Hispasat Pimpin Proyek Satelit IRIS2 Uni Eropa: Peluang Baru bagi Industri Antariksa Nasional
Baca dalam 60 detik
- Hispasat, anak usaha Indra, ditunjuk sebagai kontraktor utama untuk antena, sistem kontrol, dan tautan darat dalam jaringan satelit aman IRIS2 senilai โฌ15,6 miliar.
- Perusahaan juga akan memimpin lapisan orbit rendah bumi untuk konektivitas langsung ke perangkat dan IoT, dengan komitmen dana hingga โฌ600 juta.
- Keterlibatan Hispasat memperkuat posisi Eropa dalam keamanan siber dan komunikasi, sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Konsorsium SpaceRISE, yang beranggotakan Eutelsat, SES, dan Hispasat, resmi menunjuk Hispasat sebagai kontraktor utama untuk segmen antena, sistem kontrol, dan tautan darat dalam proyek IRIS2, jaringan satelit aman milik Uni Eropa. Keputusan ini diumumkan oleh Indra, perusahaan induk Hispasat yang berbasis di Spanyol, pada Jumat lalu. Nilai kontrak untuk bagian ini mencapai lebih dari โฌ1,6 miliar, menjadikannya salah satu komponen terbesar dalam inisiatif antariksa Eropa yang total investasinya mencapai โฌ15,6 miliar.
IRIS2 dirancang untuk menyediakan layanan komunikasi terenkripsi bagi pemerintah, militer, dan institusi sipil Uni Eropa, sekaligus mendukung konektivitas broadband di area terpencil. Proyek ini dijadwalkan beroperasi penuh pada 2030, dengan kontribusi pendanaan dari SpaceRISE sebesar โฌ4 miliar dan sisanya berasal dari anggaran Uni Eropa serta badan antariksa Eropa. Selain memimpin segmen darat, Hispasat juga akan mengelola lapisan orbit rendah bumi (LEO) untuk layanan langsung ke perangkat (direct-to-device) dan Internet of Things (IoT), dengan komitmen dana hingga โฌ600 juta.
Penunjukan ini tidak terlepas dari meningkatnya belanja militer Eropa yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Belanja pertahanan Uni Eropa diproyeksikan naik dari โฌ418 miliar pada tahun lalu menjadi โฌ454 miliar pada 2026. Indra, yang memiliki 89,68 persen saham Hispasat, diuntungkan oleh tren ini karena portofolio bisnisnya mencakup sistem pertahanan dan teknologi antariksa. Analis menilai bahwa peran Hispasat dalam IRIS2 akan memperkuat posisi Indra dalam rantai pasok industri pertahanan Eropa yang sedang berkembang pesat.
Bagi Indonesia, proyek IRIS2 menawarkan pelajaran penting tentang bagaimana negara dapat memanfaatkan kemitraan publik-swasta untuk membangun infrastruktur antariksa yang aman dan mandiri. Indonesia tengah mengembangkan program satelitnya sendiri, termasuk SATRIA-1 yang sudah beroperasi, namun masih bergantung pada teknologi asing untuk segmen tertentu. Kolaborasi dengan perusahaan seperti Hispasat atau konsorsium Eropa bisa menjadi pintu masuk bagi transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia di bidang antariksa.
Selain itu, keberhasilan IRIS2 dalam menyediakan konektivitas IoT dan direct-to-device dapat menjadi model bagi Indonesia dalam memperluas layanan internet ke daerah terpencil, terutama di sektor maritim dan pertanian. Pemerintah Indonesia telah menargetkan pemerataan akses digital, dan teknologi LEO yang dipakai IRIS2 menawarkan latensi rendah yang cocok untuk aplikasi real-time. Namun, tantangan regulasi dan investasi masih menjadi hambatan utama yang perlu diatasi.
Ke depan, proyek IRIS2 akan menjadi ujian bagi kemampuan Eropa dalam mengelola proyek antariksa berskala besar dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan. Pertanyaannya, apakah Indonesia dapat mengambil peran serupa dalam inisiatif regional seperti ASEAN? Dengan meningkatnya minat pada keamanan siber dan kedaulatan data, peluang untuk berkolaborasi dengan Eropa dalam proyek semacam ini layak dijajaki.



