Daggerheart Ekspansi Hope & Fear: Perkins dan Crawford Hadirkan Reign of the Weredragon, Angkat Kisah Villain Tunggal ala Curse of Strahd
Baca dalam 60 detik
- Chris Perkins dan Jeremy Crawford, arsitek D&D 5e, resmi bergabung dengan Darrington Press dan menggarap ekspansi pertama Daggerheart, Hope & Fear.
- Ekspansi ini memperkenalkan empat campaign frame baru, termasuk Reign of the Weredragon yang terinspirasi Curse of Strahd dengan villain sentral Forlorne Lykona.
- Kolaborasi ini menandai pergeseran lanskap TTRPG, di mana Daggerheart berpotensi menantang dominasi D&D di pasar global, termasuk Indonesia.

Kejutan besar datang dari industri tabletop role-playing game (TTRPG). Dua perancang utama Dungeons & Dragons edisi kelima, Chris Perkins dan Jeremy Crawford, resmi meninggalkan Wizards of the Coast dan bergabung dengan Darrington Press, divisi penerbitan Critical Role. Keputusan ini diumumkan pada Juni 2025 dan langsung mengguncang komunitas penggemar. Keduanya kini terlibat dalam pengembangan ekspansi perdana Daggerheart, Hope & Fear, yang dirilis bulan lalu. Ekspansi ini tidak hanya menambah konten, tetapi juga membawa misi ambisius: merevolusi cara pemain berinteraksi dengan cerita fantasi.
Daggerheart, sistem TTRPG in-house Critical Role yang diluncurkan Mei 2025, langsung sold out dalam waktu singkat. Meski komunitasnya solid, game ini sengaja menghindari sorotan media arus utama—berbeda dengan D&D yang punya kekuatan promosi lintas platform. Namun, di balik kesederhanaannya, Daggerheart diam-diam menyusun strategi untuk mengubah lanskap TTRPG. Kehadiran Perkins dan Crawford menjadi sinyal serius bahwa Darrington Press tidak main-main.
Dalam wawancara video dengan Polygon, Perkins mengungkap bahwa ia dan Crawford bergabung di akhir siklus pengembangan Hope & Fear. "Kami langsung membantu mengisi celah yang ada, termasuk menulis salah satu campaign frame," ujarnya. Campaign frame sendiri adalah paket cerita siap pakai yang mencakup latar, tema, aturan, karakter, dan lokasi. Game Master (GM) dapat memilih frame dan mengembangkannya menjadi kampanye penuh. Hope & Fear menghadirkan empat frame baru, lebih dari 100 adversary, serta opsi karakter dan peralatan segar.
Salah satu frame yang paling menyita perhatian adalah Reign of the Weredragon. Perkins mengaku terinspirasi oleh Curse of Strahd, petualangan D&D terlaris yang mengusung villain tunggal karismatik. "Saya ingin membuat frame dengan villain sentral, dan Strahd adalah contoh sempurna," katanya. Namun, ide untuk menciptakan Forlorne Lykona—penyihir jahat penguasa Whelvia—datang dari Crawford, yang menggemari villain Disney seperti Maleficent. Forlorne punya kemampuan transformasi menjadi naga dan seperangkat kutukan mematikan.
Berbeda dari Curse of Strahd, di mana pemain berperan sebagai orang luar yang terjebak di Barovia, Reign of the Weredragon menempatkan pemain sebagai penduduk asli Whelvia. "Mereka memiliki kepentingan pribadi di tanah itu," jelas Crawford. "Selain itu, pemain turut membantu GM menciptakan villain melalui sesi nol." Proses kolaboratif ini terinspirasi dari game For the Queen karya Alex Roberts, yang juga diterbitkan Darrington Press. GM memilih sejumlah prompt dari 40 pertanyaan, lalu pemain menjawabnya untuk membangun kepribadian dan masa lalu Forlorne. "Ini menghubungkan pemain dengan dunia dan membuat mereka merasa sebagai narator," tambah Crawford.
"Kami ingin pemain tidak hanya bermain, tetapi juga menciptakan cerita bersama. Proses ini adalah inti dari Daggerheart." — Jeremy Crawford
Baik Perkins maupun Crawford sebelumnya dikenal sebagai arsitek di balik kesuksesan D&D 5e. Selama di Wizards of the Coast, mereka mengguncang formula adventure dengan produk seperti Curse of Strahd dan Rime of the Frostmaiden—petualangan besar yang sekaligus berfungsi sebagai setting. Kini, di Daggerheart, mereka membawa pendekatan serupa. "Ide untuk mengubah campaign frame menjadi adventure berukuran penuh sudah ada di benak kami," ungkap Perkins. "Tapi kami belum mengumumkan apa pun secara resmi."
Bagi penggemar di Indonesia, perkembangan ini menandai babak baru dalam industri TTRPG global. Daggerheart menawarkan alternatif yang lebih kolaboratif dan berpusat pada narasi, berbeda dengan D&D yang lebih terstruktur. Dengan hadirnya Perkins dan Crawford, kualitas produksi dan inovasi aturan diprediksi meningkat. Komunitas TTRPG Tanah Air, yang selama ini didominasi D&D, bisa mendapatkan angin segar. Namun, tantangan tetap ada: aksesibilitas buku fisik dan lokalisasi bahasa masih menjadi kendala utama.
Ke depan, Critical Role akan menayangkan miniseri actual play Reign of the Weredragon dengan Perkins sebagai GM. Ini akan menjadi ajang unjuk gigi pertama bagi frame tersebut. Pertanyaannya, akankah Daggerheart benar-benar mampu menggoyang dominasi D&D, atau justru menjadi niche yang kuat di kalangan penggemar setia? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Darrington Press jelas patut diperhitungkan.



