Anestesi Regional Makin Diminati, Pasien Bisa Pulang Lebih Cepat: Tren Bedah Modern di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Rumah sakit di Singapura mulai beralih dari anestesi umum ke regional untuk operasi tertentu, memangkas waktu rawat inap hingga setengah hari.
- Anestesi spinal dan blok saraf tepi menawarkan pemulihan lebih cepat, risiko efek samping lebih rendah, dan pasien bisa langsung beraktivitas beberapa jam pascaoperasi.
- Tren ini berpotensi diadopsi di Indonesia seiring meningkatnya kesadaran akan efisiensi layanan kesehatan dan kenyamanan pasien.

Operasi tulang belakang di Singapura kini tak selalu identik dengan 'tidur total'. Singapore General Hospital (SGH) mencatat sekitar 90 persen pasien bedah tulang belakang memilih anestesi regional—pasien tetap sadar selama prosedur—dan bisa pulang hanya delapan hingga sepuluh jam setelah operasi. Angka ini menjadi penanda pergeseran paradigma dalam dunia anestesiologi, di mana kesadaran pasien justru menjadi nilai tambah, bukan ketakutan.
Selama ini, anestesi umum (general anaesthesia/GA) dianggap sebagai pilihan utama untuk segala jenis operasi. Namun, para ahli dari Tan Tock Seng Hospital (TTSH) dan Changi General Hospital (CGH) menilai anestesi regional (regional anaesthesia/RA) lebih tepat untuk prosedur yang melibatkan area tubuh tertentu, seperti lengan, kaki, atau bagian bawah tubuh. RA juga menjadi alternatif aman bagi pasien dengan kondisi medis yang meningkatkan risiko komplikasi GA, seperti penyakit jantung atau paru-paru kronis.
Perbedaan mendasar antara GA dan RA terletak pada cara kerja dan dampaknya. GA bekerja dengan menekan aktivitas listrik otak secara menyeluruh, membuat pasien tidak sadar dan tidak merasakan sakit. Sementara RA hanya memblokir sinyal nyeri dari area yang dioperasi ke otak, sehingga pasien tetap sadar namun tidak merasakan sakit. Menurut Dr. Fong Wee Kim, kepala departemen anestesiologi TTSH, RA bahkan memberikan kontrol nyeri pascaoperasi yang lebih baik dan mengurangi efek samping seperti mual dan muntah.
Fenomena ini juga membawa implikasi lingkungan yang menarik. Gas anestesi seperti desflurane diketahui memiliki potensi pemanasan global 20 kali lebih besar daripada sevoflurane. CGH bahkan telah menghapus total penggunaan desflurane dan beralih ke propofol serta sevoflurane. Langkah ini sejalan dengan upaya global mengurangi jejak karbon sektor kesehatan, yang di Indonesia juga mulai digaungkan oleh beberapa rumah sakit rujukan.
Di Indonesia, tren anestesi regional sebenarnya sudah mulai berkembang, terutama di rumah sakit besar di Jakarta dan Surabaya. Namun, adopsinya masih terbatas pada operasi ortopedi dan kebidanan. Menurut Dr. Reuben Soh, direktur bedah tulang belakang SGH, perluasan penggunaan RA untuk kasus yang lebih kompleks, seperti spondylolisthesis grade 1 dan 2, membuka peluang bagi rumah sakit di Indonesia untuk meniru praktik ini. "Kami telah memperluas cakupan untuk pasien dengan ketidakstabilan tulang belakang yang memerlukan fusi," ujarnya.
Meski demikian, tidak semua operasi bisa menggunakan RA. Operasi besar seperti bedah abdomen atau dada tetap memerlukan GA. Dr. Wong Wan Yi dari TTSH menegaskan bahwa prosedur kompleks seperti fusi tulang belakang bertingkat atau koreksi skoliosis masih mengandalkan GA karena durasi operasi yang panjang dan risiko perdarahan yang lebih tinggi. "GA tetap menjadi standar emas untuk kasus-kasus tersebut," katanya.
Bagi pasien, pilihan antara GA dan RA sebaiknya didiskusikan dengan ahli anestesi. Faktor seperti riwayat kesehatan, jenis operasi, dan tingkat kenyamanan pribadi sangat menentukan. Dr. He Yingke dari SGH mengungkapkan bahwa banyak pasien, terutama lansia, khawatir jika harus sadar selama operasi. Namun, dengan sedasi ringan, sebagian besar pasien justru bisa tertidur pulas. "Beberapa bahkan menyebut tidur selama operasi sebagai tidur terbaik yang pernah mereka alami," ujarnya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah anestesi regional akan diadopsi lebih luas di Indonesia, melainkan seberapa cepat rumah sakit dan tenaga medis di Tanah Air siap beradaptasi. Dengan tren efisiensi layanan dan kesadaran lingkungan yang meningkat, bukan tidak mungkin dalam lima tahun ke depan, operasi tulang belakang dengan pasien sadar menjadi pilihan umum di Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Namun, kesiapan infrastruktur dan pelatihan dokter spesialis anestesi menjadi kunci utama.



