Harga Minyak Melonjak, Pasar Saham Global Terbelah di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Kekhawatiran larangan kapal AS-Israel melintasi Selat Hormuz mendorong Brent naik hampir 4% dan WTI 3%.
- Wall Street melemah karena harga minyak membebani sentimen, sementara pasar Eropa bervariasi.
- Saham teknologi Asia tertekan oleh kekhawatiran profitabilitas AI, dengan Seoul dan Tokyo memimpin penurunan.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Kamis (6/8), memperpanjang volatilitas yang sudah berlangsung pekan ini, setelah muncul laporan tentang kemungkinan kesepakatan yang melarang kapal-kapal AS dan Israel melintasi Selat Hormuz. Brent tercatat naik hampir empat persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat hampir tiga persen, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Lonjakan ini memangkas optimisme yang sempat terbangun awal pekan, ketika harga minyak justru merosot tajam. John Kilduff, mitra di Again Capital, menilai situasi di Selat Hormuz masih jauh dari selesai. "Pasar mulai mengambil kembali sebagian optimisme karena peluang resolusi masih tipis," ujarnya. Kekhawatiran utama adalah terganggunya pasokan minyak global jika jalur yang dilalui sekitar seperlima konsumsi dunia itu benar-benar ditutup bagi kapal-kapal negara tertentu.
Dampaknya langsung terasa di bursa saham Amerika Serikat. Dow Jones mundur dari rekor penutupan sebelumnya, sementara Nasdaq nyaris stagnan. Investor juga menahan napas menjelang rilis data ketenagakerjaan bulanan pemerintah AS pada Jumat (7/8), yang bisa menjadi sinyal arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Di Eropa, indeks utama bergerak campuran: FTSE 100 London melemah 0,2 persen, sedangkan Frankfurt dan Paris mencatat kenaikan tipis, meski gagal menembus level tertinggi baru.
Chris Beauchamp, analis pasar utama di IG, mengatakan kenaikan harga minyak memang menggerus optimisme, tetapi level saat ini masih jauh lebih rendah dibanding pekan lalu. "Itu memberikan angin segar saat kita memasuki pekan kedua Agustus," katanya. Namun, tekanan dari sektor energi justru membebani saham-saham yang sensitif terhadap biaya bahan baku.
Di sisi korporasi, raksasa minuman Diageo melonjak tujuh persen dan memimpin FTSE 100 setelah mengumumkan rencana pemangkasan biaya besar-besaran untuk membalikkan penurunan laba. Sementara itu, Siemens, raksasa industri Jerman, sempat jatuh lima persen di Frankfurt sebelum memangkas sebagian kerugiannya, setelah proyeksi labanya di bawah ekspektasi investor.
Di Asia, indeks berbasis teknologi tertekan oleh kekhawatiran atas profitabilitas investasi kecerdasan buatan (AI), menyusul kinerja keuangan yang mengecewakan dari SanDisk dan Western Digital. Saham teknologi sebenarnya sempat bangkit awal pekan setelah aksi jual sebulan terakhir yang memangkas miliaran dolar valuasi. Namun, Seoul menjadi yang terparah dengan penurunan lebih dari empat persen, dipimpin oleh anjloknya SK hynix sepuluh persen dan Samsung yang kehilangan enam persen. Nikkei Tokyo juga melemah hampir satu persen, dengan Kioxia turun lebih dari sepuluh persen dan Tokyo Electron lebih dari lima persen. Hong Kong, Wellington, Manila, dan Taipei ikut terkoreksi, sementara Shanghai, Sydney, dan Singapura berhasil menguat.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi ganda. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak dapat menekan anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Namun, di sisi lain, penguatan harga komoditas energi bisa meningkatkan pendapatan ekspor jika Indonesia mampu memanfaatkan peluang dari sektor migas. Pasar saham domestik, yang cenderung lebih bergantung pada sektor komoditas dan konsumen, mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh aksi jual teknologi global, tetapi tetap perlu mewaspadai dampak tidak langsung melalui arus modal asing.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data tenaga kerja AS dan perkembangan diplomasi di Selat Hormuz. Jika ketegangan mereda, harga minyak berpotensi turun kembali, memberikan ruang bagi pemulihan ekonomi global. Namun, jika situasi memburuk, lonjakan harga energi bisa memicu gelombang inflasi baru dan mengubah arah kebijakan moneter di berbagai negara. Pertanyaannya, akankah para pemimpin dunia mampu meredam konflik sebelum berdampak lebih luas pada perekonomian?



