Morgan Freeman di Ambang 90 Tahun: Pensiun Bukan Bagian dari Rencana Sang Legenda
Baca dalam 60 detik
- Aktor peraih Oscar itu menegaskan komitmennya untuk terus berakting meski usianya menginjak 90 tahun pada Juni 2027.
- Dalam wawancara dengan New York Times, Freeman mengungkapkan kriteria praktis dalam memilih proyek, termasuk soal bayaran.
- Serial terbarunya, Lioness musim ketiga, dijadwalkan tayang perdana pada 2 Agustus, menandai kelanjutan kariernya di industri hiburan.

Morgan Freeman, aktor legendaris peraih Oscar, menegaskan bahwa usia bukanlah halangan untuk terus berkarya. Di ambang ulang tahunnya yang ke-90 pada Juni 2027, ia menyatakan tidak memiliki niat untuk pensiun dari dunia akting. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan New York Times, sekaligus meredam spekulasi tentang akhir karier sang bintang.
Freeman, yang namanya melekat melalui peran-peran ikonik seperti dalam film "Million Dollar Baby" (2004), justru melihat usia sebagai berkah. "Saya seperti Clint Eastwood: jangan biarkan orang tua masuk," ujarnya sambil tersenyum. "Jika Anda masih bisa bangun dari tempat tidur dan tidak jatuh saat melakukannya, maka Anda harus menghitung berkah dan terus bergerak." Filosofi ini tampaknya menjadi pegangan hidupnya, di mana ia berkomitmen untuk bekerja selama masih ada tawaran peran.
Ketika ditanya tentang peran impian yang masih ingin dimainkan, Freeman dengan rendah hati menjawab, "Tidak ada. Saya sudah mendekati 90 tahun. Jadi, peran yang dulu saya impikan, sekarang akan dimainkan oleh Denzel Washington." Sikap ini menunjukkan kebijaksanaan seorang veteran yang memahami dinamika industri hiburan, di mana generasi baru selalu siap menggantikan.
Di balik layar, Freeman juga membuka tabir tentang cara uniknya memilih proyek. Menurutnya, pertimbangan utama bukan hanya kualitas naskah, tetapi juga faktor-faktor praktis. "Jika seseorang menawari Anda pekerjaan, sangat menyenangkan jika mereka juga memberikan naskah yang menarik, tetapi pada kenyataannya, ada dua atau tiga hal yang berperan," jelasnya. "Berapa bayarannya? Jika mereka membayar cukup, maka Anda akan mengabaikan beberapa kekurangan dalam naskah." Pandangan pragmatis ini mencerminkan realitas industri yang sering kali tidak ideal.
Meski demikian, untuk serial terbarunya, "Lioness" musim ketiga, Freeman mengaku terpikat oleh kualitas tulisan Taylor Sheridan, sang kreator. "Tulisannya lebih banyak berbicara tentang pengalaman manusia, tentang apa yang sebenarnya dialami orang secara emosional," katanya. "Anda bisa melihat itu di Yellowstone, dan juga di semua tulisannya." Serial thriller ini dijadwalkan tayang perdana pada 2 Agustus, menandai babak baru dalam karier panjangnya.
Karier Freeman yang membentang lebih dari lima dekade menjadi inspirasi bagi banyak aktor, termasuk di Indonesia. Di tengah industri perfilman Tanah Air yang terus berkembang, dedikasi Freeman mengingatkan bahwa usia bukanlah batas untuk berkarya. Para sineas senior Indonesia, seperti Christine Hakim atau Deddy Mizwar, juga menunjukkan semangat serupa, membuktikan bahwa pengalaman dan kedewasaan justru menjadi nilai tambah dalam berakting.
Pernyataan Freeman tentang pemilihan proyek yang pragmatis juga relevan dengan dinamika industri hiburan global, di mana aktor senior sering kali harus bernegosiasi antara idealisme dan tuntutan pasar. Namun, dengan rekam jejak yang gemilang, Freeman tetap menjadi sosok yang dihormati, baik oleh rekan sejawat maupun penggemar.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Freeman akan pensiun, melainkan peran apa lagi yang akan ia pilih untuk memperkaya warisan sinematiknya. Dengan semangat yang tak pernah padam, publik tentu menantikan karya-karya berikutnya, sembari berharap sang legenda terus diberi kesehatan dan kesempatan untuk berbagi cerita.



