Monyet Liar yang Melukai 18 Warga di Riau Akhirnya Tertangkap, Sekolah Mulai Buka Kembali
Baca dalam 60 detik
- Seekor monyet ekor panjang di Tembilahan, Riau, telah ditangkap setelah dua pekan meresahkan warga dan melukai 18 orang.
- Penutupan 40 sekolah dan pembelajaran daring selama tiga hari menjadi dampak langsung dari serangan yang menyasar anak-anak dan lansia.
- Pihak berwenang masih menyelidiki kemungkinan adanya monyet lain serta potensi penyakit yang dibawa hewan tersebut.

Petugas penangkap hewan di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, akhirnya mengamankan seekor monyet ekor panjang yang selama dua pekan terakhir membuat warga Tembilahan hidup dalam ketakutan. Hewan itu dilaporkan telah menyerang sedikitnya 18 orang, memicu penutupan puluhan sekolah dan kekhawatiran akan keselamatan warga.
Serangan yang terjadi secara acak ini menyasar korban yang sedang sendirian, termasuk anak-anak dan warga lanjut usia. Beberapa korban harus menerima belasan jahitan dan menjalani suntikan anti-rabies. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tembilahan, Junaidy Ismail, mencatat total 19 serangan dengan 18 korban, satu di antaranya menjadi sasaran dua kali.
Monyet tersebut akhirnya tertangkap pada Kamis lalu dalam perangkap yang dipasang di area permukiman. Video yang dirilis petugas menunjukkan hewan itu dalam kondisi stres di dalam kandang. Namun, kewaspadaan warga belum bisa sepenuhnya dilonggarkan. Pejabat setempat, Ari Syuria, mengingatkan bahwa monyet tersebut mungkin tidak bekerja sendirian. Kekhawatiran adanya kelompok monyet lain yang berpotensi menyerang masih menjadi perhatian utama.
Dampak sosial dari insiden ini cukup besar. Sebanyak 40 sekolah di Tembilahan masih ditutup hingga hari ini, dengan ratusan siswa dialihkan ke pembelajaran daring selama tiga hari. Pemerintah daerah berencana membuka kembali sekolah pada Senin jika situasi dinilai aman. Keputusan ini diambil untuk melindungi anak-anak dari risiko serangan serupa.
Monyet yang tertangkap kini telah dipindahkan ke Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, untuk menjalani tes darah dan observasi di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Ujang Holisudin, pejabat BKSDA, menyatakan pemeriksaan ini bertujuan memastikan apakah hewan tersebut membawa penyakit tertentu yang dapat menular ke manusia. Hasil tes ini penting untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Fenomena monyet liar yang menyerang manusia sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Puji Rianti, dosen biologi di IPB University, menjelaskan bahwa sebagian monyet telah belajar mengasosiasikan manusia dengan sumber makanan. "Mencari makanan di hutan itu sulit. Lebih mudah hidup di dekat manusia dengan mencuri," ujarnya. Ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa monyet tersebut adalah hewan peliharaan yang dilepasliarkan ke alam liar.
Kejadian ini menyoroti konflik yang semakin sering terjadi antara manusia dan satwa liar akibat menyempitnya habitat alami. Urbanisasi dan perluasan lahan perkebunan di Sumatra telah mendorong satwa seperti monyet untuk mencari makan di permukiman. Kondisi ini menuntut kesadaran warga untuk tidak memberi makan atau memancing kedekatan dengan satwa liar, serta pengelolaan lingkungan yang lebih bijak.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah penangkapan satu monyet cukup untuk mengakhiri teror ini, atau justru akan muncul serangan susulan dari kelompok lain. Pihak berwenang diimbau untuk terus memantau situasi dan melibatkan ahli satwa liar dalam penanganan jangka panjang, agar kejadian serupa tidak berulang di kemudian hari.



