Topan Dolphin Mendekat, China Timur Tutup Sekolah dan Objek Wisata
Baca dalam 60 detik
- Topan Dolphin dengan kecepatan angin 162 km/jam diperkirakan menerjang Zhejiang dan Fujian pada Minggu malam.
- Pemerintah China menaikkan status siaga ke level III dan menutup aktivitas maritim serta destinasi wisata di wilayah terdampak.
- Dampak cuaca ekstrem ini berpotensi mengganggu rantai pasok global, termasuk ekspor manufaktur yang banyak bergantung pada pelabuhan di kawasan tersebut.

Otoritas di China timur bergerak cepat mengantisipasi kedatangan Topan Dolphin yang diprediksi menghantam daratan pada akhir pekan ini. Sekolah-sekolah dan sejumlah objek wisata di Provinsi Zhejiang ditutup sementara, sementara aktivitas pelayaran dan kapal pesiar dihentikan untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Berdasarkan data meteorologi, topan ini membawa angin dengan kecepatan maksimum sekitar 162 kilometer per jam, setara dengan badai kategori 2. Intensitasnya diperkirakan masih akan menguat saat mendekati pesisir, sehingga potensi gelombang tinggi dan hujan deras menjadi ancaman serius bagi wilayah pesisir yang padat penduduk.
Zhejiang dan bagian utara Fujian menjadi area yang paling berisiko, dengan perkiraan pendaratan topan terjadi pada Minggu malam. Shanghai, pusat ekonomi terbesar China, juga berada dalam lintasan badai. Pemerintah pusat telah menetapkan tanggap darurat level III, yakni tingkat kedua terendah dalam skala nasional, namun tetap mengindikasikan keseriusan ancaman ini.
Di Kota Ningbo, salah satu kota terbesar di Zhejiang, pemerintah setempat memerintahkan penutupan semua institusi pendidikan selama akhir pekan. Langkah serupa dilakukan di berbagai destinasi wisata, termasuk tempat-tempat rekreasi pantai yang biasanya ramai dikunjungi. Penutupan ini merupakan bagian dari protokol keselamatan yang ketat, mengingat pengalaman pahit badai sebelumnya yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material besar.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki relevansi tidak langsung namun signifikan. China adalah mitra dagang utama, dan gangguan operasional pelabuhan di Shanghai serta Ningboโdua hub logistik terbesar duniaโdapat berdampak pada rantai pasok global. Produk elektronik, tekstil, dan komponen manufaktur yang biasa diekspor dari kawasan tersebut berpotensi mengalami keterlambatan pengiriman, yang pada akhirnya bisa memengaruhi harga dan ketersediaan barang di pasar domestik Indonesia.
Para ahli meteorologi memperkirakan Topan Dolphin akan melemah setelah mendarat, namun curah hujan tinggi masih berpotensi memicu banjir bandang dan tanah longsor di daerah perbukitan. Pemerintah setempat telah menyiagakan tim penyelamat dan menyiapkan tempat evakuasi, sementara warga diimbau untuk tidak beraktivitas di luar rumah.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat kawasan industri dan pelabuhan dapat pulih setelah badai berlalu. Mengingat frekuensi badai tropis yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, ketahanan infrastruktur dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak ekonomi, baik bagi China maupun negara-negara yang bergantung padanya.



