Studi Temukan 24 Kombinasi Obat Picu 'Cascade' Berbahaya pada Lansia
Baca dalam 60 detik
- Penelitian di Ontario mengidentifikasi 24 rangkaian resep berpotensi tidak tepat yang sering terjadi pada lansia.
- Efek samping obat yang dikira penyakit baru memicu penambahan obat lain, memperbesar risiko dan biaya.
- Sistem peringatan berbasis teknologi dan peran apoteker dinilai krusial untuk memutus rantai ini.

Sebuah studi berskala besar di Ontario, Kanada, mengungkap 24 rangkaian peresepan obat yang berpotensi membahayakan pasien lanjut usia. Rangkaian ini terjadi ketika efek samping suatu obat disalahartikan sebagai penyakit baru, sehingga dokter meresepkan obat tambahan alih-alih mengevaluasi ulang obat awal. Temuan yang dipublikasikan di The BMJ ini menyoroti praktik yang oleh peneliti disebut potentially inappropriate prescribing cascades (PIPC).
Penelitian yang melibatkan data resep populasi dari ICES, lembaga data kesehatan Ontario, menganalisis 65 kandidat PIPC yang disusun bersama 12 pakar internasional. Dari jumlah itu, 24 di antaranya teridentifikasi cukup umum dan berpotensi menimbulkan kerugian. Beberapa rangkaian bahkan memengaruhi lebih dari satu dari sepuluh pasien yang memulai obat pertama. Temuan ini menegaskan bahwa masalahnya bukan sekadar jumlah obat yang diminum, melainkan apakah setiap obat memiliki indikasi jelas dan apakah gejala baru telah dievaluasi dengan tepat.
Menurut Joyce Li, peneliti dari Sinai Health Toronto, pengenalan cascade sering terlewat karena efek samping obat menyerupai kondisi medis baru. "Waktunya bervariasi, ada yang muncul dalam hitungan minggu, ada pula yang baru terlihat setelah beberapa bulan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa banyaknya kombinasi obat dan penggunaan jangka panjang pada lansia memperumit identifikasi dalam praktik rutin.
"Jika seseorang mulai minum obat tekanan darah, lalu pergelangan kakinya bengkak, pembengkakan itu diobati dengan diuretik tanpa meninjau ulang obat aslinya," jelas Dr. Kanwar Kelley, pakar yang tidak terlibat studi.
Kelley juga menyoroti fragmentasi layanan kesehatan yang memperparah situasi. Pasien sering berpindah dokter, dan tidak ada satu pun yang memiliki catatan lengkap. "Gejala yang sering diabaikan sebagai bagian dari penuaan—bengkak, sembelit, pusing, mual, dan sulit tidur—bisa jadi merupakan efek samping obat," tambahnya. Ia menekankan bahwa bahkan jika hanya sebagian kecil kasus yang nyata, total kerugian yang dapat dicegah tetap signifikan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi polifarmasi pada lansia di tanah air. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan sekitar 60% penduduk lanjut usia memiliki penyakit kronis ganda, yang meningkatkan konsumsi obat. Sayangnya, sistem rekam medis elektronik yang terintegrasi belum merata. Di banyak fasilitas kesehatan, riwayat pengobatan pasien masih tersebar di berbagai resep kertas, sehingga risiko cascade sulit terdeteksi. Apoteker di apotek komunitas sebenarnya bisa berperan sebagai penyaring, namun kewenangan klinis mereka masih terbatas.
Solusi yang ditawarkan peneliti mencakup pemanfaatan sistem pendukung keputusan klinis yang terhubung dengan rekam medis elektronik. Alat ini dapat memberi peringatan saat obat baru diresepkan untuk gejala yang mungkin efek samping obat sebelumnya. Li menyatakan bahwa temuan mereka menjadi dasar pengembangan perangkat semacam itu. Namun, Kelley mengingatkan pentingnya memprioritaskan peringatan agar tidak terjadi kelelahan alarm. "Tandai semua 65, dokter akan mengabaikannya; tandai 24 yang penting, barulah mereka baca," tegasnya.
Selain teknologi, keterlibatan apoteker dalam proses peresepan dan peninjauan obat dinilai krusial. Pasien juga didorong menyimpan daftar obat terkini, termasuk kapan dimulai, mengapa diresepkan, dan oleh siapa. Li menyarankan pasien bertanya: "Apakah semua obat ini masih diperlukan?" atau "Mungkinkah gejala baru ini efek samping obat yang sudah saya konsumsi?"
Ke depan, tantangan terbesarnya bukan hanya menyediakan alat, tetapi memastikan ada waktu dan kemauan untuk menindaklanjuti peringatan. Tanpa integrasi lintas fasilitas dan perubahan budaya kerja, cascade peresepan akan terus menjadi bahaya senyap bagi lansia. Mampukah sistem kesehatan Indonesia belajar dari temuan ini sebelum beban penyakit tidak menular semakin membengkak?



