Insiden Nyaris Tabrakan di Bandara Sydney: Regulator Australia Buka Investigasi
Baca dalam 60 detik
- Sebuah pesawat Jetstar terpaksa mengerem mendadak di Bandara Sydney untuk menghindari tabrakan dengan Boeing 777 Qatar Airways yang sedang ditarik, melukai awak kabin.
- Badan Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) tengah mengumpulkan data dan meminta rekaman video dari saksi untuk mengungkap penyebab insiden yang mengganggu operasional bandara tersibuk di Australia itu.
- Insiden ini menyoroti risiko keselamatan di bandara padat dan memicu pertanyaan tentang kepatuhan prosedur darat, yang relevan bagi pengawasan bandara di Indonesia.

Sebuah insiden nyaris tabrakan antara dua pesawat komersial di Bandara Sydney pada Minggu pagi (9/8) memaksa otoritas keselamatan Australia membuka penyelidikan. Seorang awak kabin Jetstar dilaporkan cedera setelah pilot pesawat tersebut mengerem mendadak untuk menghindari tabrakan dengan Boeing 777 milik Qatar Airways yang tengah ditarik di landasan.
Menurut pernyataan Australian Transport Safety Bureau (ATSB), pesawat Jetstar Airbus A320 yang bersiap terbang menuju Gold Coast sedang melaju di taxiway ketika awaknya melihat pesawat Qatar Airways berada dalam jarak sangat dekat di persimpangan jalur. Situasi itu memaksa pilot Jetstar untuk mengerem keras, yang mengakibatkan cedera pada seorang pramugari yang sedang berjalan di kabin. Selain itu, sambungan antara roda depan Boeing 777 dan kendaraan penarik (tug) juga mengalami kerusakan akibat pengereman mendadak kedua pesawat.
Insiden ini langsung mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Sydney, bandara tersibuk di Australia. Airservices Australia, pengelola lalu lintas udara, mengonfirmasi adanya penundaan sejumlah penerbangan. Jetstar dalam pernyataannya menegaskan bahwa pilot mereka mengikuti instruksi pengatur lalu lintas udara, tetapi terpaksa mengerem karena pesawat lain berada terlalu dekat. Sementara itu, seorang pejabat yang tidak berwenang berbicara kepada media menyebutkan dugaan awal bahwa kendaraan penarik Qatar Airways tidak mematuhi instruksi pengatur lalu lintas udara.
ATSB kini tengah mengumpulkan data dari kedua pesawat, merekam percakapan pengatur lalu lintas udara, serta mewawancarai kru dan operator tug. Regulator juga meminta masyarakat yang berada di sekitar bandara untuk mengirimkan rekaman video insiden tersebut guna memperkuat investigasi. Qatar Airways sendiri belum memberikan tanggapan resmi hingga berita ini diturunkan.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya prosedur keselamatan di bandara padat, terutama yang melibatkan pergerakan pesawat di darat. Di Indonesia, bandara-bandara utama seperti Soekarno-Hatta juga memiliki tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi. Otoritas penerbangan sipil Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, memiliki regulasi ketat terkait pergerakan pesawat dan kendaraan darat. Namun, kejadian seperti ini menunjukkan bahwa risiko selalu ada, dan pengawasan serta pelatihan personel darat menjadi krusial.
Menurut pengamat penerbangan, insiden di Sydney menyoroti perlunya evaluasi berkelanjutan terhadap prosedur operasi darat, terutama di bandara dengan lalu lintas padat. Mereka menilai bahwa koordinasi antara pengatur lalu lintas udara, pilot, dan operator tug harus berjalan mulus untuk mencegah kejadian serupa. Di Indonesia, kasus seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan standar keselamatan, terutama di tengah pertumbuhan jumlah penumpang dan pergerakan pesawat yang terus meningkat.
Ke depan, hasil investigasi ATSB akan menjadi rujukan penting bagi industri penerbangan global, termasuk Indonesia. Apakah insiden ini akan memicu perubahan prosedur di bandara-bandara lain? Atau justru menjadi momentum untuk memperkuat pelatihan dan pengawasan di lapangan? Publik tentu berharap agar langkah konkret segera diambil untuk mencegah terulangnya kejadian nyaris celaka yang membahayakan nyawa ini.



