa, Jepang selatan, pada Sabtu (8/8), menyebabkan enam orang terluka dan memutus aliran listrik bagi sekitar 51.000 bangunan di dua prefektur. China, yang bersiap menghadapi kedatangan badai di pesisir timurnya, telah menutup sejumlah pelabuhan dan menghentikan layanan feri sebagai langkah antisipasi dini.
Badan Meteorologi Jepang mencatat topan ini bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 15 km/jam, dan pada pukul 03.00 GMT, posisinya berada sekitar 160 km barat laut Pulau Kume, Okinawa. Kecepatan angin maksimumnya mencapai 162 km/jam dengan hembusan hingga 216 km/jam, menjadikannya badai yang sangat kuat. Lima orang lanjut usia di Okinawa, tiga di antaranya terjatuh akibat angin kencang, mengalami luka yang tidak mengancam jiwa, sementara satu orang lainnya cedera di Prefektur Kagoshima.
Dampak topan langsung terasa pada infrastruktur vital. Di Kagoshima, hampir 39.000 bangunan kehilangan aliran listrik, sementara di Okinawa lebih dari 12.000 bangunan terdampak. Maskapai domestik Jepang, ANA dan Japan Airlines, membatalkan seluruh penerbangan ke dan dari Okinawa. Sementara itu, China telah menetapkan topan Dolphin sebagai topan kategori oranye, level kedua tertinggi, dan menaikkan tingkat respons darurat ke level III. Badan Meteorologi Nasional China memperkirakan topan akan mendarat antara Kota Zhoushan di Provinsi Zhejiang dan Kota Fuding di Provinsi Fujian, dengan kecepatan angin di pusat badai mencapai 38โ45 meter per detik.
Provinsi Zhejiang telah menaikkan peringatan topan pesisir ke level tertinggi, menghentikan operasional pelabuhan, dan menangguhkan 162 rute feri penumpang. Bandara Internasional Ningbo Lishe akan menghentikan operasional mulai Sabtu malam dan menangguhkan semua penerbangan pada Minggu. Pelabuhan Yangshan di Shanghai telah dikosongkan dari kapal-kapal sejak Jumat malam, dan sejumlah layanan kereta api di Delta Sungai Yangtze akan dihentikan mulai Minggu. Hujan deras dengan akumulasi lebih dari 600 mm diperkirakan mengguyur sebagian wilayah Zhejiang timur hingga 12 Agustus.
Di Taiwan, 78 penerbangan internasional dibatalkan akibat topan ini, dan hujan lebat diperkirakan melanda bagian utara pulau pada akhir pekan. Namun, pemerintah Taiwan belum memerintahkan evakuasi hingga Sabtu. Ketegangan politik meningkat setelah China mengeluarkan perintah kontrol lalu lintas kapal di Selat Taiwan, yang langsung dikecam oleh Taipei. China, yang menganggap Taiwan sebagai wilayahnya, juga mengklaim selat strategis tersebut, klaim yang ditolak oleh Taipei dan Washington.
Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di jalur langsung topan Dolphin, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Wilayah kepulauan seperti Indonesia rentan terhadap dampak siklon tropis, terutama di kawasan timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu terus memantau perkembangan topan ini, karena pergerakannya dapat memengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia, seperti peningkatan curah hujan atau gelombang tinggi di beberapa perairan.
Para ahli meteorologi menilai bahwa intensitas topan yang semakin kuat, seperti Dolphin, sejalan dengan tren pemanasan global yang membuat lautan lebih hangat, sehingga menyediakan lebih banyak energi bagi badai. Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia, telah memiliki infrastruktur dan sistem peringatan dini yang memadai untuk menghadapi badai yang semakin ekstrem. Dengan prediksi bahwa topan akan mendarat di China antara Minggu malam dan Senin pagi, dampaknya terhadap rantai pasok regional, termasuk logistik dan perdagangan, patut menjadi perhatian bagi pelaku bisnis di Indonesia yang bergantung pada jalur pelayaran di kawasan tersebut.



