Mengenang Ha Dinh Duc: Sang Penjaga Terakhir Kura-kura Legendaris Danau Hoan Kiem
Baca dalam 60 detik
- Ilmuwan Vietnam Ha Dinh Duc, yang mendedikasikan hidupnya pada penelitian kura-kura raksasa Danau Hoan Kiem, meninggal pada usia 86 tahun.
- Karyanya selama puluhan tahun menghasilkan data penting tentang spesies kritis dan meningkatkan kesadaran konservasi di Vietnam.
- Warisan Duc menjadi pengingat akan pentingnya keseimbangan antara pembangunan kota dan pelestarian ekosistem, relevan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Dunia konservasi kehilangan salah satu tokoh paling berdedikasi. Associate Professor Dr Ha Dinh Duc, biolog asal Vietnam yang menghabiskan lebih dari tiga dekade meneliti kura-kura raksasa terakhir di Danau Hoan Kiem, Hanoi, tutup usia pada Jumat, 7 Agustus 2026, di umur 86 tahun. Kepergiannya meninggalkan celah besar dalam upaya pelestarian spesies langka dan warisan budaya Vietnam.
Kabar duka ini disampaikan langsung oleh keluarga melalui media sosial. Sang putra, Ha Dinh Long, menulis bahwa ayahnya berpulang dengan tenang di tengah keluarga pada pukul 04.45 pagi. "Beliau menjalani hidup sederhana namun penuh makna," tulisnya, sebuah pengakuan yang selaras dengan reputasi Duc sebagai ilmuwan rendah hati yang mengabdikan diri pada alam.
Lahir pada 1940 di Provinsi Thanh Hoa, Duc merupakan salah satu mahasiswa angkatan pertama Fakultas Biologi di Universitas Umum Hanoi, yang kini dikenal sebagai Universitas Sains VNU. Setelah lulus, ia memilih mengabdi sebagai dosen dan peneliti di almamaternya hingga pensiun pada 2005. Selama lebih dari empat dekade, ia terlibat dalam berbagai proyek riset zoologi dan keanekaragaman hayati, bekerja sama dengan ilmuwan dalam dan luar negeri untuk mempelajari spesies langka seperti kouprey dan primata endemik Vietnam. Kontribusinya turut memperkuat fondasi ilmiah bagi konservasi satwa di negara itu.
Di luar laboratorium, Duc dikenal sebagai advokat vokal bagi perlindungan ekosistem Danau Hoan Kiem. Ia berulang kali memperingatkan bahaya polusi air, degradasi habitat, dan urbanisasi yang cepat. Kekhawatirannya bukan tanpa dasar; danau yang menjadi ikon Hanoi ini terus menghadapi tekanan dari pembangunan kota. Ia menyelesaikan enam proyek riset tingkat negara tentang danau tersebut, menerbitkan ratusan artikel, dan membangun arsip berisi ribuan foto kura-kura legendaris itu. Tak heran, ia menjadi rujukan utama media domestik dan internasional setiap kali kura-kura Hoan Kiem menjadi sorotan.
Kepedulian Duc tidak berhenti pada satwa. Ia juga gigih memperjuangkan pelestarian warisan budaya dan sejarah Hanoi, termasuk mengusulkan berbagai inisiatif untuk menjaga landmark bersejarah dan meningkatkan apresiasi publik terhadap warisan Thang Long-Hanoi. Atas jasanya, ia menerima penghargaan bergengsi, termasuk gelar Guru Teladan pada 2010 dan Warga Teladan Hanoi pada 2012. Ia juga menjadi bagian dari tim yang dianugerahi penghargaan "Karya โ Demi Cinta Hanoi" dalam ajang Bui Xuan Phai, atas upaya mereka yang dinilai tepat waktu dan efektif dalam menyelamatkan serta merawat kura-kura Hoan Kiem, yang dijuluki "simbol suci hidup" ibu kota.
Kisah Ha Dinh Duc menawarkan pelajaran berharga bagi Indonesia. Di tengah laju pembangunan yang pesat, banyak danau dan ekosistem di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan yang terancam oleh polusi dan alih fungsi lahan. Dedikasi Duc mengingatkan bahwa konservasi bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi juga butuh ilmuwan yang gigih dan masyarakat yang peduli. Pertanyaannya, siapa yang akan mengambil peran serupa di Indonesia? Saat kura-kura Hoan Kiem telah punah sejak 2016, warisan Duc menjadi pengingat bahwa kehilangan spesies adalah kehilangan yang abadi.



