Este Haim: Pernikahan Bukan Akhir, Justru Awal dari Proses Pendekatan yang Tak Pernah Usai
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Haim, Este Haim, menegaskan bahwa pernikahan bukanlah garis finis, melainkan komitmen untuk terus saling mendekati dan memperbaiki hubungan.
- Ia mengaku menyesal tidak sempat menyerap momen pernikahannya dengan Jonathan Levin karena terlalu larut dalam kebahagiaan, dan kini menyarankan pasangan untuk hadir penuh di hari istimewa.
- Di balik kisah cintanya yang kini bahagia, Este pernah diputuskan mantan kekasih karena mengidap diabetes tipe 1, sebuah pengalaman pahit yang membentuk cara pandangnya tentang cinta sejati.

Tujuh bulan setelah mengikat janji dengan Jonathan Levin, pendiri sekaligus CEO Chainalysis, Este Haim justru punya pesan yang mungkin mengejutkan banyak orang: pernikahan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah proses panjang yang menuntut komitmen untuk terus saling mendekati. Bagi musisi 40 tahun yang juga basis dan vokalis trio pop-rock Haim ini, kunci hubungan yang sehat justru terletak pada kebiasaan kecil yang kerap dilupakan banyak pasangan: tetap berpacaran.
Dalam wawancara terbarunya dengan majalah PEOPLE, Este menggarisbawahi bahwa hubungan asmara, termasuk yang sudah berstatus suami-istri, memerlukan perawatan aktif. "Kita harus selalu berpacaran. Kita harus selalu berusaha membangun hubungan yang lebih baik," ujarnya. Baginya, hubungan adalah pekerjaan yang sering kali orang lupa. Pernyataan ini keluar dari pengalaman pribadinya bersama Levin, yang dinikahinya pada malam Tahun Baru 2025 di sebuah butik hotel di Ojai, California.
Este, yang membentuk Haim bersama adik-adiknya, Danielle (37) dan Alana (34), juga berbagi refleksi jujur tentang pernikahannya. Ia mengaku sempat kewalahan dengan kebahagiaan di hari pernikahannya sehingga lupa menyerap momen itu. "Aku menikmati pernikahanku, tapi aku berharap bisa berhenti sejenak dan menikmatinya. Aku tidak sempat melakukan itu," kenangnya. Nasihatnya bagi calon pengantin: habiskan waktu untuk bersenang-senang, karena orang-orang yang hadir di hari itu mungkin tidak akan pernah berkumpul lagi dalam satu ruangan yang sama.
Menariknya, Este mengaku kehidupan pernikahannya tidak banyak berubah. "Suamiku sangat mandiri, tapi saat bersama, kami selalu bersenang-senang. Jujur, tidak ada yang berbeda. Kami tetap melakukan hal yang sama. Kami saling mencintai dan bersenang-senang bersama," tuturnya. Ia bahkan bercanda bahwa ia selalu berkata, "Kita harus tetap berpacaran selamanya." Baginya, selama itu dilakukan, hubungan mereka akan baik-baik saja.
Namun, di balik kebahagiaannya kini, Este pernah mengalami pahitnya cinta. Dalam wawancara dengan GQ Inggris, ia mengungkapkan bahwa seorang mantan kekasih memutuskannya karena ia mengidap diabetes tipe 1. "Ada pria yang memutuskan hubungan denganku karena aku bilang ada kemungkinan anak kami akan terkena diabetes. Dia bilang, 'Kalau begitu, untuk apa kita bersama?' Aku hanya bisa terkejut," kenangnya. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa cinta sejati seharusnya tidak berhenti pada kondisi medis seseorang.
Kisah Este Haim ini relevan bagi banyak orang Indonesia yang mungkin masih menganggap pernikahan sebagai akhir dari proses pendekatan. Padahal, seperti yang ia tekankan, pernikahan justru menuntut usaha yang lebih besar untuk menjaga api cinta tetap menyala. Di tengah tingginya angka perceraian di Indonesia, pesan Este tentang pentingnya terus "berpacaran" dengan pasangan bisa menjadi pengingat bahwa hubungan yang langgeng membutuhkan komitmen aktif dari kedua belah pihak.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka: apakah pasangan di Indonesia, yang kerap dihadapkan pada tekanan sosial dan ekonomi, mampu menerapkan prinsip "selalu berpacaran" dalam pernikahan mereka? Atau justru, seperti Este, mereka perlu belajar dari pengalaman pahit untuk menemukan pasangan yang menerima mereka apa adanya?



