Longsor di Belakang Sekolah Dasar Filipina: Wali Kota Turun Tangan, Ratusan Siswa Terancam
Baca dalam 60 detik
- Longsor di belakang Alno-Kadoorie Elementary School, La Trinidad, memicu inspeksi darurat pejabat setempat.
- Pemerintah kota berjanji mempercepat langkah mitigasi jangka pendek sambil menyiapkan solusi permanen.
- Insiden ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat sistem peringatan dini di daerah rawan longsor.

Longsor yang menerjang lereng di belakang Alno-Kadoorie Elementary School di La Trinidad, Benguet, Filipina, memaksa pemerintah kota setempat bergerak cepat. Setelah inspeksi pada Senin (10/8), Wali Kota Roderick Awingan bersama Kepala Polisi Letkol Zacarias Caloy Dausen dan tim teknisi memastikan langkah-langkah darurat segera diambil untuk melindungi para siswa dan guru.
Material tanah dalam jumlah besar runtuh dari tebing yang berada tepat di belakang gedung sekolah, meninggalkan bekas longsoran curam yang menganga. Sebagai tindakan sementara, petugas memasang terpal di sebagian area yang terdampak untuk mencegah erosi lebih lanjut akibat hujan yang masih berpotensi turun.
Keputusan untuk melakukan inspeksi langsung menunjukkan keseriusan pemerintah La Trinidad dalam menangani risiko bencana. Wali Kota Awingan tidak hanya meninjau lokasi, tetapi juga berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menyusun rencana intervensi jangka pendek. Sementara itu, pemerintah kota berjanji akan mempercepat perbaikan darurat sambil mengkaji solusi yang lebih berkelanjutan, seperti rekayasa geoteknik atau relokasi bangunan sekolah.
Insiden ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan Asia Tenggara, terutama selama musim hujan. Filipina, yang terletak di Cincin Api Pasifik, memang rentan terhadap gempa bumi dan tanah longsor. Namun, faktor ulah manusia seperti deforestasi dan pembangunan di lereng curam sering kali memperparah dampaknya.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi cermin penting. Banyak sekolah di daerah rawan longsor, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat, menghadapi ancaman serupa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan kejadian longsor setiap tahun, dan sekolah sering menjadi korban karena lokasinya yang dekat dengan lereng. Oleh karena itu, inspeksi rutin dan sistem peringatan dini yang efektif menjadi krusial.
Menurut analis kebencanaan, langkah cepat pemerintah La Trinidad patut diapresiasi, tetapi mereka mengingatkan bahwa solusi jangka pendek seperti terpal hanya bersifat sementara. "Yang dibutuhkan adalah kajian geoteknik menyeluruh dan mungkin relokasi jika risiko dinilai terlalu tinggi," ujar seorang ahli yang enggan disebut namanya. Di Indonesia, kasus serupa di SDN Cimanggu, Cilacap, pada 2021 memaksa pemerintah merelokasi sekolah setelah longsor merusak bangunan.
Pemerintah La Trinidad belum mengumumkan apakah sekolah akan diliburkan atau dipindahkan sementara. Namun, keputusan tersebut akan sangat menentukan keselamatan ratusan siswa yang setiap hari beraktivitas di gedung yang kini berada di bawah bayang-bayang tebing yang rapuh. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah darurat ini cukup untuk mencegah tragedi sebelum solusi permanen tiba?



