Prabowo Buka Pintu Istana untuk 150 Periset BRIN: Sinyal Baru Arah Kebijakan Sains Nasional?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto untuk pertama kalinya mengundang lebih dari 150 peneliti BRIN ke Istana Kepresidenan, sebuah langkah simbolis yang menandakan perhatian serius pada riset dan inovasi.
- Pertemuan ini menjadi ajang bagi kepala negara untuk mendapatkan gambaran awal tentang capaian penelitian di bidang pangan, energi, lingkungan, dan teknologi, sekaligus menegaskan komitmennya pada pembangunan berbasis sains.
- Langkah ini dinilai sebagai sinyal positif bagi ekosistem riset nasional, namun tantangan ke depan adalah bagaimana temuan-temuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan produk yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan mengundang sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ke halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis sore. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah baru menempatkan riset dan inovasi sebagai prioritas dalam pembangunan nasional.
Dalam sambutannya, Prabowo mengakui bahwa ia sengaja menggelar pertemuan ini untuk mendapatkan gambaran awal, meski belum mendetail, tentang hasil-hasil penelitian yang telah dicapai BRIN. โSaya ingin melihat mungkin pertama kali tidak terlalu detail dan tidak terlalu komprehensif, tapi untuk mendapat gambaran hasil-hasil yang saudara-saudara telah capai di BRIN,โ ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi niatnya untuk menjadikan data dan fakta sebagai dasar pengambilan keputusan, sebuah pendekatan yang selama ini ia gaungkan.
Kehadiran sejumlah menteri kunci dalam pertemuan tersebut, seperti Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menunjukkan bahwa riset BRIN diharapkan mampu menjawab tantangan strategis di sektor-sektor tersebut. Fokus pada pangan, energi, lingkungan, dan teknologi sejalan dengan prioritas pemerintah untuk mencapai swasembada pangan, transisi energi, dan hilirisasi industri.
Prabowo juga menegaskan bahwa penguasaan sains dan teknologi adalah kunci kemajuan bangsa. Menurutnya, negara yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang lebih pesat. Ia pun menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul. Pernyataan ini bukan sekadar retorika; ia juga berencana mengunjungi kampus-kampus BRIN, termasuk yang sebelumnya merupakan LIPI di Cibinong, untuk melihat langsung kondisi dan kebutuhan para peneliti.
Di luar agenda resmi, pertemuan ini memiliki makna strategis bagi ekosistem riset Indonesia. Selama ini, BRIN sering dikritik karena birokrasi yang rumit dan anggaran yang terbatas. Dengan adanya perhatian langsung dari presiden, ada harapan bahwa alokasi anggaran riset akan meningkat dan proses birokrasi akan disederhanakan. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa dukungan politik saja tidak cukup; diperlukan reformasi kelembagaan yang serius agar hasil riset dapat diproduksi dan dikomersialkan.
Bagi Indonesia, langkah ini juga merupakan sinyal bagi investor dan mitra internasional. Dengan menunjukkan komitmen pada riset, pemerintah berharap dapat menarik investasi di bidang teknologi dan industri berbasis pengetahuan. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana mengubah temuan riset menjadi produk nyata yang dapat dinikmati masyarakat. Pertanyaannya, apakah pemerintah siap dengan kebijakan yang mendukung komersialisasi riset, seperti insentif pajak dan kemudahan perizinan?
Ke depan, publik akan menantikan tindak lanjut dari pertemuan ini. Apakah akan ada kebijakan konkret seperti peningkatan anggaran riset atau reformasi kelembagaan BRIN? Atau justru hanya menjadi seremoni belaka? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: para periset kini memiliki panggung untuk didengar langsung oleh pemimpin tertinggi.



