Trans-Kalimantan Menggoda Investor Asing: Rusia dan China Beri Sinyal Minat
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah membuka peluang pendanaan asing untuk proyek rel kereta Trans-Kalimantan, dengan Rusia dan China sebagai kandidat utama.
- Keputusan akhir tetap di tangan investor, sementara KAI diprioritaskan untuk menggarap segmen logistik Trans-Sumatra.
- Proyek ini menjadi ujian nyata bagi komitmen pemerintahan Prabowo dalam mempercepat konektivitas antarpulau.

Pemerintah Indonesia tengah menggoda investor global untuk membiayai proyek ambisius jalur kereta Trans-Kalimantan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengonfirmasi bahwa komunikasi awal dengan sejumlah negara, termasuk Rusia dan China, sudah berjalan, membuka peluang masuknya modal asing dalam salah satu proyek infrastruktur terbesar di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi presiden yang meminta Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk segera merealisasikan koneksi rel di Sumatra dan Kalimantan. Jika Trans-Sumatra tinggal menyambungkan segmen-segmen yang sudah ada, maka Trans-Kalimantan harus dimulai dari nolโsebuah pekerjaan raksasa yang membutuhkan dana dan teknologi tidak kecil.
"Kami sudah berkoordinasi dengan KAI yang telah menyiapkan peta jalan. Kami berharap ada investasi, baik domestik maupun asing, untuk menggarap kedua proyek ini," ujar Dudy di kompleks Istana Kepresidenan, Kamis malam (6/8). Ia menambahkan bahwa untuk Kalimantan, minat justru lebih besar datang dari Rusia dan China, sementara KAI lebih fokus pada pengembangan logistik di Sumatra.
Menariknya, keputusan untuk memulai proyek mana yang lebih dulu tidak sepenuhnya di tangan pemerintah. Dudy mengakui bahwa investorlah yang akan menilai kelayakan dan memilih proyek yang dianggap paling menarik. "Tergantung investor, mana yang menurut mereka lebih visible untuk digarap," katanya, sembari menyebut bahwa komunikasi dengan calon investor sudah berlangsung dan mereka tengah menghitung serta menyusun proposal.
Perintah presiden untuk membangun Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan disampaikan saat peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang bulan lalu. Saat itu, Prabowo secara gamblang menargetkan jalur kereta yang menghubungkan Bakauheni di Lampung hingga ujung utara Sumatra, dan berharap proyek Kalimantan bisa dimulai bersamaan. "Habis Trans Sumatra, nanti Trans Kalimantan. Kalau bisa bersamaan, kita mulai," tegasnya.
Bagi Indonesia, proyek ini bukan sekadar ambisi infrastruktur. Kehadiran investor asing seperti China dan Rusia membawa implikasi geopolitik dan ekonomi yang luas. Di satu sisi, pendanaan asing dapat mempercepat pembangunan yang selama ini terhambat oleh keterbatasan APBN. Di sisi lain, keterlibatan negara-negara besar tersebut akan mempengaruhi arah kebijakan luar negeri Indonesia, terutama dalam konteks persaingan pengaruh di kawasan Asia Tenggara.
Pengamat infrastruktur menilai bahwa minat Rusia dan China bukanlah kebetulan. Kedua negara memiliki rekam jejak dalam proyek kereta api di berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara. China, misalnya, telah sukses membangun kereta cepat Jakarta-Bandung, sementara Rusia memiliki teknologi perkeretaapian yang mumpuni. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan investor, yang akan mempertimbangkan aspek komersial, risiko politik, dan dukungan pemerintah.
"Komunikasi sudah, mereka sedang mencoba untuk menghitung, kemudian nanti menyampaikan proposal ke kami," kata Dudy, menggambarkan proses yang masih berjalan.
Pertanyaan besarnya adalah: apakah proyek Trans-Kalimantan akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat, atau akan tersendat seperti banyak proyek infrastruktur besar lainnya di Indonesia? Dengan investor yang masih menghitung, pemerintah perlu memastikan bahwa skema pendanaan, kepastian hukum, dan dukungan politik benar-benar solid. Jika tidak, ambisi menghubungkan pulau-pulau besar ini hanya akan menjadi wacana yang terus bergulir tanpa ujung.



