Role Model Akhirnya Mengalah: Dakota Johnson Jadi Cameo di Album Barunya
Baca dalam 60 detik
- Role Model sempat ragu melibatkan kekasihnya, Dakota Johnson, dalam album terbaru demi menjaga privasi, namun akhirnya luluh karena suaranya dianggap pas.
- Album 'Chuck Timely and The Hourglass' menjadi media terapi baginya setelah putus dari Emma Chamberlain dan dua tahun menjomblo.
- Musisi 29 tahun itu juga mempertimbangkan untuk mengganti nama panggungnya yang kerap menuai komentar sinis di media sosial.

Musisi indie Tucker Pillsbury, yang dikenal dengan nama panggung Role Model, akhirnya mengalah dan mengajak kekasihnya, aktris Dakota Johnson, untuk menyumbangkan suara di album terbarunya. Keputusan ini sempat membuatnya gamang karena ia ingin menjaga kehidupan pribadi tetap di luar sorotan, tetapi hasil rekaman tersebut ternyata melampaui ekspektasi.
Dalam wawancara dengan Rolling Stone Studio, pelantun "Sally, When The Wine Runs Out" ini mengaku awalnya ragu ketika produser Mason Stoops mengusulkan nama Johnson untuk lagu "Love I You". Ia khawatir kolaborasi tersebut akan memicu perbincangan yang tidak perlu di media sosial. Namun, setelah mendengar rekaman uji coba, ia langsung berubah pikiran.
"Suaranya benar-benar pas di lagu itu," ujarnya. "Awalnya saya pikir lebih baik memisahkan urusan pribadi dan profesional, tapi begitu mencoba, hasilnya luar biasa. Ini membuat lagu itu terasa lebih spesial." Keputusan ini memang berisiko memancing spekulasi publik, tetapi Role Model menilai kehadiran Johnson justru menjadi nilai tambah artistik.
Album bertajuk Chuck Timely and The Hourglass ini dirilis sebagai bentuk terapi pribadi setelah ia mengalami perpisahan dengan influencer Emma Chamberlain pada 2023 dan menjalani dua tahun masa lajang. Ia mengakui bahwa album tersebut merekam fase depresif yang ia alami, dan ia memilih untuk menyembuhkan diri sebelum menjalin hubungan baru.
"Dua tahun adalah waktu yang panjang. Saya tidak tahu apa yang terbaik untuk diri saya sendiri. Apakah langsung melompat ke hubungan baru tanpa menyelesaikan masalah, atau menahan diri dan memperbaiki diri dulu? Saat itu tidak ada terapis yang membantu, jadi semua kebingungan itu tertuang dalam lagu-lagu," jelasnya.
Di sisi lain, Role Model juga mengungkapkan keinginannya untuk mengganti nama panggung yang selama ini kerap menjadi bahan ejekan. "Setiap kali nama saya muncul di Twitter, komentarnya selalu soal nama. 'Orang tua macam apa yang menamai anaknya Role Model?' Itu mengganggu. Saya pikir sudah terlalu telat, tapi mungkin saya akan menggantinya," katanya.
Fenomena ini mengingatkan pada musisi lain seperti Post Malone atau Lil Wayne yang juga menggunakan nama panggung unik. Namun, bagi Role Model, kritik tersebut terasa personal dan membuatnya mempertimbangkan untuk kembali menggunakan nama aslinya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah Role Model ini menarik karena menunjukkan bagaimana tekanan publik dan kehidupan pribadi dapat memengaruhi proses kreatif seorang seniman. Di era media sosial yang semakin transparan, keputusan untuk berbagi atau menyembunyikan hubungan asmara menjadi dilema yang kerap dihadapi publik figur. Langkah Role Model untuk tetap memasukkan kekasihnya dalam album bisa menjadi contoh bahwa kolaborasi personal justru dapat memperkaya karya, meski berisiko memicu gosip.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Role Model akan benar-benar mengganti nama panggungnya, dan bagaimana respons penggemar terhadap perubahan tersebut. Yang jelas, album ini menjadi tonggak baru dalam kariernya, baik secara personal maupun musikal.



