Gunung Bromo Ditutup Total: Kebakaran Hutan Meluas, Ribuan Tiket Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Seluruh akses wisata ke Gunung Bromo ditutup sejak Sabtu malam menyusul kebakaran yang telah menghanguskan lebih dari 176 hektare lahan di Jawa Timur.
- Otoritas taman nasional memprioritaskan keselamatan pengunjung dan memudahkan operasi pemadaman, termasuk pengerahan dua helikopter pembawa air.
- Kebakaran serupa juga melanda Gunung Rinjani, mengindikasikan peningkatan risiko karhutla di kawasan konservasi Indonesia pada musim kemarau.

Pemerintah Indonesia melalui Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengambil langkah darurat dengan menutup seluruh gerbang masuk kawasan Gunung Bromo mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB. Penutupan ini dilakukan sebagai respons atas kebakaran hutan yang terus meluas di Kaldera Bromo, Jawa Timur, dan menyasar hingga ke wilayah Probolinggo serta Malang.
Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan wisatawan sekaligus memberi ruang gerak bagi petugas dalam memadamkan api. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa kebakaran yang telah berlangsung sejak Senin (3/8) tersebut telah menghanguskan area seluas 176,20 hektare. Titik panas masih terpantau hingga Sabtu malam, dengan asap yang masih membubung di sejumlah lokasi.
Penutupan ini berdampak pada lima gerbang utama, yaitu Cemorolawang di Probolinggo, Wonokitri di Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Malang, serta Senduro di Lumajang. Para calon pengunjung yang telah membeli tiket secara daring untuk periode penutupan diberikan dua opsi: menjadwalkan ulang kunjungan atau mengajukan pengembalian dana penuh. Kebijakan ini diharapkan dapat meminimalkan kerugian wisatawan yang telah merencanakan perjalanan ke destinasi ikonik tersebut.
Untuk mempercepat pemadaman, BNPB telah menerjunkan dua helikopter dengan kapasitas angkut masing-masing 1.000 liter air. Operasi udara ini difokuskan pada area yang sulit dijangkau tim darat. Sementara itu, tim gabungan dari TNBTS, BPBD, dan relawan terus melakukan pemantauan di tengah kondisi angin sedang yang berpotensi memperluas sebaran api.
Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Area Sembalun Resort seluas sekitar 30 hektare terbakar sejak Jumat (7/8) pukul 20.00 WITA, namun berhasil dijinakkan pada Sabtu dini hari pukul 01.30 WITA. Meski demikian, penyebab kebakaran di kedua taman nasional tersebut masih dalam penyelidikan.
Fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan konservasi Indonesia terhadap kebakaran, terutama saat musim kemarau. Aktivitas wisata yang padat, kelalaian pengunjung, dan faktor alam seperti sambaran petir kerap menjadi pemicu. Bagi industri pariwisata lokal, penutupan Bromo—yang merupakan salah satu destinasi super prioritas—berpotensi menekan pendapatan pelaku usaha di sekitar kawasan, mulai dari penginapan hingga jasa transportasi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana otoritas dapat menyeimbangkan upaya konservasi dengan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Apakah kebijakan penutupan total akan menjadi standar baru saat terjadi karhutla, atau justru mendorong penerapan sistem peringatan dini yang lebih ketat? Yang jelas, langkah tegas ini menunjukkan bahwa keselamatan pengunjung dan kelestarian alam tidak bisa ditawar.



