Prabowo Tinjau Langsung 15 Booth Riset BRIN di Istana: Dari Satelit Buatan Dalam Negeri hingga Potensi Uranium 89.000 Ton
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menghabiskan lebih dari satu jam menelusuri 15 booth riset unggulan BRIN di Istana Kepresidenan, menandai pertama kalinya 150 periset mempresentasikan karya mereka langsung di hadapan kepala negara.
- Pameran ini menyoroti kesiapan BRIN mendukung program prioritas seperti tanggul laut raksasa, Makan Bergizi Gratis, dan pembangkit listrik tenaga nuklir, dengan klaim kemampuan memurnikan uranium hingga 60 persen.
- Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat pemerintah untuk mendorong kemandirian teknologi nasional, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset dan investasi di sektor strategis.

Presiden Prabowo Subianto meluangkan waktu lebih dari satu jam untuk berkeliling di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/2), meninjau secara langsung 15 booth riset dan inovasi karya para periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Untuk pertama kalinya, lebih dari 150 peneliti dari berbagai daerah di Indonesia memamerkan hasil karya mereka langsung di hadapan kepala negara, sebuah langkah yang dianggap sebagai pengakuan nyata atas peran riset dalam pembangunan nasional.
Pameran yang digelar di lingkungan istana ini bukan sekadar etalase. Sebagian besar inovasi yang dipajang dirancang untuk mendukung program-program prioritas pemerintahan Prabowo, seperti pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall), Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, gentengisasi, pengolahan sampah, hingga kemandirian energi dan ketahanan pangan. Kehadiran langsung presiden di setiap booth menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi memandang riset sebagai aktivitas akademis semata, melainkan instrumen strategis untuk memecahkan masalah konkret di lapangan.
Salah satu booth yang paling menyita perhatian adalah Teknologi Kedirgantaraan dan Keantariksaan. Para peneliti BRIN memamerkan satelit pembawa kamera yang sepenuhnya dirakit di laboratorium mereka di Bogor, Jawa Barat. Perangkat ini telah digunakan untuk pemetaan, termasuk memetakan dampak bencana, sebuah kemampuan yang sangat relevan bagi Indonesia yang rawan gempa dan tsunami. Di booth Teknologi Nuklir, Presiden berhenti cukup lama dan berdialog dengan sejumlah menteri, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Para periset menyatakan kesiapan mereka mendukung rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), dengan mengungkapkan potensi uranium Indonesia mencapai 89.000 ton dan thorium 143.000 ton. Lebih dari itu, mereka mengklaim telah berhasil memurnikan uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen, sebuah capaian yang signifikan dalam penguasaan teknologi nuklir.
Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa pameran ini merupakan penanda kapasitas Indonesia untuk menjawab kebutuhan strategis bangsa secara mandiri. "Ini menunjukkan Indonesia memiliki kemampuan nyata di bidang pangan, energi, air, kesehatan, pertahanan, dan industrialisasi nasional," ujarnya. Pernyataan ini sejalan dengan upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, yang selama ini menjadi salah satu kelemahan struktural dalam pembangunan nasional.
Bagi kalangan industri dan investor, pameran ini membuka peluang kolaborasi yang lebih erat antara riset dan dunia usaha. Teknologi seperti tanggul tegak multifungsi yang menghasilkan listrik, pemecah gelombang yang telah dipasang di sejumlah pantai, serta inovasi pengolahan sampah menjadi energi, adalah contoh konkret yang siap diadopsi untuk proyek-proyek infrastruktur. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana membawa inovasi-inovasi ini dari skala laboratorium menuju produksi massal. Di sinilah peran swasta dan investasi asing menjadi krusial, terutama dalam hal pendanaan dan transfer teknologi.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu berinovasi, melainkan seberapa cepat inovasi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan dan proyek strategis nasional. Dengan komitmen politik yang ditunjukkan langsung oleh presiden, ada harapan bahwa riset tidak lagi menjadi anak tiri pembangunan. Namun, keberhasilan ini akan sangat bergantung pada konsistensi anggaran, perbaikan regulasi, dan kemauan birokrasi untuk mengadopsi teknologi baru. Apakah pameran di Istana ini akan menjadi titik balik bagi ekosistem riset Indonesia, atau hanya seremonial belaka? Waktu yang akan menjawab.



