Karol G Rilis Album Baru Setelah Setahun Menunda: 'Saya Tak Ingin Eksploitasi Kisah Pribadi'
Baca dalam 60 detik
- Album keenam Karol G, 'No Me Arrepiento de Sentir Tanto', akhirnya dirilis 7 Agustus setelah penundaan panjang demi menghormati privasi.
- Pelantun 'Tusa' ini mengaku sempat mengalami kekacauan emosional pasca perpisahan dan drama keluarga, hingga memutuskan jeda dan menulis di Hawaii.
- Keputusan ini menandai pergeseran industri musik: artis mulai menolak tekanan komersial demi kesehatan mental dan autentisitas.

Karol G akhirnya mengumumkan tanggal perilisan album studio keenamnya, No Me Arrepiento de Sentir Tanto, pada 7 Agustus mendatang. Keputusan ini diambil setelah penyanyi asal Kolombia itu menunda peluncuran selama berbulan-bulan, dengan alasan kuat: ia tidak ingin karya personalnya dianggap sebagai alat pemasaran yang mengeksploitasi kisah hidupnya.
Dalam wawancara eksklusif dengan Rolling Stone, pelantun "Tusa" ini mengungkapkan bahwa album sebenarnya telah rampung sejak lama. Namun, ia merasa belum siap membagikannya ke publik karena materi di dalamnya terlalu dekat dengan pergolakan batin yang dialaminya, termasuk perpisahan dan konflik keluarga. "Saya tidak ingin album ini terasa seperti bagian dari kampanye marketing. Ini sangat personal," ujarnya.
Keputusan Karol G untuk menunda perilisan justru datang di tengah puncak kariernya. Ia baru saja mencatat sejarah sebagai perempuan Latin pertama yang menjadi headline di festival Coachella. Namun, di balik sorotan panggung, ia mengaku mengalami kekacauan emosional yang nyaris membuatnya berhenti. "Saya memberi tahu tim saat minggu Grammy: 'Saya perlu berhenti.' Saya belum pernah berbicara sejujur itu sebelumnya," kenangnya.
Setelah pengakuan tersebut, Karol G memutuskan untuk menarik diri dari hiruk-pikuk industri. Ia terbang ke Hawaii dan tinggal di sana selama sekitar enam pekan. Di tengah ketenangan itu, ia mengisi waktu dengan menulis lirik, puisi, dan berbagai catatan pribadi. "Sebagai seniman, musik adalah katarsis. Saya tidak menyangka tulisan-tulisan itu akan menjadi album, tapi itulah yang terjadi," jelasnya.
Keputusan Karol G ini menegaskan tren baru di industri musik global, di mana para musisi mulai berani menolak tekanan komersial demi menjaga kesehatan mental. Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat di kalangan musisi independen yang kerap menunda rilis karya karena alasan serupa. Namun, tekanan dari label dan ekspektasi penggemar sering kali membuat mereka sulit mengambil jeda.
Menurut pengamat musik, langkah Karol G ini bisa menjadi preseden bagi artis lain untuk lebih terbuka tentang kondisi mental mereka. "Ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak harus dibayar dengan mengorbankan privasi. Publik justru semakin menghargai kejujuran," kata seorang analis industri musik yang enggan disebut namanya.
Bagi penggemar di Indonesia, album ini tentu dinanti. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana Karol G mendefinisikan ulang makna berkarya: bukan sekadar menghasilkan produk, melainkan menyampaikan pesan bahwa hidup adalah tentang merasakan, termasuk sakit dan bahagia. "Kalau kita membatasi diri untuk merasa, kita tidak akan benar-benar hidup," tegasnya.
Dengan perilisan yang tinggal menghitung hari, pertanyaan besarnya adalah: akankah album ini mampu menembus pasar Asia Tenggara seperti pendahulunya? Atau justru menjadi karya paling intim yang hanya dipahami segelintir penggemar? Yang jelas, Karol G telah membuktikan bahwa jeda bukanlah kemunduran, melainkan cara untuk kembali dengan lebih utuh.



