Penangkapan Pertama di Vietnam: Tiga Pria Ditangkap atas Pembajakan Karya Jepang
Baca dalam 60 detik
- Polisi Hanoi menangkap tiga pria Vietnam yang diduga mengoperasikan situs dan aplikasi ilegal untuk streaming karya Jepang, sebuah kasus pidana pertama di negara itu.
- Salah satu situs yang dikelola telah mengakses lebih dari 90.000 kunjungan dan menayangkan sekitar 2.400 konten tanpa izin sejak Juni 2025.
- Para pelaku diduga meraup keuntungan hingga ยฅ2,56 juta dari aplikasi berbayar, dan kini situs serta aplikasi tersebut telah ditutup.

Polisi di Hanoi, Vietnam, menangkap tiga pria berusia 20-an yang diduga terlibat dalam pengoperasian situs dan aplikasi bajakan yang menyiarkan karya-karya Jepang tanpa izin. Penangkapan ini menandai kasus pidana pertama di Vietnam yang berkaitan dengan pembajakan konten Jepang, sebagaimana diungkapkan oleh Content Overseas Distribution Association (CODA) yang berbasis di Tokyo.
Menurut pernyataan CODA pada Jumat lalu, ketiga tersangka kini tengah diselidiki atas dugaan pelanggaran hak cipta. Kasus ini menjadi sorotan karena Vietnam selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah situs bajakan yang tinggi. Penegakan hukum yang tegas ini diharapkan menjadi preseden bagi kasus serupa di kawasan Asia Tenggara.
Dari hasil penyelidikan, salah satu dari ketiga pria tersebut mengelola sebuah situs web yang telah menayangkan sekitar 2.400 karya dari berbagai negara tanpa izin. Situs ini mencatat lebih dari 90.000 kunjungan sejak Juni 2025. Konten yang disediakan meliputi anime, film, dan drama televisi Jepang, lengkap dengan subtitle Vietnam serta fitur lainnya. Sementara itu, dua tersangka lainnya mengoperasikan aplikasi yang menerapkan sistem pembayaran untuk sebagian konten, dengan perkiraan keuntungan mencapai ยฅ2,56 juta atau sekitar Rp280 juta.
CODA dan perusahaan produksi Jepang telah bekerja sama dengan otoritas Vietnam sejak Mei lalu, terutama dalam memverifikasi hak atas karya-karya yang dilanggar. Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memberantas pembajakan di kawasan Asia, di mana konten digital semakin mudah diakses namun juga rawan disalahgunakan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan hak cipta di era digital. Indonesia sendiri memiliki tantangan serupa dengan maraknya situs streaming ilegal yang merugikan industri kreatif. Penindakan di Vietnam bisa menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara asosiasi industri dan aparat penegak hukum dapat membuahkan hasil nyata.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia, akan mengikuti jejak Vietnam dalam menindak tegas pelaku pembajakan. Dengan semakin canggihnya teknologi, tantangan untuk melindungi karya kreatif memang semakin kompleks, namun kasus ini membuktikan bahwa penegakan hukum tetap mungkin dilakukan.



