Topan Dolphin Terus Mengguyur China Tengah: Hubei Siaga, Beijing Bersiap Hadapi Hujan Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Topan Dolphin, yang telah menempuh 6.000 km, kini mengancam Hubei dengan curah hujan hingga 250 mm dalam 24 jam, memicu penutupan objek wisata dan penghentian proyek konstruksi.
- Provinsi yang menjadi pusat manufaktur otomotif dan elektronik ini baru saja dilanda tornado bulan lalu, meningkatkan risiko bencana susulan.
- Dampak topan meluas hingga Beijing yang memperkirakan sepertiga curah hujan tahunan turun dalam sehari, sementara Jepang juga bersiap menghadapi Topan Chan-hom.

Topan Dolphin, badai terkuat yang menerjang China tahun ini, kini bergerak jauh ke pedalaman dan mengancam provinsi Hubei di China tengah dengan curah hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor. Otoritas setempat telah menutup sejumlah kawasan wisata dan menghentikan proyek konstruksi berisiko tinggi sebagai langkah antisipasi.
Badai yang sistemnya luar biasa tangguh ini telah menempuh perjalanan hampir 6.000 kilometer sebelum mendarat di pantai timur China akhir pekan lalu. Kini, Dolphin membawa awan tebal yang menyelimuti wilayah luas, dan saat memasuki pegunungan di barat laut Hubei, aliran udaranya dipaksa naik, yang menurut para ahli akan melipatgandakan intensitas hujan.
Pusat Meteorologi Nasional China pada Selasa (11/8) memperbarui peringatan oranye untuk hujan lebat, level siaga tertinggi kedua. Wilayah barat laut Hubei diperkirakan menerima curah hujan hingga 250 milimeter dalam 24 jam. Peringatan kuning untuk risiko banjir dan tanah longsor juga dikeluarkan untuk kota-kota seperti Xiangyang, Huanggang, dan Suizhou.
Hubei, yang berpenduduk lebih dari 58 juta jiwa dan menjadi pusat manufaktur otomotif serta elektronik berteknologi tinggi, baru saja dilanda dua tornado langka bulan lalu akibat Topan Maysak yang menewaskan sedikitnya 11 orang. Kondisi ini membuat provinsi tersebut semakin rentan terhadap bencana susulan. Sebanyak 26 dari 107 proyek konstruksi jalan raya dan jalur air yang sedang berjalan dianggap berisiko tinggi dan dihentikan sementara. Kawasan wisata Bendungan Tiga Ngarai di Yichang juga ditutup untuk pengunjung.
Wang Xiaoling, wakil direktur observatorium meteorologi provinsi Hubei, menjelaskan kepada Hubei Daily bahwa ketika aliran udara tepi Dolphin bertemu dengan pegunungan di wilayah barat, hujan akan meningkat beberapa kali lipat. Sementara itu, provinsi tetangga Henan telah mengeluarkan peringatan merah untuk banjir bandang karena badai terus menyalurkan kelembapan ke utara.
Dampak Dolphin tidak berhenti di Hubei. Beijing, yang terletak lebih dari 1.000 kilometer di utara, juga bersiap menghadapi hujan deras yang diperkirakan mencapai sepertiga dari curah hujan tahunan kota itu dalam 24 jam mulai Selasa malam. Empat distrik di pinggiran ibu kota telah mengaktifkan respons darurat banjir Level I, tingkat tertinggi. Di Jepang, Badan Meteorologi setempat memperingatkan Topan Chan-hom berpotensi melintasi daratan utama pada Selasa, membawa risiko tanah longsor, banjir, dan angin kencang.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Meskipun secara geografis jauh, pola pergerakan topan di Asia Timur dapat memengaruhi pola musim di kawasan, dan pelajaran dari respons China terhadap bencana hidrometeorologi relevan untuk diadaptasi di dalam negeri, terutama dalam hal sistem peringatan dini dan manajemen risiko bencana.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Hubei mampu melewati badai ini tanpa korban jiwa, tetapi juga bagaimana negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, dapat memperkuat infrastruktur dan tata kelola kebencanaan untuk menghadapi ancaman serupa yang kian intensif. Akankah respons cepat dan teknologi prakiraan cuaca yang makin canggih cukup untuk menekan risiko di tengah ketidakpastian iklim global?



