Eutelsat Optimistis Pendapatan Tumbuh, Saham Justru Tertekan Margin
Baca dalam 60 detik
- Eutelsat memproyeksikan pertumbuhan pendapatan tipis pada 2027 berkat ekspansi bisnis satelit LEO OneWeb, meski margin laba diprediksi stagnan.
- Saham Eutelsat merosot hingga 8 persen setelah margin laba tahun lalu di bawah estimasi analis, memicu kekhawatiran investor.
- CEO Eutelsat menilai valuasi perusahaannya terlalu rendah dibanding Starlink pasca IPO SpaceX, menyoroti ketergantungan Starlink pada kontrak pemerintah AS.

Eutelsat, operator satelit asal Prancis, memproyeksikan pertumbuhan pendapatan tipis pada tahun fiskal 2027 seiring ekspansi bisnis konektivitas satelit OneWeb yang mampu menutup penurunan di segmen lain. Namun, prospek margin laba yang lebih lemah dari perkiraan membuat harga saham perusahaan langsung tertekan hingga 8 persen pada Jumat (7/8).
Dalam laporan keuangan tahunan yang dirilis pekan ini, Eutelsat mencatat pendapatan setahun penuh naik 3 persen secara like-for-like menjadi 1,24 miliar euro (sekitar Rp21,6 triliun). Pertumbuhan itu ditopang lonjakan pendapatan segmen low-Earth orbit (LEO) sebesar 69,5 persen, yang kini berkontribusi seperempat dari total penjualan grup. Meski demikian, laba inti yang disesuaikan justru turun menjadi 632,4 juta euro, dengan margin laba menyusut ke 51,2 persen—di bawah rata-rata estimasi analis sebesar 52,4 persen.
Reaksi pasar langsung terlihat. Saham Eutelsat ambles 7 persen pada perdagangan pagi di bursa Eropa. Analis Bernstein, Aleksander Peterc, menilai panduan pendapatan yang lemah menjadi pemicu utama aksi jual, meskipun kuartal keempat perusahaan sebenarnya cukup kuat. “Fundamental jangka panjang tetap menarik, tetapi pasar butuh kepastian margin,” ujarnya.
Direktur Keuangan Eutelsat, Sebastien Rouge, menjelaskan kepada analis bahwa perusahaan masih berada dalam fase transisi di mana segmen LEO yang tumbuh pesat menghasilkan margin lebih rendah dibanding bisnis satelit geostasioner warisan. Hal ini wajar mengingat biaya peluncuran dan operasional konstelasi LEO yang masih tinggi.
Eutelsat merupakan satu-satunya operator jaringan satelit LEO global di luar Starlink milik Elon Musk. Posisi ini menjadi modal penting di tengah upaya Eropa mengurangi ketergantungan pada penyedia satelit asal Amerika Serikat. CEO Eutelsat, Jean-Francois Fallacher, bahkan menilai pasar saat ini undervalue terhadap perusahaan dibanding Starlink, terutama setelah SpaceX melantai di bursa saham pada Juni lalu.
“Jika melihat valuasi Starlink, kami yakin perusahaan ini undervalued, mengingat aset yang kami kelola dan operasikan,” kata Fallacher dalam konferensi dengan analis. Ia juga menyoroti bahwa pengungkapan SpaceX menunjukkan besarnya ketergantungan Starlink pada pendapatan dari pemerintah AS—sebuah fakta yang mengejutkan banyak pihak.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat pemerintah tengah gencar memperluas akses internet di daerah terpencil melalui satelit. Kehadiran pemain seperti Eutelsat dan Starlink menawarkan alternatif konektivitas yang dapat menekan biaya dan mempercepat transformasi digital nasional. Namun, ketergantungan pada operator asing juga memunculkan pertanyaan tentang kedaulatan data dan keamanan siber.
Ke depan, Eutelsat perlu membuktikan bahwa pertumbuhan LEO mampu diimbangi perbaikan margin. Pertanyaannya, akankah investor bersabar menunggu titik impas, atau justru beralih ke pemain lain yang lebih agresif? Jawabannya akan menentukan peta persaingan industri satelit global dalam beberapa tahun ke depan.



