Beasiswa ISD Singapura: Strategi Jangka Panjang Menarik Talenta Muda di Tengah Ancaman Radikalisasi
Baca dalam 60 detik
- ISD Singapura meluncurkan beasiswa tanpa ikatan dinas untuk pelajar, bertujuan meningkatkan pemahaman tentang bahaya radikalisasi dan membuka peluang karier di bidang keamanan.
- Para pengamat menilai inisiatif ini sebagai langkah cerdas bersaing dengan sektor swasta, dengan menyasar generasi yang mengutamakan tujuan dan makna dalam pekerjaan.
- Meski tidak menjamin rekrutmen langsung, beasiswa ini diharapkan menciptakan efek berantai di kalangan pelajar dan memperkuat upaya pencegahan radikalisasi sejak dini.

Singapura, melalui Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD), meluncurkan program beasiswa tanpa ikatan dinas bagi pelajar sekolah menengah atas dan politeknik. Langkah ini bukan sekadar menawarkan bantuan finansial, melainkan sebuah strategi jangka panjang untuk menanamkan kesadaran keamanan nasional dan menarik minat generasi muda terhadap profesi di bidang intelijen, di tengah meningkatnya ancaman radikalisasi di kalangan remaja.
Program yang dimulai Agustus tahun lalu ini memberikan dana sebesar S$2.500 (sekitar Rp29 juta) kepada sepuluh pelajar terpilih. Mereka menjalani program imersi selama dua hari pada Juni lalu untuk mengenal lebih dekat tugas-tugas ISD, yang selama ini jarang terekspos ke publik. Salah satu penerima beasiswa, pelajar berusia 17 tahun yang hanya disebut M M Chua, mengaku sebelumnya mengira ISD hanya menangani kasus terorisme. Setelah mengikuti program, ia menyadari bahwa lingkup kerja ISD jauh lebih luas, termasuk kontra-subversi dan kontra-spionase.
Langkah ISD ini dinilai sebagai respons atas meningkatnya kasus radikalisasi di kalangan anak muda Singapura. Pekan lalu, ISD mengumumkan penahanan tiga remaja yang terindikasi radikalisasi mandiri. Dua di antaranya bahkan berencana menyerang sekolah, dengan salah satu pelaku berusia 14 tahun membuat manifesto 21 halaman. Dalam satu dekade terakhir, lebih dari separuh dari 23 remaja yang ditangani berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) berniat melakukan serangan di dalam negeri.
Para pengamat menilai beasiswa ini memiliki dua tujuan utama: meningkatkan kesadaran tentang bahaya radikalisasi dan membangun koneksi dengan generasi muda yang semakin selektif dalam memilih pekerjaan. Dr Teo Kay Key, peneliti senior di Institute of Policy Studies, mengatakan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak anak muda mempertimbangkan stabilitas dan jenjang karier. Beasiswa tanpa ikatan ini memberi mereka kesempatan mengeksplorasi bidang yang biasanya tertutup tanpa merasa terikat.
Edmund Lin, konsultan utama Singapore Education Consulting Group, menambahkan bahwa persaingan untuk mendapatkan talenta berkualitas memang ketat. Sifat beasiswa yang tanpa ikatan dinas merupakan keputusan yang diperhitungkan untuk menarik individu yang benar-benar berminat mengabdi, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. Hal ini sejalan dengan kecenderungan generasi muda yang mencari pekerjaan dengan makna dan dampak sosial, meskipun pengakuan atas kontribusi mereka mungkin tidak selalu terlihat di permukaan.
Shahrany Hassan, pendiri organisasi nirlaba The Whitehatters, menyoroti pentingnya efek berantai dari beasiswa ini. Penerima beasiswa yang memahami tanda-tanda radikalisasi diharapkan dapat berbagi pengetahuan dengan teman sebaya. Dalam kasus remaja 14 tahun, seorang teman sekolahnya yang melihat perubahan perilaku justru melaporkan kepada pihak berwenang, yang digambarkan ISD sebagai "nyaris celaka" karena penangkapan terjadi beberapa minggu sebelum aksi.
Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa program imersi yang singkat mungkin tidak cukup untuk membekali peserta dengan keterampilan mendeteksi tanda-tanda radikalisasi secara menyeluruh. Dr Teo menekankan bahwa tujuan utamanya adalah menciptakan kesadaran, bukan melatih agen. Ia menambahkan, "Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kesadaran di antara peserta, dan semoga mereka menyebarkan pengetahuan ini kepada orang lain di sekitar mereka."
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat tantangan serupa dalam pencegahan radikalisasi di kalangan pelajar. Pendekatan yang mengedepankan edukasi dan keterlibatan generasi muda, seperti yang dilakukan ISD, bisa menjadi bahan pembelajaran bagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau lembaga terkait lainnya. Meskipun konteks dan kebijakan berbeda, prinsip membangun kesadaran sejak dini dan melibatkan teman sebaya sebagai agen perubahan adalah strategi yang dapat diadaptasi.
Ke depan, efektivitas beasiswa ini dalam menarik talenta ke ISD masih perlu diuji. Pertanyaannya, apakah program semacam ini cukup untuk mengubah persepsi generasi muda tentang pekerjaan di bidang keamanan yang identik dengan kerahasiaan dan risiko? Atau justru pendekatan tanpa ikatan ini akan membuat ISD kesulitan mempertahankan komitmen jangka panjang dari para penerima beasiswa? Waktu yang akan menjawab, namun yang jelas, ISD telah membuka pintu dialog dengan generasi muda, sebuah langkah yang patut diapresiasi.



